Selasa, April 22, 2014

Faktor yang Menentukan Kesuksesan saat Anda Kuliah


 


Dulu saya berpikir bahwa kuliah di mana saja itu sama, yang membedakan adalah kita sebagai lakonnya dengan dalih banyaknya mahasiswa dari perguruan tinggi terkemuka yang tidak begitu nampak kiprahnya. Namun sekarang saya menolak pendapat saya sendiri tersebut. Ternyata kedua-duanya berpengaruh besar baik individunya maupun lingkungan pendidikannya. Taruhlah contoh dua mahasiswa yang sama-sama super pemalas belajar di dua kampus yang berbeda, satu stain satu ugm misalnya. Walaupun keduanya sama-sama tidak mau mengikuti perkuliahan sama sekali, namun karena teman pergaulannya berbeda hasilnya tentu juga jauh berbeda. 

Kuliah di Stain mungkin anda akan bertemu dengan orang-orang dari kalangan menengah ke bawah otomatis apa yang mereka lakukan itu juga yang anda ketahui. Misal teman anda di Stain banyak yang mondok tentu anda juga akan mengetahui banyak mengenai dunia keagamaan. Kadang teman anda ngaji lalu anda juga ikut ngaji, temannya sholawatan andapun juga ikut sholawatan, bahkan hanya mendengar pembicaraan mereka anda juga bisa mendapat informasi lebih mengenai dunia mereka yang tentu tidak jauh dari urusan keagamaan. Sebaliknya, jangan berharap anda tahu lebih banyak soal agama jika anda kuliah di ugm karena ya mayoritas mahasiswanya bukan kalangan pesantren namun justru pergaulan bebas lebih mudah diambah di sana. 

Di stain anda mungkin juga tidak akan boros karena teman-teman anda bukan kalangan atas. Gadget, fashion, makanan semua biasa-biasa saja. Di ugm jangan kaget jika banyak teman-teman anda yang mempunyai barang mewah jadi harus pandai pandai ngempet. Ya bayangkan saja jika semua teman anda punya laptop sedangkan cuma anda sendiri yang tidak punya, semua sudah pakai android anda cuma pakai nokia hitam putih, berat tidak? Nah namun sebenarnya itu tergantung diri anda sendiri jika anda tipe orang yang selalu berpikiran positif dan punya pendirian kuat anda bisa memanfaatkan keadaan yang ada. Berhubung semua punya laptop jadi anda tidak perlu beli karena pinjam bisa dan mudah dilakukan. Anda setiap hari bisa mengendarai motor bagus walaupun sebenarnya tidak punya motor ^_^. Nah seperti yang saya katakan tadi individu dan lingkungan itu berpengaruh.

Namun kadang ada beberapa hal yang mutlak tidak bisa diperoleh selain di tempat tersebut. Jika anda punya banyak teman kalangan atas anda akan lebih mudah di esok harinya. Jadi yang saya maksud di sini adalah kampus terkemuka. Di ponorogo ada seorang lulusan ugm yang tinggal di wilayah pedesaan terpencil. Di ponorogo sekarang ia membuka sebuah toko komputer. Ceritanya dia dulu sewaktu kuliah kebetulan mendapat banyak relasi dunia komputer. Jadi dia banyak tahu mengenai di mana distributor yang murah dan terpercaya baik dari dalam maupun luar negri. Walaupun bukan dari jurusan informatika ia memberanikan diri membuka usaha tersebut. Itu sebuah contoh. Namun jangan terlalu berharap bisa seperti itu di Stain. Jangankan mendapat relasi luar negri pengetahuan mengenai ekspor impor saja mungkin anda juga tidak akan tahu karena hampir tidak ada teman anda di stain yang mengetahui hal tersebut. Nah dari sini kita tahu lingkungan juga punya pengaruh besar terhadap keberhasilan seseorang.

Jadi sebelum melihat kualitas kampus tinjau terlebih dahulu lingkungan dari kampus tersebut. Apakah sudah cocok untuk anda atau belum. Jika anda sangat khawatir mengenai pergaulan bebas tentunya anda harus berpikir panjang sebelum memutuskan kuliah di perguruan tinggi terkemuka. Apakah anda mampu untuk menahan godaan selama di sana? Apakah ada hal-hal yang bisa mendukung anda untuk menahan godaan tersebut? Namun jika anda punya hasrat tinggi untuk menjadi sukses anda juga harus berpikir lagi jika disuruh untuk mendaftar di stain. Apakah anda bisa sukses di sana? Apakah anda bisa mendapat relasi-relasi yang penting bagi kesuksesan anda? Saya tidak bisa menganjurkan mana yang lebih baik namun saya hany bisa menyarankan anda untuk meninjau kembali dunia anda sendiri, bagaimana kondisi keluarga anda (khususnya kondisi finansial), apa yang mereka harapkan (anak yang sholeh atau anak yang sukses) dan tinjau kembali kepribadian anda, lingkungan mana yang cocok dengan kepribadian anda. Jika anda orang yang tidak mudah terpengaruh oleh teman dan punya pendirian kuat maka banyak pilihan terbuka untuk anda.Ok segitu saja semoga bermanfaat ^_^ Belajar!

