Selasa, Mei 07, 2013

SITI ROHMAH



        Sibir mulai menyalakan computer pcnya. Tanpa ia sadari tangannya bergerak sendiri. Mungkin menulis bisa sedikit pencerahan pada hatinya yang gundah saat ini. 2 bulan sudah ia mengurusi pondok asuh ini. Pondok asuh, atau lebih banyak dikenal panti asuhan. Namun kata panti asuhan agak terdengar sedikit menggelitik di telinga lagian Ibu pengasuh juga pernah bilang kalau kata pondok asuh lebih pas ketimbang Panti Asuan eh asuhan. Tangannya Cuma terdiam ketika windows melewati booting dan mulai menampakan tampilan halaman desktop. CIA, tulisan besar beserta logo yang tampak di desktop seakan menhipnotisnya. Ia lupa apa yang hendak ia lakukan. lalu ia sedikit menengok ke samping layar monitor. Ada sebuah buku terkapar dengan halaman sampulnya yang tidak begitu tertutup dengan benar tapi ia masih bisa sedikit membaca judul depannya: EYL. Otaknya berfungsi seketika seperti saklar tersambung dengan listrik seakan memberi aliran energi. Sebenarnya Sibir lagi bingung memikirkan anak asuhnya. Beribu pertanyaan mengendap di kedalaman otaknya yang dalam seperti segumpal kotoran yang sangat menggangu dan ketika disapu debunya malah ke mana-mana. Sangat menjengkelkan.
        Sibir tidak begitu bisa mengingat dengan benar alasan apa yang membuat ia bisa sampai di Ponas (pondok asuh) ini. Ia hanya ingat 6 bulan yang lalu ia keluar dari pondok pesantren lalu diajak teman membantu sebuah percetakan yang ia urusi, mengingat Sibir memang punya sedikit bakat dalam mengolah gambar di komputer. Sibir belajar banyak dunia cetak-menyetak dari situ dan ia sangat mensyukurinya. Ia berkata dalam hati bahwa ia akan membuat percetakan yang besar di kampong halamannya nanti dan ia kasih nama SIBIR ADVERTISING. Ia tertawa terbahak-bahak. Tak berlangsung lama tawanya pun terhenti. Ia kembali memikirkan tentang karirnya di Ponas ini.  Sekarang kiprahnya sebagai pengurus lelaki satu-satunya yang menangani secara langsung para anak asuh seakan berada di ambang pintu. Telinganya berkali-kali mendengar bahwa atasan tidak begitu senang dengan cara yang ia terapkan; ada yang bilang Sibir terlalu keras dan ada yang bilang ia terlalu malas. Ya kalau malas itu memang tidak bisa dipungkiri tapi kalau keras, mungkin sedikit tergantung siapa yang diajak omong. Banyak yang harus dibenahi, Sibir menarik nafas dalam-dalam. Monitor tua itu semakin menyiksa penglihatannya. Ia berkedip berkali-kali. Diambilnya sebatang rokok dan bergegas keluar dari kamar. Kamarnya panas dan berantakan. Ini juga sepertinya harus dibenahi, masak bapak pengurus kamarnya kaya kapal pecah begini, pikirnya lirih dalam hati. Di balik pintu hanya terlihat halaman yang dikelilingi kamar-kamar dan juga teras depan yang dipisahkan dari halaman oleh garasi. Garasi atau seharusnya disebut ruang tamu karena dilihat dari segi manapun ruang ini terlihat lebih cocok jadi ruang tamu. Dari depan pintu kamarnya Sibir bisa mendengar suara TV. Ia bisa membayangkan mungkin sebagian dari anak-anak ada yang masih terjaga melihat TV dan mungkin ada juga yang sudah kembali ke kamar karena kelamaan nunggu acara TV kesayangannya atau lebih parah lagi kelamaan nunggu tapi ternyata hari ini bukan waktu show dari acara TV tersebut hehe. Pikiran Sibir melayang ke mana-mana. 
        Malam ini begitu pekat. Kaki-kakinya yang berbalut sandal jepit mengantarkannya ke depan teras. Di sini sangat sepi dan tenang, pikirnya lagi. Ia memandangi langit yang hitam malam itu dan bersyukur lagi karena masih bisa berada di tempat itu. Walaupun di sana ia menanggung beban yang berat sebagi pengasuh bagi anak-anak yatim piatu tapi Sibir tetap bersyukur karena masih bisa menanggung amanah besar dari tuhan. Ia hanya berpikir bahwa sesuatu yang besar tentu juga berat untuk memikulnya. Apa yang ia hadapi di sana adalah sebuah anugrah, sebuah kesempatan yang jarang dan sulit didapatkan. Apa pahala yang lebih besar ketimbang mengasuh anak kecil yang kekurangan kasih sayang? Di setiap doanya ia hanya meminta satu hal; agar diberi istri yang cantik eh agar ia dapat tetap berada di tempat itu bersama para anak-anak untuk waktu yang lebih lama. Masih banyak yang harus dibenahi. Wah ga sadar udah bedapat beberapa paragraf. Waktunya tidur ^___^

