Arbitrer,
iniliah salah satu sifat bahasa. Arbitrer berarti tidak menentu, tidak
beraturan, atau yang sering saya dengar “semena-mena. Semena-mena? Ya, semena-mena,
sekehendaknya sendiri atau dengan kata lain lebih condong pada sifat egois manusia.
Ambillah suatu benda atau barang seperti pena misalnya. Ketika anda mengatakan
atau menulis kata pena tentu ada sebuah gambaran (insight) di benak anda yang
menjadi acuan pemahaman anda mengenai kata pena tersebut. Lalu pertanyaannya
apakah yang ada di pikiran anda itu bisa benar-benar persis dengan pikiran teman
yang disamping anda. Tidak. Bisa saja ia berpikir mengenai pen pilot sedangkan
anda pen hitech dan mungkin juga orang di seberang yang tidak sengaja mendengar
sama sekali tidak paham dengan apa itu pena. Memang benar jika pemahaman mereka
mengenai fungsi barang yang disebut dengan pena itu hampir sama persis. Kesamaan
yang mirip ini disebut dengan konvensi atau kesepakatan. Mereka bersepakat
bahwa barang yang bentuknya panjang, ramping dan bias untuk menulis sesuatu itu
namanya pena atau pensil atau kuas. Konvensi hanya usaha manusia agar
memudahkan mereka dalam berkomunikasi. Walaupun tidak bias menyampaikan
pengertian secara detail, konvensi benar-benar membantu manusia dalam
mempersempit makna dan menyampaikannya dalam komunikasi. Bahkan di era modern ini konvensi tersebut diwujudkan
dalam bentuk buku alias kamus.
Lalu mengapa
saya membahas mengenai arbitrer? Pengetahuan akan kearbitreran bahasa inilah
yang membedakan ahli bahasa (linguist) dari ahli-ahli yang lainnya. Dari
kearbitreran bahasa ini, kita dapat sedikit mengambil gambaran bahwa kata-kata
seorang memang tidak bias diterka, sangat relatif. Seorang yang tahu akan hal
ini, menurut pandangan saya, mengerti bahwa ia tak bias menyalahkan ataupun
disalahkan akan kata-kata yang ia ucapkan. Apa yang ia katakan itu adalah
berdasar pemahamannya sendiri. Orang lain yang mendengar terserah mau
mengartikan apa. Misal saja ia berkata iya namun ia mengartikannya sebagai tidak. Apakah
salah? Menurut aturan bahasa tidak. Karena memang apa yang ia maksud itu
terserah pada dirinya sendiri.Dia mengatakan iya dengan makna tidak dan
berharap orang yang ia ajak bicara mempunyai pemahaman yang sama dengannya. Kalau
tidak sama ya terserah, dia masih tidak bersalah. Dia mengatakan sesuatu dan
bagaimana ia mengartikannya itu terserah sendiri. Hal ini mengingat sifat
bahasa memang teratur, arbitrer. Tiap orang memaknai suatu hal dengan seenaknya
sendiri atau semena-mena. Ini seperti seorang guru yang menjelaskan pelajaran
pada muridnya. Ia berusaha mati-matian agar muridnya bias memiliki pemahaman
akan materi sama dengan pemahamannya sendiri. Namun tetap ada yang sama dan ada
yang tidak bahkan ada yang melenceng jauh. Jadi semisal ada kasus iya dan tidak
tadi, menyalahkan bahwa dia penipu sangat kurang tepat. Tapi salahkan mengapa
ia tidak mau berusaha menyampaikan maksudnya dengan baik. Yang disalahkan bukan
kata-kata atau kebohongannya, bukan dari segi bahasanya. Karena berusaha
menyampaikan maksud denga sungguh-sungguh bukanlah urusan bahasa melainkan
urusan social. Jadi sekali lagi ia memang tetap salah namun bukan dari segi
bahasa melainkan dari segi social.
Jadi! Kalau semisal
anda! disalahkan saat ujian grammar! atau ujian bahasa! dan mendapat nilai
C!!!! Janganlah minder!! karena anda sama sekali tidak bersalah. Grammar atau
aturan bahasa itu bukanlah aturan mutlak. Itu hanyalah kesepakatan orang-orang
tua peyot guna memudahkan komunikasi alias penyampaikan makna. Jika anda
menaati aturan itu berarti anda mengambil jalan yang mudah dalam menyampaikan
makna, namun jika anda tidak menaati aturan tersebut maka berarti anda
mengambil jalan yang sulit dalam menyampaikan makna. Mudah dan sulit hanya itu
bedanya mau ambil mana itu terserah anda. Justru menurut saya dosen anda itulah
yang bermasalah. Karena ia memaksa anda untuk menuruti keegoisannya. Iya, dia
memaksa anda untuk memiliki pemahaman yang sama dengan dirinya. Bukankah itu
egois! Hehe paragraf terakhir ini hanya bercanda, tapi bias juga dibuat serius.