Senin, April 21, 2014

CS #1 Memarahi

Tadi salah seorang teman saya sewot karena ia dimarahi gara-gara pakai sendal ketika mau bimbingan skripsi.
 
"Mau bimbingan atau mau ke pasar mas kok pakai sandal!" Lalu dia dimarahi habis-habisan.

Dia sewot bukan main kemudian cerita ke temen-temen yang hingga akhirnya terbentuklah jam'iyyah rasan-rasan ngarep warung. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya dari kejadian ini.
Pertama, mengapa mahasiswa tersebut bisa sampai memakai sandal ke kampus?
Kedua, apakah menyalahkan dan memarahi mahasiswanya adalah tindakan yang tepat?

Untuk menjawab pertanyaan pertama bisa ditinjau dari kronologi pemikiran dari mahasiswa itu sendiri. Saya membuat asumsi bahwa jelas penyebab utama ia memakai sandal adalah sisi subjektif dari dirinya sendiri, baik itu karena malas, karena ego (maklum kadang mahasiswa juga masih labil dan berusaha eksis dengan berani menentang peraturan) dan yang kedua karena memang ia dari jurusan syariah yang tidak sedisiplin jurusan tarbiyah (kadang ada dosen yang membolehkan sandal di kelasnya). Dari alasan pertama yakni sisi subjektif, ini kembali pada kelemahan pihak pendidik sendiri karena mementingkan ego dari pada peraturan itu bukanlah ajaran di perkuliahan bahkan merupakan sesuatu yang ditentang jadi jika itu terjadi maka bukan tidak lain adalah karena pihak pendidik yang kurang mampu dalam menanamkan nilai-nilai ini terhadap mahasiswanya. "Ya tidak bisa menyalahkan pendidik sepenuhnya dong! kan faktor yang mempengaruhi psikologi siswa tidak hanya berasal dari perkuliahan" Ya benar tidak hanya dari perkuliahan tapi inilah beratnya tugas  menjadi seorang pendidik. Misal Ada peserta didik yang punya masalah di luar (seperti bekerja) sehingga tidak mampu menyelesaikan jadwal perkuliahan ataupun sekolah dengan benar apakah pendidik hanya diam saja. Tentu tidak. Kalau ia memang pendidik alias guru maka sudah seharusnya ia turut campur tangan namun jika ia menjadi pendidik hanya untuk bekerja ya itu beda lagi (mending ga sah jadi pendidik). Nah berhubung murid mbangkang karena ketidakmampuan pendidik sendiri saya rasa ini jelas bisa menjadi jawaban pertanyaan kedua: Sudah tepatkah jika ia menyalahkan mahasiswanya?

Mengenai menyalahkan dalam pendidikan itu merupakan pilihan terakhir dari beberapa solusi menghadapi kelakuan peserta didik. Karena menyalahkan dapat memicu ego dari murid sendiri. Daripada itu menyalahkan jarang bisa memberi solusi. Contohlah kata-kata di atas tadi "mau ke pasar atau mau bimbingan?" pertanyaan sindiran itu sama sekali tidak memberi jalan solusi. Apakah dengan disalahkan ia akan sadar? Kemungkinan besar justru malah ia jadi jengkel dan tambah susah diatur. Bukankah lebih baik jika ditegur dengan tegas dan diingatkan akan peraturan yang ada dan konsekuensi jika berani melanggarnya baik konsekuensi umum ataupun konsekuensi terhadap diri pribadi murid. Contoh: 

"Kenapa pakai sandal?! Sudah pernah dengar peraturan tidak boleh pakai sandal di kampus? Kenapa masih melanggar? Tahu tidak kalau dengan melanggar ini tidak hanya merugikan diri kamu sendiri tapi juga orang lain? Kalau kamu pakai sandal di sini pertama jelas kamu tidak akan dilayani. Kemudian, berani memakai sandal di sini berarti kamu memberi contoh yang tidak baik pada adik kelas. Kalau besok ada adik kelas mu yang berani pakai sandal itu juga karena ulahmu yang berani melanggar peraturan tadi. Kalau senior patuh sepenuhnya pada peraturan, insy tidak ada adik kelas yang berani melanggar peraturan. Dari melanggar peraturan satu kamu sudah memicu yang lain untuk melanggar peraturan yang lain. Membenahi sesuatu itu dimulai dari diri sendiri. Jika kamu ingin merubah kampus ini jadi lebih baik maka rubah diri kamu terlebih dahulu agar bisa menjadi contoh yang baik. Kalau kamu besok ingin jadi lebih baik, ingin jadi orang sukses maka saya anjurkan rubah kebiasaan-kebiasaan jelekmu karena orang-orang sukses itu adalah orang-orang yang selalu belajar dan memperbaiki dirinya sendiri. Jadi besok saya tidak mau melihat kamu pakai sandal lagi Paham! Ingat mulai dari diri sendiri"