Jumat, Maret 29, 2013

Sepeda Motor

Coba anda lihat di sekitar anda, apakah ada motor? Pasti ada. Kendaraan roda dua ini sudah mewabah di negri hijau kita tercinta. Hampir setiap kalangan masyarakat memilikinya atau paling tidak ingin memilikinya. Ingin memiliki tanpa tahu betul apa yang dibawa oleh kendaraan tersebut.
     Melihat jalanan baik di kota maupun desa terasa sangat miris karena saking tidak karuannya. Belum pernah saya merasakan kenyamanan di jalan raya. Mobil atau kendaraan roda empat yang semacamnya cenderung lebih tertib di jalanan. Mungkin karena bentuk desainnya yang memang tidak luwes untuk digunakan. Namun motor itu ramping dan lincah jadi sangat mudah untuk digunakan di jalan raya. Jangankan jalan raya jalan sawah pun masih bisa digasak. Tanpa kita sadari dengan menggunakan motor di jalan telah mendiidik penggunanya untuk bertindak egois. Dengan kemampuannya yang lincah bukan hal yang sulit untuk menyelip (bingung apa bahasa indo dari nyalip) kendaraan lain. Lalu motor lain juga melakukan hal yang sama karena tidak terima ia dilewati. Semua saling menyelip.  Ini seperti persaingan kecil di jalanan.persaingan itu tak lebih dari tindakan mengutamakan diri sendiri dari pada yang lain. Motor yang kita kendarai tanpa disadari  telah mendidik moral kita untuk tidak bisa menghargai orang lain.
Walaupun saya tidak begitu paham dengan BBM tapi yang namanya BBM itu kan sumber alam yang tidak dapt diperbarui jadi pasti akan tiba saatnya nanti barang ini akan menjadi mahal dan suatu bangsa tidak seharusnya terlalu bergantung pada hal seperti ini. Apalagi kita bukanlah salah satu negara penghasil minyak.Ini namanya pemborosan. Pendapatan masyarakat kita belum cukup memadai kalau hanya untuk memberi minum kendaraannya. Alangkah bijaksana jika uang untuk BBM ini digunakan untuk kepentingan lain. Bukan hanya sekedar untuk kasih minum motor.
          Anak muda juga merupakan korban terburuk dari adanya motor. Adanya motor sangat menunjuakkan kalau bangsa ini benar-benar tidak begitu memperhatikan kaum remaja. Coba lihat ke mana para remaja biasa pergi dengan motornya; kampus, sekolah, bengkel, warung, rumah teman, rumah pacar, taman wisata, pantai, gunung, tempat belanja dan lain-lain. Lalu mana dari semua itu yang menurut anda dapat dipandang bermanfaat? Cuma kampus dan sekolah. Motor hanya memberi kesempatan kaum remaja untuk menghabiskan waktunya demi hal yang tidak berguna. Bayangkan jika tidak ada motor, pasti akan lebih mudah bagi para orang tua untuk memantau anak-anaknya karena perginya pasti tidak begitu jauh. Selain itu waktu mereka bisa digunakan untuk hal lain yang lebih berguna daripada sekedar dolan atau jalan-jalan; membantu orang tua, belajar, serawung dengan tetangga dan kerabat sanak saudara. Tidak jarang saya melihat anak dari beberapa keluarga yang jarang di rumah dan jarang berkumpul dengan keluarga. Sewaktu ada kerabat yang datang anaknya malah sedang sibuk bersama teman-temannya entah di mana. Anak muda seharusnya lebih sering meluangkan waktunya di rumah sendiri agar pendidikan keluarga dapat berjalan. Kalau anaknya sendiri saja jarang di rumah, bagaimana orangtuanya bisa mendidik dan memberi petuah pada anaknya. Lihat saja sekarang berapa anak muda yang tidak tahu nama pamannya, kakeknya, bibinya. Itu karena memang sangat jarang bergaul dengan keluarga sendiri. Lebih sering bersama teman dari pada keluarga. Motor merupakan salah satu yang mendukung adanya kekeliruan perilaku ini.
Beberapa orang sering menyalahkan mengapa proses pembuatan SIM C sangatlah sulit. Itu memang untuk meniminimalisir adanya pengguna kendaraan roda dua yang di samping mengotori jalan juga mendidik hal buruk pada para penggunanya. Tapi sekali lagi orang kita sendiri kurang begitu menyadari hal ini dan malah memanfaatkannya sebagai sarana mencari penghasilan. Pembuatan SIM ilegal. Kebijakan pemerintah sebenarnya sudah benar hanya saja kita banyak yang kurang pandai dalam memahami dan menyikapinya.
Saya membayangkan adanya kebijakan yang melarang adanya penggunaan motor, pasti jalanan akan lebih tertib dan anak muda bisa lebih mendapat perhatian. Anak muda tidak lagi menghabiskan waktunya untuk dolan dan tidak lagi menghabiskan uangnya untuk memodifikasi motor. Namun kebijakan ini tentunya harus disertai adanya tindakan pendukung seperti penyediaan transportasi umum yang lebih baik yang mampu mencukupi kebutuhan transportasi masyarakat. Yah ini hanya sekedar gamabaran kecil demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Jumat, Maret 22, 2013

