Senin, Februari 25, 2013

Arbitrer




             Arbitrer, iniliah salah satu sifat bahasa. Arbitrer berarti tidak menentu, tidak beraturan, atau yang sering saya dengar “semena-mena. Semena-mena? Ya, semena-mena, sekehendaknya sendiri atau dengan kata lain lebih condong pada sifat egois manusia. Ambillah suatu benda atau barang seperti pena misalnya. Ketika anda mengatakan atau menulis kata pena tentu ada sebuah gambaran (insight) di benak anda yang menjadi acuan pemahaman anda mengenai kata pena tersebut. Lalu pertanyaannya apakah yang ada di pikiran anda itu bisa benar-benar persis dengan pikiran teman yang disamping anda. Tidak. Bisa saja ia berpikir mengenai pen pilot sedangkan anda pen hitech dan mungkin juga orang di seberang yang tidak sengaja mendengar sama sekali tidak paham dengan apa itu pena. Memang benar jika pemahaman mereka mengenai fungsi barang yang disebut dengan pena itu hampir sama persis. Kesamaan yang mirip ini disebut dengan konvensi atau kesepakatan. Mereka bersepakat bahwa barang yang bentuknya panjang, ramping dan bias untuk menulis sesuatu itu namanya pena atau pensil atau kuas. Konvensi hanya usaha manusia agar memudahkan mereka dalam berkomunikasi. Walaupun tidak bias menyampaikan pengertian secara detail, konvensi benar-benar membantu manusia dalam mempersempit makna dan menyampaikannya dalam komunikasi.  Bahkan di era modern ini konvensi tersebut diwujudkan dalam bentuk buku alias kamus.


        Lalu mengapa saya membahas mengenai arbitrer? Pengetahuan akan kearbitreran bahasa inilah yang membedakan ahli bahasa (linguist) dari ahli-ahli yang lainnya. Dari kearbitreran bahasa ini, kita dapat sedikit mengambil gambaran bahwa kata-kata seorang memang tidak bias diterka, sangat relatif. Seorang yang tahu akan hal ini, menurut pandangan saya, mengerti bahwa ia tak bias menyalahkan ataupun disalahkan akan kata-kata yang ia ucapkan. Apa yang ia katakan itu adalah berdasar pemahamannya sendiri. Orang lain yang mendengar terserah mau mengartikan apa. Misal saja ia berkata iya  namun ia mengartikannya sebagai tidak. Apakah salah? Menurut aturan bahasa tidak. Karena memang apa yang ia maksud itu terserah pada dirinya sendiri.Dia mengatakan iya dengan makna tidak dan berharap orang yang ia ajak bicara mempunyai pemahaman yang sama dengannya. Kalau tidak sama ya terserah, dia masih tidak bersalah. Dia mengatakan sesuatu dan bagaimana ia mengartikannya itu terserah sendiri. Hal ini mengingat sifat bahasa memang teratur, arbitrer. Tiap orang memaknai suatu hal dengan seenaknya sendiri atau semena-mena. Ini seperti seorang guru yang menjelaskan pelajaran pada muridnya. Ia berusaha mati-matian agar muridnya bias memiliki pemahaman akan materi sama dengan pemahamannya sendiri. Namun tetap ada yang sama dan ada yang tidak bahkan ada yang melenceng jauh. Jadi semisal ada kasus iya dan tidak tadi, menyalahkan bahwa dia penipu sangat kurang tepat. Tapi salahkan mengapa ia tidak mau berusaha menyampaikan maksudnya dengan baik. Yang disalahkan bukan kata-kata atau kebohongannya, bukan dari segi bahasanya. Karena berusaha menyampaikan maksud denga sungguh-sungguh bukanlah urusan bahasa melainkan urusan social. Jadi sekali lagi ia memang tetap salah namun bukan dari segi bahasa melainkan dari segi social.


     Jadi! Kalau semisal anda! disalahkan saat ujian grammar! atau ujian bahasa! dan mendapat nilai C!!!! Janganlah minder!! karena anda sama sekali tidak bersalah. Grammar atau aturan bahasa itu bukanlah aturan mutlak. Itu hanyalah kesepakatan orang-orang tua peyot guna memudahkan komunikasi alias penyampaikan makna. Jika anda menaati aturan itu berarti anda mengambil jalan yang mudah dalam menyampaikan makna, namun jika anda tidak menaati aturan tersebut maka berarti anda mengambil jalan yang sulit dalam menyampaikan makna. Mudah dan sulit hanya itu bedanya mau ambil mana itu terserah anda. Justru menurut saya dosen anda itulah yang bermasalah. Karena ia memaksa anda untuk menuruti keegoisannya. Iya, dia memaksa anda untuk memiliki pemahaman yang sama dengan dirinya. Bukankah itu egois! Hehe paragraf terakhir ini hanya bercanda, tapi bias juga dibuat serius.