Ini sekedar contoh namun anda tentu bisa menyampaikannya dengan lebih baik. Siapapun kebanyakan lebih peka terhadap apa yang menyangkut dengan dirinya sendiri jadi mengancam itu perlu menyangkutkan ancaman yang bisa menimpa murid itu sendiri agar ia lebih peka dengan apa yang disampaikan.

Minggu, Maret 23, 2014

Pernyataan Egois

Saya dan mungkin kalian juga sering mendengarkan perkataan seseorang. Kita berkata setiap hari saling mengirim dan menerima informasi lewat media bahasa yang tiap dari kita punya. Dan tidak jarang pula kita si pendengar terintimidasi oleh pernyataan yang dilontarkan. Namun terintimidasi oleh kata-kata bukanlah hal yang cocok dialami oleh para terdidik ^_^

"Ya biasanya 20jt perbulan" semisal ada wirausahawan kenalan anda dan berkata seperti itu. Itu bohong! itu bohong, bohong itu. Jangan percaya deh. Dan jangan terintimidasi! Dulu saya juga sering termakan perkataan seperti itu dan akibatnya saya sering minder dan tidak percaya diri karena merasa selalu lebih rendah dari orang lain. Namun ketika pengetahuan saya semakin bertambah Saya baru menyadari bahwa orang yang termakan perkataan adalah orang bodoh (Berarti Saya dulu masih bodoh -__-, namun sekarang dah pinter XD).

Saya mengatakan itu bohong bukan berarti sepenuhnya bohong hanya kemungkinan besar bohong. Karena Perkataan terlalu mudah untuk dimodifikasi agar menyampaikan apa yang melebihi kebenaran untuk memenuhi subjektifitas. Tiap manusia mempunyai egoisme yang mengarah untuk selalu ingin dianggap hebat. Maslow menyebut ini sebagai kebutuhan akan harga diri. Dan sekali lagi tiap orang memilikinya. Jika tiap dari kita bisa berkata dan juga punya egoisme lalu apa mungkin kata-kata kita bisa mengatakan apa adanya tanpa dipengaruhi oleh egoisme. Mungkin tapi kecil, dan tidak semua bisa melakukannya. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa 20jt itu adalah perkataan yang
sudah terpengaruhi oleh egoisme. Mari kita sebut ini sebagai pernyataan mentah (pernyataan mentah = 20jt).

Jika 20jt itu mentahnya lalu berapakah yang sebenarnya? Jika nilai sebenarnya adalah X Dan nilai mentah adalah Y, maka X + egoisme =Y maka X = Y - Egoisme (keren kan XD) Jadi nilai sebenarnya adalah jika kita mengurangi nilai mentah tadi dengan seberapa besar keegoisannya. Semakin besar keegoisannya dalam artian dia ini benar-benar pengen dianggap hebat maka semakin besar pula yang akan ia katakan pada anda. Tingkat keegoisan tersebut bisa anda lihat dari kebiasaaan orang tersebut. Apakah ia ini memang sering berbohong? Apakah orang ini sering membual? Anda bisa mencari informasi ini dengan melihat gelagatnya (jika anda pandai membaca bahasa tubuh) atau dengan menanyai orang-orang di sekitarnya. Contoh anda menanyai lebih dari 10 orang dan mereka semua mengatakan bahwa orang itu sering berbohong dan tidak dapat dipercaya makan besar kemungkinan bahwa apa yang ia katakan cuma bohong belaka alias 20jt itu hanya khayalan atau bahkan sebenarnya orang ini tidak pernah punya usaha apa-apa.