Takdir dan perhitungan

     Takdir cinta. Dramatis amat. Maaf kalau memang saya termasuk tipe personal yang suka mendramatisir sesuatu. Ini memang dikarenakan para kaum hawa punya daya ketertarikan yang tinggi terhadap yang namanya takdir.
“Oh dari manakah tulang rusuk ini berasal, terkapar berdebu tiada arah di tanah entah berantah hanya demi sebuah penantian”
     Kata beberapa ahli, cewek memang suka akan sesuatu yang samar-samar dan tak terduga seperti takdir, jodoh, ramalan, cerita cinta dan lain lain lain lainnya. Ok kita sudahi dulu drama ini karena saya menulis ini bukan untuk ini dan itu namun untuk memberikan sepercik alternatif jawaban akan takdir khususnya bagi mereka yang sulit menerima takdir.
Dari beberapa segi takdir memang sulit untuk dinalar dan ditafsiri dengan logika. Takdir bilang bahwa segala gerak-gerik kehidupan ini sudah ada yang menentukan atau menggariskan dari awal. Pernyataan ini memberikan penafsiran bahwa manusia adalah mahluk yang kaku dan tidak mempunyai kehendak. Seorang liberalism pasti sulit menerima hal ini begitu juga mereka yang berpihak pada kebebasan dan menjustice keterikatan. Jika dipikir lagi pengertian takdir tersebut memang sulit untuk diterima. Bagaimana bisa segala gerak kita ini sudah ada yang menentukan jika pada kenyataannya tiap dari kita bisa bergerak, berpikir dan melakukan segala hal sesuai kehendak. Kita makan ini dan itu terserah kita dalam memilih lalu bagaimana bisa perilaku kita tadi sudah ditakdirkan. Ini sangat aneh. Mereka berkata kita sudah ada yang menentukan dalam tanda kutip kita ini mahluk pasif, namun di sisi seberang yang lain kita bebas melakukan apa yang kita inginkan dengan kata lain aktif berkehendak. Aktif dan pasif adalah dua hal yang bertentangan lalu lagi bagaimana bisa kedua hal tersebut terkompilasi dalam suatu mahluk bernama manusia. Lalu bagaimana agar otak kita ini bisa menerima preposisi ini? Mari kita buat sebuah jawaban alternatif.
       Allah atau tuhan adalah dzat ang maha berkehendak dan maha agung dan maha-maha lainnya, pokoknya superlah bahkan super dari super. Saking supernya, tiada satupun yang mampu menjangkaunya. Sangatlah logis jika sesuatu dzat yang sangat super seperti itu bisa melakukan segala hal yang tentunya di luar jangkauan manusia. Ini seperti manusia yang menciptakan komputer namun pada kenyataannya komputer sama sekali tidak bisa seperti manusia baik dari segi manapun. Secanggih apapun komputer itu masih tetap tidak akan pernah bisa lepas dari manusia ataupun menyamai manusia. Seperti itulah manusia yang juga tidak akan pernah bisa menjangkau tuhannya dengan logikanya. Yang bisa dilakukan hanya percaya dan percaya. Lalu lanjut pada masalah takdir tadi, jika tuhan adalah dzat yang begitu agungnya maka tentulah sangat tidak mungkin jika tuhan tidak mampu menciptakan ciptaan yang bertakdir namun masih punya kehendak. Pasif tapi aktif. Jika saya menggambarkan pengertian takdir tuhan maka begini: tuhan mungkin dan sangat mungkin sudah menentukan keseluruhan garis hidup kita di lauh mahfudz. Tapi! Tuhan juga sangat  mungkin jika hanya menentukan awal dari sesuatu buka keseluruhan. Jadi, bukannya anda berkehendak menjadi guru lalu anda benar-benar menjadi guru dan anda berkata bahwa tuhan sudah menentukan hal tersebut, tuhanlah yang telah membuatku menjadi guru jadi berbuat seperti apapun ujung-ujungnya juga saya tetap akan jadi guru karena memang Allah sudah menggariskan seperti itu, melainkan Allah dengan kecanggihannya menciptakan sejak awal sebuah mahluk yang pada suatu saat nanti akan membuat keturunan yang akan menjadi guru dengan kehendaknya sendiri. Gambaran mudahnya seperti seorang ahli pesawat yang menciptakan sebuah pesawat yang dengan segala penghitungannya dia bisa tahu dengan pasti bahwa pesawat ini nanti bisa diterbangkan dan tidak akan jatuh selama dikemudikan dengan benar. Tuhan  melakukan hal ini! Ia dzat yang maha dari segala maha menciptakan suatu dunia dengan sekejap dengan penghitungan yang di luar akal kita yang mana dari penghitungan tersebut dunia beserta manusia yang ada di dalamnya bisa berperilaku dan berkehendak sesuai dengan perhitungan pada awal penciptaan. Anda berkehendak untuk menjadi guru itu karena tuhan sudah melakukan sebuah penghitungan yang mana pada tanggal sekian anda akan menjadi guru. Anda makan ayam tadi karena Allah sudah menciptakan dari awal suatu mahluk yang bernama adam yang mana dengan perhitungan dan sistem penciptaan diinginkan nanti pada jam dan tanggal sekian salah satu hasil keturunannya akan makan ayam. Seperti petani anggur yang menaruh pagar di atas benih tanaman anggur yang mana kehendak petani ini tadi adalah agar anggur tadi akan menjalar tinggi pada pagar tersebut dan tentunya petani tersebut tahu dengan pasti bahwa anggur tadi pasti akan menjalar pada pagar tersebut karena memang pohon anggur bersifat menjalar dan pagar itu adalah satu-satunya tempat untuk menjalar. Jadi pasti nanti akan menjalar pada pagar tersebut. Allah menginginkan Dunia ini kiamat jadi Allah menciptakan benih dunia yang mana dengan perhitungannya pasti nanti dunia ciptaan ini akan hancur pada waktu yang telah diperhitungkan.
       Bagaimana? Apakah anda sependapat dengan pendapat saya ini mengenai takdir? Saya hanya berpikir tentang hal ini dan saya menuliskannya. Ini adalah opini dari hasil pemikiran kecil. Bahkan menurut saya pasti sudah ada yang memikirkan tenatang  hal ini namun saya masih kurang baca jadi tidak tahu. Saya hanya menyediakan sebuah jawaban alternatif bagi mereka yang sulit menerima takdir. Jika ada yang ingin memberi kritik atau saran silahkan kirim email ke shobihul@gmail.com atau langsung ke nomor saya 085784800805. Saya selalu terbuka untuk sebuah pencerahan.

