Selasa, April 22, 2014

Faktor yang Menentukan Kesuksesan saat Anda Kuliah


 


Dulu saya berpikir bahwa kuliah di mana saja itu sama, yang membedakan adalah kita sebagai lakonnya dengan dalih banyaknya mahasiswa dari perguruan tinggi terkemuka yang tidak begitu nampak kiprahnya. Namun sekarang saya menolak pendapat saya sendiri tersebut. Ternyata kedua-duanya berpengaruh besar baik individunya maupun lingkungan pendidikannya. Taruhlah contoh dua mahasiswa yang sama-sama super pemalas belajar di dua kampus yang berbeda, satu stain satu ugm misalnya. Walaupun keduanya sama-sama tidak mau mengikuti perkuliahan sama sekali, namun karena teman pergaulannya berbeda hasilnya tentu juga jauh berbeda. 

Kuliah di Stain mungkin anda akan bertemu dengan orang-orang dari kalangan menengah ke bawah otomatis apa yang mereka lakukan itu juga yang anda ketahui. Misal teman anda di Stain banyak yang mondok tentu anda juga akan mengetahui banyak mengenai dunia keagamaan. Kadang teman anda ngaji lalu anda juga ikut ngaji, temannya sholawatan andapun juga ikut sholawatan, bahkan hanya mendengar pembicaraan mereka anda juga bisa mendapat informasi lebih mengenai dunia mereka yang tentu tidak jauh dari urusan keagamaan. Sebaliknya, jangan berharap anda tahu lebih banyak soal agama jika anda kuliah di ugm karena ya mayoritas mahasiswanya bukan kalangan pesantren namun justru pergaulan bebas lebih mudah diambah di sana. 

Di stain anda mungkin juga tidak akan boros karena teman-teman anda bukan kalangan atas. Gadget, fashion, makanan semua biasa-biasa saja. Di ugm jangan kaget jika banyak teman-teman anda yang mempunyai barang mewah jadi harus pandai pandai ngempet. Ya bayangkan saja jika semua teman anda punya laptop sedangkan cuma anda sendiri yang tidak punya, semua sudah pakai android anda cuma pakai nokia hitam putih, berat tidak? Nah namun sebenarnya itu tergantung diri anda sendiri jika anda tipe orang yang selalu berpikiran positif dan punya pendirian kuat anda bisa memanfaatkan keadaan yang ada. Berhubung semua punya laptop jadi anda tidak perlu beli karena pinjam bisa dan mudah dilakukan. Anda setiap hari bisa mengendarai motor bagus walaupun sebenarnya tidak punya motor ^_^. Nah seperti yang saya katakan tadi individu dan lingkungan itu berpengaruh.

Namun kadang ada beberapa hal yang mutlak tidak bisa diperoleh selain di tempat tersebut. Jika anda punya banyak teman kalangan atas anda akan lebih mudah di esok harinya. Jadi yang saya maksud di sini adalah kampus terkemuka. Di ponorogo ada seorang lulusan ugm yang tinggal di wilayah pedesaan terpencil. Di ponorogo sekarang ia membuka sebuah toko komputer. Ceritanya dia dulu sewaktu kuliah kebetulan mendapat banyak relasi dunia komputer. Jadi dia banyak tahu mengenai di mana distributor yang murah dan terpercaya baik dari dalam maupun luar negri. Walaupun bukan dari jurusan informatika ia memberanikan diri membuka usaha tersebut. Itu sebuah contoh. Namun jangan terlalu berharap bisa seperti itu di Stain. Jangankan mendapat relasi luar negri pengetahuan mengenai ekspor impor saja mungkin anda juga tidak akan tahu karena hampir tidak ada teman anda di stain yang mengetahui hal tersebut. Nah dari sini kita tahu lingkungan juga punya pengaruh besar terhadap keberhasilan seseorang.

Jadi sebelum melihat kualitas kampus tinjau terlebih dahulu lingkungan dari kampus tersebut. Apakah sudah cocok untuk anda atau belum. Jika anda sangat khawatir mengenai pergaulan bebas tentunya anda harus berpikir panjang sebelum memutuskan kuliah di perguruan tinggi terkemuka. Apakah anda mampu untuk menahan godaan selama di sana? Apakah ada hal-hal yang bisa mendukung anda untuk menahan godaan tersebut? Namun jika anda punya hasrat tinggi untuk menjadi sukses anda juga harus berpikir lagi jika disuruh untuk mendaftar di stain. Apakah anda bisa sukses di sana? Apakah anda bisa mendapat relasi-relasi yang penting bagi kesuksesan anda? Saya tidak bisa menganjurkan mana yang lebih baik namun saya hany bisa menyarankan anda untuk meninjau kembali dunia anda sendiri, bagaimana kondisi keluarga anda (khususnya kondisi finansial), apa yang mereka harapkan (anak yang sholeh atau anak yang sukses) dan tinjau kembali kepribadian anda, lingkungan mana yang cocok dengan kepribadian anda. Jika anda orang yang tidak mudah terpengaruh oleh teman dan punya pendirian kuat maka banyak pilihan terbuka untuk anda.Ok segitu saja semoga bermanfaat ^_^ Belajar!