Ada pengalaman saya: Waktu itu ada seorang teman yang punya HP baru. Berhubung Saya sering tertarik dengan dunia teknologi maka Saya berbincang sedikit dengannya. Saya terkejut ketika ia mengatakan bahwa kemarin ia mendapat HP tersebut dari seorang teman seharga 800rb padahal harga pasaran setahu Saya masih 1300 (Intimidasi). Saya tidak percaya, itu kesimpulan awalnya dari beberapa dasar: pertama, Saya sudah lama bergelut di bidang HP namun belum pernah dapat barang semurah itu, kedua, Saya melihat orang ini sebagai orang yang punya egoisme tinggi terlihat dari cara ia berpakaian yang selalu kelihatan wah, dari pembicaraannya yang selalu menyinggung barang-barang mewah motor, hp dsb. dan juga dari rokok yang ia bawa, serta saya juga sering melihat update status nya yang bisa dibilang terlalu mencolok seakan-akan ingin dianggap wah. Jadi 800rb bisa disimpulkan bohong ;P Ternyata benar, sewaktu saya lihat lagi Hp tersebut lalu saya tinjau bagian Gallery di situ ada foto yang agak aneh; foto etalase dan beberapa dosbuk HP. Nah ketahuan deh -_- ini kan foto etalase konter, ngapain ada foto seperti ini jika HP ini tidak berasal dari konter. Dan konter tidak mungkin memberi harga segitu XD. Kena deh bo'ongnya.

Saya tidak habis pikir mengapa harus berbohong hanya untuk dianggap wah. Yah namanya anak muda -________-. Saya menyampaikan ini bukan untuk menganjurkan agar anda untuk menangkap sisi buruk dari orang lain namun memnag untuk berpikir bijak dan menilai dengan benar kita perlu menakar segala aspek baik yang baik maupun yang buruk. Terlebih lagi saya menekankan agar anda tidak mudah terintimidasi oleh kata-kata apalagi di jaman sekarang. Terintimidasi memberi akibat buruk pada pemikiran anda, anda akan kehilangan kepercayaan diri karena merasa selalu di bawah orang lain. Sedangkan percaya diri adalah modal dari segalanya. Jangan terintimidasi hanya karena anda berhadapan dengan mahasiswa luar negeri, jangan minder hanya karena anda tidak berpenghasilan lebih besar, jangan merendah hanya karena anda cuma pegawai dan ia bos. Semua belum tentu. Jika anda tahu dan banyak tahu anda akan mengerti bahwa pahala tukang Adzan itu lebih besar daripada Imam. Maka tidak ada alasan bagi tukang adzan untuk minder di hadapan Imam. Mengapa? jika anda tidak tahu maka iniliah alasan mengapa kita harus terus dan terus belajar. Belajar, belajar, belajar!

Minggu, Februari 09, 2014

Mengapa Harus Pakai Evercoss

     Tahun-tahun ini baik Evercoss, Advan dan produk lokal lainnya gencar memasarkan produknya, khusunya Android. Ini menunjukkan betapa mereka bersemangat dalam meningkatkan kualitas produk-produknya agar bisa bersaing dengan merk Internasional. Namun sayang, masyarakat kurang menanggapi semangat tersebut.

     Produk lokal seperti seperti Evercoss dan Advan bisa kita ibaratkan sebagai produk "dulure dewe". Namun sayangnya masih banyak di Indonesia yang tidak menyukai "dulure dewe". Mereka lebih memilih beli produk orang lain daripada produk "dulure dewe". Mungkin ada yang beralasan itu karena "dulure dewe" tidak serius dalam menggarap produknya yang memberi output produk-produk yang kurang berkualitas. Tapi, jika tidak ada yang membeli, apakah produk "dulure dewe" bisa berkualitas? Tentu tidak. Semua Enterpreneur  memulai usahanya dari Nol, dari produk yang belum berkualitas, karena adanya keterbatasan-keterbatasan seperti modal usaha dan lain-lain. Andai saja Saya ini menjadi Djanto Jojo, CEO Evercoss, Saya tentu punya mimpi untuk bisa memproduksi produk-produk yang berkualitas dan bisa bersaing dengan merk-merk ternama lainnya. Namun Saya belum mampu. Produk Saya belum laris di pasaran karena masyarakat masih lebih memilih produk luar daripada produk Saya. Andai saja masyarakat lebih memilih produk Saya, tentu Saya nanti akan lebih semangat untuk menghasilkan produk-produk yang lebih berkualitas. Di samping income saya menjadi lebih (hehe) Saya juga bisa memberi lapangan pekerjaan yang lebih pada masyarakat Indonesia. Bayangkan saja jika Indonesia punya perusahaan sekelas Samsung dan Apple, pasti keren! Kita tidak perlu mengandalkan barang-barang impor lagi karena kita sudah punya sendiri.