Selasa, Maret 19, 2013

Kaya atau Miskin


Kalau saya ya pilih jadi kaya. Siapa coba yang mau jadi orang miskin. Sudah tidak punya uang, makan nggak enak banyak utang pisan. Pasti nggak enak. Enaknya ya jadi orang kaya. Punya mobil mewah, makannya enak-enak, pengen apapun bisa terpenuhi. Pengen baju bagus tinggal beli di Mall. Kalau lagi males ke Mall browsing aja di internet dan bayar lewat transfer rekening, tau tau besok barangnya dah nyampe di depa mata. Kalau nggak punya uang boro-boro ke Mall ke pasar pun harus adu mulut dulu ma ibu-ibu penjual. Dan terjadilah pertumpahan darah. Ironis.
Orang kaya itu punya pamor jadi omongannya selalu digubris orang. Tidak pernah dianggap rendah. Selalu dapat posisi di mata masyarakat. Walaupun orangnya gak begitu pintar tapi asal dia kaya pasti orang-orang tunduk padanya. Tapi sebaliknya orang sepintar apapun kalau tidak kaya tidak begitu diperhatikan orang. Wujuduhu ka’adamihi.
Pokoknya jadi kaya itu menyenangkan.
Jadi orang miskin itu tidak enak, baik miskin sekali ataupun miskin dalam kategori pas-pasan. Ingin beli barang baru tidak bisa. Ingin liburan duitnya baru habis buat nyaur utang. Anaknya minta sepatu baru namun hanya bisa  menjanji-janji. Hiburan mereka mungkin hanya tertawa. Ya, tertawa. Mereka sering tertawa bersama-sama.
“Nyoh rokok goblog”
“Goblog? Maksute??”
“Lha murahan og, haha, saking goblog e sampek gak iso tuku rokok”
“Pean mending pak iso tuku, lha aku rokok ae diwei ngene lo hahaha”
“Lha aku mau lo, leh nemu”
“CKAKAKAKAAK”
Guyonan ringan sepanjang waktu. Tidak di teras, di warung, di tempat kerja selalu ada guyonan renyah mengiringi.
Orang pas-pasan juga suka memberi. Saling memberi walaupun sama-sama tidak punya. Kalau sempat beli krupuk, beli lebih untuk diberikan tetangga. Selalu datang di saat yang lain punya hajatan acara. Saling menjenguk jika ada yang sakit. Walaupun tidak bisa memberi sesuatu yang berarti setidaknya bisa membuat suasana dengan guyonan renyah. Para kaum pas-pasan ini seperti punya cara tersendiri dalam menikmati hidup. Cara yang tidak pernah diambah oleh para orang kaya atau bahkan memang tidak bisa. Guyonan apapun dari orang kaya tidak pernah bisa serenyah guyonan sesama orang yang tidak punya yang benar-benar menikmati hidup apa adanya. Setiap pagi setiap anggota keluarga Kaum pas duduk duduk di kursi teras yang sekaligus area untuk tamu. Duduk-duduk saling berbicang berbagi cerita bersama berapa seduhan teh tubruk. Satu gelas untuk 5 orang dan beberapa batang rokok tentunya. Sore juga tidak begitu berbeda. Duduk di teras sambil menyapa tetangga yang lewat. Hutang sebenarnya tidak begitu jadi masalah soalnya yang dihutangi dulu juga salah satu bolo ngopi sewaktu muda dan sekarang pun masih. Jadi bukan alasan untuk berpikir keras dan stress karena hutang. Motor yang sering rusak pun sebenarnya tidak begitu jadi masalah karena seakan-akan memang itulah bahan pembicaraan utama sewaktu santai di teras. Walau sebenarnya tidak ada yang benar-benar paham akan motor tapi yang pentinig berpikir bersama untuk mengatasi masalah salah seorang anggota keluarga. Meskipun kerap jadi ejekan namun sebenarnya itu ejekan guyonan renyah. Rumah yang kecil dan sempit tanpa mereka sadari telah menjadi media pemernyatu keluarga. Pekerjaan yang tidak menentu meluangkan banyak waktu mereka untuk bisa berkumpul dengan keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakat. Semua masalah yang ada secara tidak langsung telah menjadi jembatan bagi mereka untuk saling bisa membantu dan memberi. Kelihatan seperti masalah tapi sebenarnya anugrah.