Senin, April 21, 2014

CS #1 Memarahi

Tadi salah seorang teman saya sewot karena ia dimarahi gara-gara pakai sendal ketika mau bimbingan skripsi.
 
"Mau bimbingan atau mau ke pasar mas kok pakai sandal!" Lalu dia dimarahi habis-habisan.

Dia sewot bukan main kemudian cerita ke temen-temen yang hingga akhirnya terbentuklah jam'iyyah rasan-rasan ngarep warung. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya dari kejadian ini.
Pertama, mengapa mahasiswa tersebut bisa sampai memakai sandal ke kampus?
Kedua, apakah menyalahkan dan memarahi mahasiswanya adalah tindakan yang tepat?

Untuk menjawab pertanyaan pertama bisa ditinjau dari kronologi pemikiran dari mahasiswa itu sendiri. Saya membuat asumsi bahwa jelas penyebab utama ia memakai sandal adalah sisi subjektif dari dirinya sendiri, baik itu karena malas, karena ego (maklum kadang mahasiswa juga masih labil dan berusaha eksis dengan berani menentang peraturan) dan yang kedua karena memang ia dari jurusan syariah yang tidak sedisiplin jurusan tarbiyah (kadang ada dosen yang membolehkan sandal di kelasnya). Dari alasan pertama yakni sisi subjektif, ini kembali pada kelemahan pihak pendidik sendiri karena mementingkan ego dari pada peraturan itu bukanlah ajaran di perkuliahan bahkan merupakan sesuatu yang ditentang jadi jika itu terjadi maka bukan tidak lain adalah karena pihak pendidik yang kurang mampu dalam menanamkan nilai-nilai ini terhadap mahasiswanya. "Ya tidak bisa menyalahkan pendidik sepenuhnya dong! kan faktor yang mempengaruhi psikologi siswa tidak hanya berasal dari perkuliahan" Ya benar tidak hanya dari perkuliahan tapi inilah beratnya tugas  menjadi seorang pendidik. Misal Ada peserta didik yang punya masalah di luar (seperti bekerja) sehingga tidak mampu menyelesaikan jadwal perkuliahan ataupun sekolah dengan benar apakah pendidik hanya diam saja. Tentu tidak. Kalau ia memang pendidik alias guru maka sudah seharusnya ia turut campur tangan namun jika ia menjadi pendidik hanya untuk bekerja ya itu beda lagi (mending ga sah jadi pendidik). Nah berhubung murid mbangkang karena ketidakmampuan pendidik sendiri saya rasa ini jelas bisa menjadi jawaban pertanyaan kedua: Sudah tepatkah jika ia menyalahkan mahasiswanya?

Mengenai menyalahkan dalam pendidikan itu merupakan pilihan terakhir dari beberapa solusi menghadapi kelakuan peserta didik. Karena menyalahkan dapat memicu ego dari murid sendiri. Daripada itu menyalahkan jarang bisa memberi solusi. Contohlah kata-kata di atas tadi "mau ke pasar atau mau bimbingan?" pertanyaan sindiran itu sama sekali tidak memberi jalan solusi. Apakah dengan disalahkan ia akan sadar? Kemungkinan besar justru malah ia jadi jengkel dan tambah susah diatur. Bukankah lebih baik jika ditegur dengan tegas dan diingatkan akan peraturan yang ada dan konsekuensi jika berani melanggarnya baik konsekuensi umum ataupun konsekuensi terhadap diri pribadi murid. Contoh: 

"Kenapa pakai sandal?! Sudah pernah dengar peraturan tidak boleh pakai sandal di kampus? Kenapa masih melanggar? Tahu tidak kalau dengan melanggar ini tidak hanya merugikan diri kamu sendiri tapi juga orang lain? Kalau kamu pakai sandal di sini pertama jelas kamu tidak akan dilayani. Kemudian, berani memakai sandal di sini berarti kamu memberi contoh yang tidak baik pada adik kelas. Kalau besok ada adik kelas mu yang berani pakai sandal itu juga karena ulahmu yang berani melanggar peraturan tadi. Kalau senior patuh sepenuhnya pada peraturan, insy tidak ada adik kelas yang berani melanggar peraturan. Dari melanggar peraturan satu kamu sudah memicu yang lain untuk melanggar peraturan yang lain. Membenahi sesuatu itu dimulai dari diri sendiri. Jika kamu ingin merubah kampus ini jadi lebih baik maka rubah diri kamu terlebih dahulu agar bisa menjadi contoh yang baik. Kalau kamu besok ingin jadi lebih baik, ingin jadi orang sukses maka saya anjurkan rubah kebiasaan-kebiasaan jelekmu karena orang-orang sukses itu adalah orang-orang yang selalu belajar dan memperbaiki dirinya sendiri. Jadi besok saya tidak mau melihat kamu pakai sandal lagi Paham! Ingat mulai dari diri sendiri"

Ini sekedar contoh namun anda tentu bisa menyampaikannya dengan lebih baik. Siapapun kebanyakan lebih peka terhadap apa yang menyangkut dengan dirinya sendiri jadi mengancam itu perlu menyangkutkan ancaman yang bisa menimpa murid itu sendiri agar ia lebih peka dengan apa yang disampaikan.