     Evercoss tidak merakit sendiri produknya. Mereka bekerja sama dengan perusahaan luar. Seperti Advan yang komponen elektronikanya berasal dari jerman, Samsung yang punya teknologi sendiri namun pabriknya ada tidak hanya di Korea namun juga di Vietnam dan Cina, dan juga seperti Apple yang mengambil Chip dari Samsung dan bekerjasama dengan Foxconn dari Taiwan dalam produksi. Namun bukan tidak mungkin jika nantinya Evercoss ataupun Advan bisa memproduksi sendiri di Indonesia. Forum XDA developer yang merupakan Forum Pengembangan OS Android dunia, tidak sedikit anggotanya yang berasal dari Indonesia. Pekerja yang berkualitas bukanlah masalah. Para mahasiswa yang berpotensi siap untuk dieksploitasi kecerdasannya untuk bisa  membuat produk sendiri. Semua hanya bergantung pada masyarakat yang mau mendukung atau tidak.

     Sekarang memang produk lokal belum bisa bersaing dengan merk dunia jadi wajar jika ada dari konsumen yang merasa kurang puas. Namun bukan berarti tidak mampu berkualitas tapi "belum berkualitas". Bagi saya pribadi, mereka yang terlalu fanatik memilih produk impor terlihat seperti orang bodoh atau egois. Bodoh dalam artian mereka tidak mengerti bahwa apa yang mereka lakukan telah menyebabkan banyak inflasi dan menurunya kesempatan perusahaan dalam negri untuk bisa maju. Egois, jika ternyata mereka sudah mengetahui dampak negatif dari barang impor namun tetap memilih produk luar negri. Pada 2012 Indonesia butuh 170 Triliun untuk bisa mengimbangi dampak negatif barang impor. Tindakan egois memilih barang Impor dan cuek terhadap dampak negatifnya jelas sangat tidak bijak. Lebih parah lagi mereka-mereka yang memilih Samsung hanya dengan alasan gengsi pakai Evercross.

     Saya bangga pakai Produk "dulure dewe", kalimat itu yang ingin Saya sampaikan. Dengan membeli produk lokal Saya merasa telah berbuat satu hal baik lagi. Lagian produk-produknya juga tidak terlalu parah. Bagi mereka yang masih ragu dengan produk lokal, silahkan coba dulu baru komentar. Tidak semuanya jelek. Saya pakai Evercoss A26B dan sangat puas. Andromax smartfren dan Advan juga pernah nyoba dan dari situ pula Saya menyimpulkan: "Oh ternyata lumayan, gak kalah sama merk luar". Mari hilangkan pandangan buruk pada merk lokal dengan memulai dari diri sendiri. Saya berharap dengan membelinya Saya bisa memberitahu secara tidak langsung pada teman-teman sekalian bahwa produk "dulur dewe" itu memang tidak pantas dianggap remeh. 

Mengapa harus membeli produk lokal? Karena demi Indonesia!

Sabtu, Januari 25, 2014

MIMPI DAN APRESIASI

       Tadi saya bikin status begini: "Sastra ga lebih seperti main game, nonton film, jalan-jalan. Wajar jadi nikmati saja" Lalu ada yang komen: "Sebagai penikmat mungkin saja anda bilang seperti itu. Saya secara pribadi sebagai penulis menganggap seperti main game tapi saya sendiri yang membuat karakter dan ceritanya, seperti meracik kopi dengan biji kopi sedunia dan... (lupa)". Ya maksud saya sih bukan merendahkan bang. Tapi ya bisa juga dibilang merendahkan tapi dalam konteks sosial. Merendahkan sedikit agar semua mampu meraihnya.

        Saya risih ketika tidak ada yang komen dan risih ketika ada teman yang bilang itu karena statusmu keduwuren. Saya hidup dan tinggal di desa berkumpul bersama mereka yang lelah akan pendidikan. Terlalu lama desa menjauh dari pendidikan muncul anggapan pendidikan sesuatu yang sulit diraih dan begitu juga hal-hal yang berkaitan dengannya. Sastra, bahasa Inggris, kata-kata ilmiah berubah menjadi sederetan tabu yang menjamur dalam benak masyarakat. Tak terbendung dan mencuatlah "keduwuren wong kuwi", "Halah-halah sinau barang!", "Byuh atek woconane ngunu wi" seakan-akan mengatakan: "Hal itu. Aku tidak mampu dan tak akan pernah mampu". Bukankah miris mengetahui sanak saudara kita sendiri berkata seperti itu. Memberi kesempatan pada keputus-asaan untuk menutup mimpi-mimpi mereka. Lebih jauh lagi banyak dari mereka yang berusaha menggapai pendidikan cuma untuk mendapatkan "wah" dari mereka yang tidak "wah". Belajar untuk mendapat nilai dan dinilai pintar, menulis untuk mendapat appresiasi basi, berkarya demi penghargaan murahan.Belajar untuk mendapat ilmu, menulis untuk berbagi rasa dan berkarya untuk memberi manfaat sesama, bukankah itu yang selalu diajarkan Nabi kita.