Orang kaya menikmati hidup dengan bantuan kekayaannya. Orang miskin punya cara sendiri dalam menikmati kehidupannya. Kadang orang tak menyadari hal ini dan ingin pindah ke sisi yang berseberangan. Padahal sebenarnya tiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam menikmati hidupnya. Orang miskin tidak akan bisa menikmati hidup dengan segala kesibukan orang kaya dan meninggalkan dunia sosialnya. Orang kaya bukanlah tipe yang suka bersosialisasi jadi mereka hanya bisa menikmati hidup dari hartanya. Pilih mana kaya atau miskin, itu tergantung pada cara mana yang anda pilih dalam menikmati hidup.

Senin, Maret 18, 2013

MENTAL ORANG KAYA

   
          Pria itu nampak lelah. Matanya yang sayu menerawang suasana sekitar, seperti seorang buruh yang sudah lelah dengan pekerjaannya. Namun penampilannya tidak berkata demikian. Dasi yang menjulur di bawah lehernya membawa cerita tersendiri bagi lelaki separuh baya sepertinya.  Tangannya masih memegang erat kemudi yang melingkar di hadapannya. Panas yang sangat membasahi permukaan wajahnya. Ya ia tampak semakin capek. Sudah berulang kali istrinya menyuruh untuk membawa air minum ketika di jalan. Namun pria itu hanya bisa mengingat kata-kata istrinya itu di saat haus seperti ini. Roda-roda di sisi jalan sebelahnya berputar kencang seiring dengan mobil yang melalu lalang. Namun mobil avanza yang sudah ia jadikan teman sehari-hari  itu tak bergeming sedikitpun. Begitu juga truk besar di belakangnya. Ia pernah mendengar dari temannya kalau mobilnya itu digosipkan hasil dari menipu. Ada juga yang bilang dari hasil korupsi. Ibu-ibu benar-benar banyak omongnya, hanya itu pikirnya dalam hati setiap kali istrinya menggerutu akan gosip tersebut. Padahal pejabat saja bukan, bagaimana bisa korupsi.  Mereka berpikir begitu karena mereka tidak tahu. Yang penting kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk melakukan yang terbaik. Biarlah orang kata apa semua sudah ada yang menilai. Namun wajah istrinya masih saja sewot. Pria itu hanya tersenyum lalu mencium keningnya dan keduannyapun tertawa kecil. Saat-saat manis tersebut membuatnya tersenyum sendiri di tengah jalan raya. Berbalik seratus delapan puluh derajat dari keadaanya saat ini yang terjebak macet. Rupa-rupanya ada bus mini yang mogok di tengah jalan raya. Terlihat dari kejauhan penumpangnya pada turun. Ada yang duduk-duduk namun ada juga yang melambai-lambaikan tangannya untuk mencari bus lain. Bus itu mulai bergerak perlahan namun sangat pelan. Nampak ada 2 orang yang berusaha mendorong bus itu ke tepi jalan agar jalanan bisa mengalir. Mengetahui hal tersebut sontak ia membuka pintu mobilnya dan bergegas membantu  mendorong bus. Tak lama,  jalanan sudah kembali lancar dan si pria kembali menjalani kehidupannya.

