“Oh dari manakah tulang rusuk ini berasal, terkapar berdebu tiada arah di tanah entah berantah hanya demi sebuah penantian”
Kata beberapa ahli, cewek memang suka akan sesuatu yang samar-samar dan tak terduga seperti takdir, jodoh, ramalan, cerita cinta dan lain lain lain lainnya. Ok kita sudahi dulu drama ini karena saya menulis ini bukan untuk ini dan itu namun untuk memberikan sepercik alternatif jawaban akan takdir khususnya bagi mereka yang sulit menerima takdir.
Dari beberapa segi takdir memang sulit untuk dinalar dan ditafsiri dengan logika. Takdir bilang bahwa segala gerak-gerik kehidupan ini sudah ada yang menentukan atau menggariskan dari awal. Pernyataan ini memberikan penafsiran bahwa manusia adalah mahluk yang kaku dan tidak mempunyai kehendak. Seorang liberalism pasti sulit menerima hal ini begitu juga mereka yang berpihak pada kebebasan dan menjustice keterikatan. Jika dipikir lagi pengertian takdir tersebut memang sulit untuk diterima. Bagaimana bisa segala gerak kita ini sudah ada yang menentukan jika pada kenyataannya tiap dari kita bisa bergerak, berpikir dan melakukan segala hal sesuai kehendak. Kita makan ini dan itu terserah kita dalam memilih lalu bagaimana bisa perilaku kita tadi sudah ditakdirkan. Ini sangat aneh. Mereka berkata kita sudah ada yang menentukan dalam tanda kutip kita ini mahluk pasif, namun di sisi seberang yang lain kita bebas melakukan apa yang kita inginkan dengan kata lain aktif berkehendak. Aktif dan pasif adalah dua hal yang bertentangan lalu lagi bagaimana bisa kedua hal tersebut terkompilasi dalam suatu mahluk bernama manusia. Lalu bagaimana agar otak kita ini bisa menerima preposisi ini? Mari kita buat sebuah jawaban alternatif.
Allah atau tuhan adalah dzat ang maha berkehendak dan maha agung dan maha-maha lainnya, pokoknya superlah bahkan super dari super. Saking supernya, tiada satupun yang mampu menjangkaunya. Sangatlah logis jika sesuatu dzat yang sangat super seperti itu bisa melakukan segala hal yang tentunya di luar jangkauan manusia. Ini seperti manusia yang menciptakan komputer namun pada kenyataannya komputer sama sekali tidak bisa seperti manusia baik dari segi manapun. Secanggih apapun komputer itu masih tetap tidak akan pernah bisa lepas dari manusia ataupun menyamai manusia. Seperti itulah manusia yang juga tidak akan pernah bisa menjangkau tuhannya dengan logikanya. Yang bisa dilakukan hanya percaya dan percaya. Lalu lanjut pada masalah takdir tadi, jika tuhan adalah dzat yang begitu agungnya maka tentulah sangat tidak mungkin jika tuhan tidak mampu menciptakan ciptaan yang bertakdir namun masih punya kehendak. Pasif tapi aktif. Jika saya menggambarkan pengertian takdir tuhan maka begini: tuhan mungkin dan sangat mungkin sudah menentukan keseluruhan garis hidup kita di lauh mahfudz. Tapi! Tuhan juga sangat mungkin jika hanya menentukan awal dari sesuatu buka keseluruhan. Jadi, bukannya anda berkehendak menjadi guru lalu anda benar-benar menjadi guru dan anda berkata bahwa tuhan sudah menentukan hal tersebut, tuhanlah yang telah membuatku menjadi guru jadi berbuat seperti apapun ujung-ujungnya juga saya tetap akan jadi guru karena memang Allah sudah menggariskan seperti itu, melainkan Allah dengan kecanggihannya menciptakan sejak awal sebuah mahluk yang pada suatu saat nanti akan membuat keturunan yang akan menjadi guru dengan kehendaknya sendiri. Gambaran mudahnya seperti seorang ahli pesawat yang menciptakan sebuah pesawat yang dengan segala penghitungannya dia bisa tahu dengan pasti bahwa pesawat ini nanti bisa diterbangkan dan tidak akan jatuh selama dikemudikan dengan benar. Tuhan melakukan hal ini! Ia dzat yang maha dari segala maha menciptakan suatu dunia dengan sekejap dengan penghitungan yang di luar akal kita yang mana dari penghitungan tersebut dunia beserta manusia yang ada di dalamnya bisa berperilaku dan berkehendak sesuai dengan perhitungan pada awal penciptaan. Anda berkehendak untuk menjadi guru itu karena tuhan sudah melakukan sebuah penghitungan yang mana pada tanggal sekian anda akan menjadi guru. Anda makan ayam tadi karena Allah sudah menciptakan dari awal suatu mahluk yang bernama adam yang mana dengan perhitungan dan sistem penciptaan diinginkan nanti pada jam dan tanggal sekian salah satu hasil keturunannya akan makan ayam. Seperti petani anggur yang menaruh pagar di atas benih tanaman anggur yang mana kehendak petani ini tadi adalah agar anggur tadi akan menjalar tinggi pada pagar tersebut dan tentunya petani tersebut tahu dengan pasti bahwa anggur tadi pasti akan menjalar pada pagar tersebut karena memang pohon anggur bersifat menjalar dan pagar itu adalah satu-satunya tempat untuk menjalar. Jadi pasti nanti akan menjalar pada pagar tersebut. Allah menginginkan Dunia ini kiamat jadi Allah menciptakan benih dunia yang mana dengan perhitungannya pasti nanti dunia ciptaan ini akan hancur pada waktu yang telah diperhitungkan.
Bagaimana? Apakah anda sependapat dengan pendapat saya ini mengenai takdir? Saya hanya berpikir tentang hal ini dan saya menuliskannya. Ini adalah opini dari hasil pemikiran kecil. Bahkan menurut saya pasti sudah ada yang memikirkan tenatang hal ini namun saya masih kurang baca jadi tidak tahu. Saya hanya menyediakan sebuah jawaban alternatif bagi mereka yang sulit menerima takdir. Jika ada yang ingin memberi kritik atau saran silahkan kirim email ke shobihul@gmail.com atau langsung ke nomor saya 085784800805. Saya selalu terbuka untuk sebuah pencerahan.