       Belajar bahasa Inggris bukan untuk kelihatan "wah". Puisi tidak untuk dianggap puitis. Belajar bahasa untuk memperlebar jangkauan kapasitas wawasan. Puisi untuk dinikmati bersama keindahannya. Penghargaan dan appresiasi "wah" bukanlah hadiah emas berkilau yang patut dipuja-puja melainkan cuma dampak hukum sebab-akibat fana dan mereka yang tulus berbagi dan membantu sesama sudah wajar dan layak untuk mendapatkannya. Sudah cukup kiranya bagi ia yang tulus bersungguh-sungguh melihat lain bisa tersenyum karena hasil kerja kerasnya. Steve Job pernah mengungkapkan, "lakukan dan tekunilah yang kau suka maka uang akan datang dengan sendirinya". Menekuni hobi dan berusaha menggunakannya untuk dimanfaatkan pada semua dan siapakah yang tidak berterima kasih pada yang telah membantunya? Semoga Ia selalu memberi jalan bagi mereka yang tulus dan ikhlas

Minggu, Januari 12, 2014

Lakukan yang terbaik Sobat!


     Hari ini teman saya bertanya perihal mengenai skripsi dan berhubung objek kajian kami tidak terlalu berbeda ia mengajak saya tuk bekerja sama dengan berbagi referensi. Lalu saya jawab dengan mudah: "Ya pikir-pikir lah, referensiku kan dah banyak ngapain bagi-bagi referensi? ha ha" tawaku lepas pertanda ku enggan. Namun sebenarnya ini bukan perihal mau atau tidak mau. Bukan bermaksud pelit bukan bermaksud sombong namun jika ditelaah lagi jika memang kami benar-benar saling membantu, ia membantu saya dan saya membantunya, apa yang kami peroleh? Itu yang saya maksud. 
 

       Berpikir panjang sebelum mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang dipunya guna mendapat keputusan yang lebih baik tentulah penting. Hasil jangka pendek dan jangka panjang perlu diperhatikan.Jika saya memberitahu bahwa saya setuju untuk berbagi referensi tentu dia, saya tidak terkecuali, akan merasa lebih tenang dalam artian mengandalkan pada orang lain daripada dirinya sendiri. Alhasil ia tidak menjadi serius dalam mencari referensi dan tidak serius dalam mengerjakan skripsinya. Ini hanya perbedaan antara kata-kata dan tindakan. Sudah pasti nanti saya akan membagi referensi denganya, tiada yang sulit dari hal itu lagian saya mendapat tambahan referensi darinya pula. Tapi kata-kata ibarat pedang. Dengan menolak secara kata-kata, bukan secara tindakan, kami berdua bisa mendapat hasil yang lebih baik, kami berdua lebih serius dalam mengerjakan skripsi karena tidak mengandalkan satu sama lain pula kami nantinya akan mendapat referensi lebih dengan berbagi referensi. Lalu bagaimana jika dia nantinya berpikir negatif terhadap saya? (Karena menolak tadi). Ya tidak masalah. Sekarang pilih hasil yang baik atau cuma dianggap sebagai orang baik? Kalau saya lebih pilih hasil yang lebih baik masa bodoh dengan persepsi orang terhadap saya. 


       Saya menyebut ini sebagai makna sebenarnya dari shodaqoh sirri. Shodaqoh sirri tidak hanya berupa menginfakkan harta secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang lain. Namun usaha kita dalam membantu orang lain tanpa membuat mereka menyadari bahwa kita telah membantu mereka juga merupakan shodaqoh sirri. Mereka menganggap pelit, sombong, mereka mengejek dan menggosipkan kita namun sebenarnya kitalah yang selama ini menolong mereka. Keren kan? Sangat keren memang! Ada cerita seorang teman dari teman yang punya adik sepupu yang ingin masuk pondok yang sama dengan dirinya. Namun ketika adiknya baru masuk pondok beberapa bulan ia keluar dari pondok tersebut. Sejak itu ia sangat jarang bertemu ataupun menjenguk adiknya di pondok. Orang tua adiknya tersebut , paman dan bibi si pemuda, lantas mulai menggerutu ketika tahu dia yang tidak mau memperhatikan anak mereka yang susah payah di pesantren. Pemuda tersebut sebenarnya bukannya tidak mau memperhatikan adiknya tapi ia mengerti bahwa ia harus melakukan hal tersebut. Adiknya harus bisa mandiri di pondok tanpa mengandalkan siapapun. Karena justru dari rasa takut karena menyadari bahwa dirinya itu sendirian dan tidak ada yang membantu, ia bisa merasakan susah senangnya di pesantren. Bagaimana rasanya kehabisan uang, bagaimana rasanya lapar, bagaimana rasanya belajar sendirian dan juga bagaimana ketika semua kesusahan itu terasa menyenangkan jika dilalui bersama-sama dengan teman-temannya di sampingnya. Dengan begitu si pemuda berharap bahwa adiknya bisa merasakan apa yang ia rasakan dulu, merasakan inti dari mondok di pesantren dan merasakan dengan betul bahwa mondok merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Tidak masalah orang lain berkata apa yang pemuda itu ingin hanyalah senyum dari adiknya nanti ketika keluar dari pesantren.