Apa yang anda pikirkan dari cerita di atas? Gosip, orang kaya, atau malah-malah ibu-ibu kaya yang suka gosip? Itu hanya gambaran dalam pikiran saya ketika melihat jalanan yang macet di teriknya siang. Yang saya sorot di sini adalah pria tersebut. Saya memandangnya sebagai orang yang berstatus “kaya” karena dia sudah punya mobil. Karena memang  masyarakat biasa menyebut seseorang yang sudah punya mobil tu dengan sebutan orang kaya. Lalu apakah orang kaya itu bermasalah? Jawabnya iya. Orang miskin tidak sedikit yang punya pikiran jelek pada orang kaya. Bagaimanapun keadaannya orang kaya selalu disandarkan dengan gosip-gosip yang tidak baik. Tingkah laku dan gerak gerik mereka selalu diawasi. Qurban sedikit, muncul gosip. Jarang berkunjung ke tetangga tetangganya menggerutu. Lupa tidak ngisi kotak amal masjid orang pada bisik-bisik. Ini merupakan kesenjangan antar orang biasa terhadap orang kaya yang kerap terjadi di khalayak masyarakat. Orang yang kurang mampu banyak yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri. Kenapa mereka bisa kaya sedangkan saya tidak. Padahal sudah coba berbagai usaha bisnis tapi tetap saja berbelit hutang. Kenapa tetangga sebelah yang baru punya percetakan saja bisa punya rumah dan mobil mewah seperti itu. Pasti hasil togel atau malah hasil judi kelas atas! Nah, lalu siapakah yang salah sebenarnya. Mari kita klarifikasi bersama.
                Orang kaya menjadi kaya karena pola pikir mereka sendiri. Orang miskin menjadi miskin karena pola pikir mereka sendiri. Orang kaya punya mental kaya dan orang miskin punya mental miskin. Ini adalah teori yang benar adanya. Di sini saya tidak mencangkupkan orang yang kaya dari hasil menyimpang karena mereka tidak perlu diperbincangkan. Perilaku menyimpang itu dibenahi bukan dibicarakan. Cobat lihat kembali apa yang dilakukan pria yang saya ceritakan di atas dalam menghadapi situasi. Ia sangat profesional. Ia melihat ada masalah lalu mencari solusi. Dia tidak hanya melihat seperti orang lain disekitarnya namun juga ikut bertindak. INI MENTAL ORANG KAYA. Saya punya sedikit pengalaman hidup di dua dunia yang berbeda. Di keluargaku sendiri yang kata orang-orang kaya dan di keluarga temanku di mana ku sekarang masih ikut membantu usaha percetakannya yang mana bisa dibilang agak lebih rendah jika dibandingkan dengan keluarga saya. Sebut saja keluargaku A dan keluarga satunya B. Keluarga B mayoritas orangnya perokok baik anak maupun bapaknya kecuali ibu tentunya. Di keluargaku Cuma aku yang merokok meskipun sekarang sudah sangat jarang, hanya merokok jika ditawari. Lalu keluarga B orang-orangnya sangat murah hati dalam artian sering membelanjakan uangnya demi kepentingan orang lain. Contoh anaknya yang sering menraktir di warung demi mengadakan rapat IPNU yang menurutku tidak harus sampai segitunya karena melihat kantongnya yang tidak cukup tebal, bayar sendiri-sendiri menurutku lebih baik. Lalu mereka dalam kacamataku terlihat lebih santai dalam mengeluarkan uang. Air minumnya air galon refill. Lalu sering membelikan hadiah untuk orang lain ketika hari pentingnya ketika ultah atau pernikahan. Dan ada juga keponakannya yang suka belanja barang barang bermerk, jaket cressida j-fleece yang satunya saja bisa 200ribu. Sedangkan jaket saya jaket 60ribuan yang satunya memang juga cressida tapi dulu belinya waktu diskon 50% walaupun sebenarnya menurut saya bukan diskon karena lehernya agak sobek. Ibu saya juga tidak pernah beli air minum, ia memasak air dengan tungku tua di belakang rumah menggunakan sisa kayu yang terbengkalai. Sewaktu  saya tanya kenapa gak beli air refill saja malah diceramahi. Orangtua saya juga tidak pernah merayakan yang namanya ulang tahun. Seingat saya Cuma khataman qur’an saya yang dulu pernah diadakan selametan itupun saya tidak dapat apa-apa. Keluarga B mengganti oli motor di bengkel sedangkan ayah saya beli oli sendiri lalu diganti sendiri. Itu beberapa hal yang saya ketahui dan tentunya masih banyak pula yang tidak  saya ketahui. Memang Cuma hal-hal yang sepele dan kebanyakan kata saya di atas karena itu memang dari hasil dari pengamatan saya. Orang yang bermental kaya mampu menahan keinginannya dari hal-hal yang dirasa tidak perlu. Pengeluaran diatur sebaik mungkin. Mereka hemat dan berpikiran luas. Walaupun Cuma sedikit mereka percaya akan menjadi banyak suatu saat nanti.
                Selain dari segi keuangan orang kaya juga punya kemauan untuk kerja keras dan tidak menyianyiakan waktu. Orang kaya cerminan dari orang sukses (mayoritas walau memang ada juga yang tidak) dan sukses itu tidak bisa diraih tanpa kerja keras. Saya sering mendengar prinsip orang tiong hoa di Indonesia “Semakin banyak yang kau curahkan semakin banyak pula yang engkau peroleh”. Curahkan di sini tidak lain tidak bukan adalah usaha yang mereka keluarkan. Semakin keras usaha mereka semakin besar pula hasilnya. Kalau di Islam Man jadda wajada. Tidak mungkin orang-orang tiong hoa bisa menjadi kaya dengan sendirinya. Semua karena model pendidikan mereka yang turun temurun mengajarkan disiplin dan kerja keras. Ambil contoh orang Jepang, anak-anak di Jepang dididik harus membawa seluruh peralatan sekolahnya sendiri. Kalau anda mencoba cari gambar anak kecil yang masih tk dari Jepang di Google pasti mereka terlihat menyangklongi tas yang besar di punggungnya. Ini adalah bentuk ajaran kerja keras. Tidak heran kalau mereka bisa semaju itu.  Kalau orang kaya itu pekerja keras berarti Indonesia miskin karena orangnya malas-malas? Belum tentu, masih banyak faktor untuk menjadi miskin. Baca di artikel saya berikutnya. Yang penting misi kita sekarang adalah menghentikan prasangka-prasangka buruk terhadap para orang kaya dan mulai membenahi diri sendiri. OK. See ya.

