Kalau saya ya
pilih jadi kaya. Siapa coba yang mau jadi orang miskin. Sudah tidak punya uang, makan nggak enak banyak utang
pisan. Pasti nggak enak. Enaknya ya jadi orang kaya. Punya mobil mewah,
makannya enak-enak, pengen apapun bisa terpenuhi. Pengen baju bagus tinggal
beli di Mall. Kalau lagi males ke Mall browsing aja di internet dan bayar lewat
transfer rekening, tau tau besok barangnya dah nyampe di depa mata. Kalau nggak
punya uang boro-boro ke Mall ke pasar pun harus adu mulut dulu ma ibu-ibu penjual.
Dan terjadilah pertumpahan darah. Ironis.
Pokoknya jadi kaya itu menyenangkan.
Jadi orang miskin itu tidak enak, baik miskin sekali
ataupun miskin dalam kategori pas-pasan. Ingin beli barang baru tidak bisa.
Ingin liburan duitnya baru habis buat nyaur utang. Anaknya minta sepatu baru
namun hanya bisa menjanji-janji. Hiburan
mereka mungkin hanya tertawa. Ya, tertawa. Mereka sering tertawa bersama-sama.
“Nyoh rokok goblog”
“Goblog? Maksute??”
“Lha murahan og, haha, saking goblog e sampek gak iso tuku rokok”
“Pean mending pak iso tuku, lha aku rokok ae diwei ngene lo hahaha”
“Lha aku mau lo, leh nemu”
“CKAKAKAKAAK”
Guyonan ringan sepanjang waktu. Tidak di teras, di warung, di tempat kerja
selalu ada guyonan renyah mengiringi.
Orang pas-pasan juga suka memberi. Saling memberi
walaupun sama-sama tidak punya. Kalau sempat beli krupuk, beli lebih untuk
diberikan tetangga. Selalu datang di saat yang lain punya hajatan acara. Saling
menjenguk jika ada yang sakit. Walaupun tidak bisa memberi sesuatu yang berarti
setidaknya bisa membuat suasana dengan guyonan renyah. Para kaum pas-pasan ini
seperti punya cara tersendiri dalam menikmati hidup. Cara yang tidak pernah
diambah oleh para orang kaya atau bahkan memang tidak bisa. Guyonan apapun dari
orang kaya tidak pernah bisa serenyah guyonan sesama orang yang tidak punya yang
benar-benar menikmati hidup apa adanya. Setiap pagi setiap anggota keluarga
Kaum pas duduk duduk di kursi teras yang sekaligus area untuk tamu. Duduk-duduk
saling berbicang berbagi cerita bersama berapa seduhan teh tubruk. Satu gelas
untuk 5 orang dan beberapa batang rokok tentunya. Sore juga tidak begitu
berbeda. Duduk di teras sambil menyapa tetangga yang lewat. Hutang sebenarnya
tidak begitu jadi masalah soalnya yang dihutangi dulu juga salah satu bolo
ngopi sewaktu muda dan sekarang pun masih. Jadi bukan alasan untuk berpikir
keras dan stress karena hutang. Motor yang sering rusak pun sebenarnya tidak
begitu jadi masalah karena seakan-akan memang itulah bahan pembicaraan utama
sewaktu santai di teras. Walau sebenarnya tidak ada yang benar-benar paham akan
motor tapi yang pentinig berpikir bersama untuk mengatasi masalah salah seorang
anggota keluarga. Meskipun kerap jadi ejekan namun sebenarnya itu ejekan
guyonan renyah. Rumah yang kecil dan sempit tanpa mereka sadari telah menjadi
media pemernyatu keluarga. Pekerjaan yang tidak menentu meluangkan banyak waktu
mereka untuk bisa berkumpul dengan keluarga dan bersosialisasi dengan
masyarakat. Semua masalah yang ada secara tidak langsung telah menjadi jembatan
bagi mereka untuk saling bisa membantu dan memberi. Kelihatan seperti masalah
tapi sebenarnya anugrah.
Orang kaya menikmati hidup dengan bantuan
kekayaannya. Orang miskin punya cara sendiri dalam menikmati kehidupannya.
Kadang orang tak menyadari hal ini dan ingin pindah ke sisi yang berseberangan.
Padahal sebenarnya tiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam menikmati
hidupnya. Orang miskin tidak akan bisa menikmati hidup dengan segala kesibukan
orang kaya dan meninggalkan dunia sosialnya. Orang kaya bukanlah tipe yang suka
bersosialisasi jadi mereka hanya bisa menikmati hidup dari hartanya. Pilih mana
kaya atau miskin, itu tergantung pada cara mana yang anda pilih dalam menikmati
hidup.