        Tidak perlu mempermasalahkan persepsi orang lain terhadap kita. You cannot please everyone, begitu kata mereka yang berpengalaman. Selama kita tahu itu yang terbaik maka lakukanlah. Biar orang berkata apa yang terpenting ada Satu yang selalu mengetahui apa-apa yang kita lakukan dan balasan dariNya adalah yang terbaik dari yang terbaik, yang paling diharapkan dari yang diharapkan. Belajar, belajar dan belajar!

Sabtu, Januari 11, 2014

Dapat apa dari kuliah?

       
        Suatu hari, ketika saya berada di kedai kopi (singkatnya: warung), ada seorang adik kelas saya dari  masa Aliyah dulu. Saya heran dan kaget  sewaktu melihatnya membawa laptop dan nampak enjoy dalam mengoperasikannya. Padahal dulu saya masih ingat betul kalau ini anak Gaptek banget, jangankan mengoperasikan, ketika hendak menyalakan atau mematikan saja ia selalu bertanya pada temannya. Jika diajak bicara persoalan teknologi ia selalu diam dan berkata; “Aku ni gak tahu apa-apa mas soal gituan, jadi jangan Tanya deh. Malah tambah bingung nanti” sambil tersenyum kecil, merendah. Tak lama berselang datang seorang teman. Sembari mengeluarkan laptop ia mulai mengajak berbicara. Saya pun masih mengamati pembicaraan dua arah yang berlangsung tersebut dan saya yakin pembicaraan mereka berdua pasti tidak lepas dari apa yang mereka bawa, laptop.

        Berkumpul bersama teman sebaya mengerjakan dan membahas sesuatu bersama adalah hal terpenting yang terkandung dalam unsur perkuliahan. Karena dengan itu kita dapat selalu saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Seorang yang tidak tahu A namun ketika berkumpul bersama mereka yang tahu mengenai A berubah menjadi tahu A. Ini adalah proses pembelajaran kita di luar kelas. Kita, dalam arti mahasiswa kuliah yang, walaupun ada dari kita yang merasa tidak mendapat apa-apa dari apa yang kita pelajari sehari-hari di kelas. Sebenarnya tanpa kita sadari kita telah mendapatkan banyak hal dari luar kelas. Mungkin cerita tadi hanya sebatas pengoperasian laptop dan mungkin juga pembicaraan tersebut membahas masalah yang kurang krusial seperti main game, film baru, lagu terupdate, tapi justru itulah intinya. Walaupun sepele namun perihal sepele tersebut berhasil membawa kita ke arah yang lebih baik, dari tidak tahu menjadi tahu dan saling berbagi ilmu pengetahuan. Sekarang coba pikir, institusi mana yang tidak mengharuskan kemahiran dalam operasi komputer? Virtually no one! Hampir tidak ada! Semua lapangan pekerjaan di era ini mengharuskan kita mahir dalam menggunakan komputer. Kalaupun ada yang tidak mengharuskan setidaknya orang yang menguasai komputer lebih unggul daripada mereka yang tidak. Belum lagi adanya organisasi dan forum-forum di dunia perkuliahan. Tentu dengannya, jika kita mau mengikuti dan mengambil manfaat darinya, kita punya kesempatan untuk mendapat pengalaman lebih dan lebih. Di sebuah kedai kopi saja kita bisa mendapat ilmu yang sangat bermanfaat apalagi di UKM STAIN, di forum-forum diskusi, tentu lebih lagi apa-apa yang bisa diperoleh.

      Kita kelak tidak mungkin menjadi orang yang sama. Tidaklah logis jika semua wisudawan jurusan tarbiyah nanti kesemuanya menjadi seorang yang berprofesi sebagai pendidik. Karena pada dasarnya mereka semua memang berbeda. Untuk itu kita perlu memburu kompetensi-kompetensi lain yang dapat menunjang karir kita nanti. Kondisi ini, di mana pemuda sebaya dapat berkumpul dan sharing bersama, hanya terdapat di dunia perkuliahan. Sewaktu kita terjun kembali ke masyarakat kelak belum tentu bisa mendapat kesempatan yang sama. Jangan siakan kesempatan ini. Walaupun tidak mahir dalam mengambil pelajaran di kelas tapi setidaknya kita harus mampu mengambil pelajaran lain di luar kelas. Belajar, belajar, belajar!