Senin, Februari 25, 2013

Arbitrer




             Arbitrer, iniliah salah satu sifat bahasa. Arbitrer berarti tidak menentu, tidak beraturan, atau yang sering saya dengar “semena-mena. Semena-mena? Ya, semena-mena, sekehendaknya sendiri atau dengan kata lain lebih condong pada sifat egois manusia. Ambillah suatu benda atau barang seperti pena misalnya. Ketika anda mengatakan atau menulis kata pena tentu ada sebuah gambaran (insight) di benak anda yang menjadi acuan pemahaman anda mengenai kata pena tersebut. Lalu pertanyaannya apakah yang ada di pikiran anda itu bisa benar-benar persis dengan pikiran teman yang disamping anda. Tidak. Bisa saja ia berpikir mengenai pen pilot sedangkan anda pen hitech dan mungkin juga orang di seberang yang tidak sengaja mendengar sama sekali tidak paham dengan apa itu pena. Memang benar jika pemahaman mereka mengenai fungsi barang yang disebut dengan pena itu hampir sama persis. Kesamaan yang mirip ini disebut dengan konvensi atau kesepakatan. Mereka bersepakat bahwa barang yang bentuknya panjang, ramping dan bias untuk menulis sesuatu itu namanya pena atau pensil atau kuas. Konvensi hanya usaha manusia agar memudahkan mereka dalam berkomunikasi. Walaupun tidak bias menyampaikan pengertian secara detail, konvensi benar-benar membantu manusia dalam mempersempit makna dan menyampaikannya dalam komunikasi.  Bahkan di era modern ini konvensi tersebut diwujudkan dalam bentuk buku alias kamus.