____L3

Membaca?? Ada caranya




      Punya masalah dengan membaca? Sering bosan atau mengantuk sewaktu membaca? (atau bahkan ketiduran) Itu wajar! Karena membaca bukan hal yang bisa dipaksakan. Coba lihat. Bukankah makan sayur itu penting? tapi apa kita mau makan sayur mentah-mentah? Tentu tidak. Kita masak terlebih dahulu sang Sayur baru kemudian bisa dikonsumsi. Bahkan tidak sedikit juga yang hanya mau makan sayur jika dimasak dicampur dengan yang lain seperti sayur dalam mie ayam atau yang lainnya. Membaca, atau aktivitas lain yang tidak kalian suka juga kurang lebih seperti itu. Ada dari mereka yang betah membaca hanya pada saat sepi, ada juga yang suka membaca sambil mendengarkan musik, bahkan ada juga yang lebih suka membaca ebook lewat notebook daripada buku asli. Membaca harus dimodifikasi dan disesuaikan dengan selera agar kita bisa betah melakukannya. Dan yang bisa menjawab selera tersebut ya... hanya diri individu kita masing-masing.

       Budaya membaca mempunyai banyak faktor yang mempengaruhi. Tempat, waktu, objek yang dibaca, tipe bacaan, semua punya bisa berpengaruh. Jika terus saja mengantuk jika membaca di kamar maka coba tempat yang lain; di taman, di teras, di kelas, atau bisa juga di warung. Kalau malam hari terasa berat untuk membaca coba di waktu sore jika masih tidak enak coba ketika habis makan atau waktu yang lain. Bagi perokok coba membaca dengan ditemani secangkir kopi dan rokok. Sebenarnya simpel, cukup sandingkan membaca dengan waktu, tempat, atau hal lain yang kita sukai.

       Berbagai karakter membaca timbul dari karakter tiap manusia yang berbeda-beda. Jujur saya tidak bisa jika disuruh membaca suatu buku dari awal hingga akhir sampai lunas. Saya lebih cenderung meloncat ke bagian yang menarik lalu menyebar ke bagian yang lainnya. Ada yang bilang ini merupakan tipe mambaca chef yang suka memilah-milah sesuai dengan selera. Ada juga tipe arkeolog yang suka membaca dengan perlahan dan teliti dari awal hingga akhir. Dan ada juga yang cukup lucu yakni tipe pembalap yang suka membaca cepat tanpa memperhatikan rambu-rambu(yang penting selesai mbuh paham mbuh ora). Tiada yang salah dengan cara membaca tersebut. Jika masing-masing dari kita mau mencari insy kita bisa menemukan cara yang tepat untuk membaca.

       Membacalah dari hal yang kecil dan kalian sukai. Ada cerita dari temannya teman saya  yang dulu hanya suka membaca komik dan tidak yang lain. Kemudian suatu ketika dia membaca suatu komik yang didalamnya sering membahas gangguan kejiwaan atau bisa disebut masalah psikologi. Dari sana ia mulai tertarik dengan psikologi dan sering melakukan browsing-browsing. Dan secara tidak sengaja ketika berkunjung ke bookfair ia menemukan sebuah buku mengenai psikologi dan langsung saja ia beli (wong jenenge seneng!). Dalam buku psikologi tersebut, ia menemukan seorang tokoh yang kutipan-kutipan kalimatnya fenomenal. Ternyata tokoh tersebut adalah seorang ahli linguistik (Ahli bahasa). Dengan menulusuri background tokoh tersebut ia menemukan sebuah garivitasi yang secara menarik, menariknya ke dalam dunia linguistik. Berawal dari hal tersebut ia mulai menyukai kuliah karena ternyata ia juga adalah seorang mahasiswa jurusan bahasa. Memang begitulah ilmu pengetahuan: semakin kita mengerti semakin kita haus untuk lebih mengerti dan itu akan terus merambat selama ia mau untuk terus belajar. Jangan mulai membaca dari hal yang tidak disukai karena itu hanya akan membuat kita semakin membenci membaca.

      Gimana? Maukah Anda sekarang membaca? sudah tau caranya to? Hilangkan persepsi buruk mengenai membaca. Pikirkan saja mengenai sayur tadi dan mulailah memasak. Jika punya anak besok ajari dia cara membaca yang benar. Lengkapi kebutuhan membacanya. Kasih meja khusus membaca, belikan buku-buku yang bisa menarik perhatiannya, tidak masalah walaupun itu cuma komik tapi dari komik arahkan ia untuk tertarik membaca yang lain. Membaca itu mudah asal kita tahu cara membaca dan mau untuk terus belajar.

Learn, learn and Learn