        Lalu mengapa saya membahas mengenai arbitrer? Pengetahuan akan kearbitreran bahasa inilah yang membedakan ahli bahasa (linguist) dari ahli-ahli yang lainnya. Dari kearbitreran bahasa ini, kita dapat sedikit mengambil gambaran bahwa kata-kata seorang memang tidak bias diterka, sangat relatif. Seorang yang tahu akan hal ini, menurut pandangan saya, mengerti bahwa ia tak bias menyalahkan ataupun disalahkan akan kata-kata yang ia ucapkan. Apa yang ia katakan itu adalah berdasar pemahamannya sendiri. Orang lain yang mendengar terserah mau mengartikan apa. Misal saja ia berkata iya  namun ia mengartikannya sebagai tidak. Apakah salah? Menurut aturan bahasa tidak. Karena memang apa yang ia maksud itu terserah pada dirinya sendiri.Dia mengatakan iya dengan makna tidak dan berharap orang yang ia ajak bicara mempunyai pemahaman yang sama dengannya. Kalau tidak sama ya terserah, dia masih tidak bersalah. Dia mengatakan sesuatu dan bagaimana ia mengartikannya itu terserah sendiri. Hal ini mengingat sifat bahasa memang teratur, arbitrer. Tiap orang memaknai suatu hal dengan seenaknya sendiri atau semena-mena. Ini seperti seorang guru yang menjelaskan pelajaran pada muridnya. Ia berusaha mati-matian agar muridnya bias memiliki pemahaman akan materi sama dengan pemahamannya sendiri. Namun tetap ada yang sama dan ada yang tidak bahkan ada yang melenceng jauh. Jadi semisal ada kasus iya dan tidak tadi, menyalahkan bahwa dia penipu sangat kurang tepat. Tapi salahkan mengapa ia tidak mau berusaha menyampaikan maksudnya dengan baik. Yang disalahkan bukan kata-kata atau kebohongannya, bukan dari segi bahasanya. Karena berusaha menyampaikan maksud denga sungguh-sungguh bukanlah urusan bahasa melainkan urusan social. Jadi sekali lagi ia memang tetap salah namun bukan dari segi bahasa melainkan dari segi social.


     Jadi! Kalau semisal anda! disalahkan saat ujian grammar! atau ujian bahasa! dan mendapat nilai C!!!! Janganlah minder!! karena anda sama sekali tidak bersalah. Grammar atau aturan bahasa itu bukanlah aturan mutlak. Itu hanyalah kesepakatan orang-orang tua peyot guna memudahkan komunikasi alias penyampaikan makna. Jika anda menaati aturan itu berarti anda mengambil jalan yang mudah dalam menyampaikan makna, namun jika anda tidak menaati aturan tersebut maka berarti anda mengambil jalan yang sulit dalam menyampaikan makna. Mudah dan sulit hanya itu bedanya mau ambil mana itu terserah anda. Justru menurut saya dosen anda itulah yang bermasalah. Karena ia memaksa anda untuk menuruti keegoisannya. Iya, dia memaksa anda untuk memiliki pemahaman yang sama dengan dirinya. Bukankah itu egois! Hehe paragraf terakhir ini hanya bercanda, tapi bias juga dibuat serius.

Jumat, Januari 18, 2013

Proses kreatif sastra


                Cukup lama sudah aku menulis puisi walau hanya terposting di dinding fb. Ku menengok karya orang-orang besar dan nampak karyaku tak pernah sama, sedikitpun tak sebanding. Kubaca, kulansir kembali buku-buku sastra, ternyata sastra tak semudah dikira. Menelusuri jejak-jejak mereka yang sudah punya muka dan lagi ternyata jalannya begitu terjal. Selama ini aku hanya menulis, mengetik tepatnya, untuk membuktikan eksistensi diri. Menata kata-kata sedemikian rupa meski tahu keindahan bukan dari segi fisik saja.  Berusaha membuat orang terpukau. Seperti anak kecil yang mencari perhatian orang tuanya. Namun ini cocok sekali dengan apa yang para filosof katakan. Ilmu pengetahuan itu menjalar, semakin kau tahu semakin kau ingin tahu lagi lebih dalam. Jalan awal yang hanya untuk mencari perhatian kini beralih mencari pemahaman.
Ada masalah. Dikatakan bahwa menggambarkan atau mengimajinasikan fakta empirik ke dalam bahasa merupakan awal dari proses kreatif sastra. Proses imajinasi itu sama sekali tak tergambar dalam benakku. Aku hanya menulis itu saja. Karena hal ini kutahu bahwa apa yang mereka tulis memang bukan rangkaian kata semata namun juga perasaan yang bermain. Mereka merasakan hidup seperti berlayar di lautan lalu mereka menulisnya. Mereka merasa ditinggal kekasih seperti sendirian di kapal tua di pelabuhan mereka menulisnya. Fakta empirik itulah yang membuatku resah. Selama ini ku tak pernah mendapati rasa metafor seperti itu. Jika aku tidak memilikinya lalu bagaimana aku memulai proses kreatifku. Jika memang itu semua benar, berarti sastra itu egois. Hanya kaumnya yang mampu menggandrunginya. Tiada tempat untuk orang sepertiku. Ini seperti sastra itu bukan soal tekad tapi soal bakat. Sepertinya ku harus enyah dari panggung ini.