Senin, April 21, 2014

CS #1 Memarahi

Tadi salah seorang teman saya sewot karena ia dimarahi gara-gara pakai sendal ketika mau bimbingan skripsi.
 
"Mau bimbingan atau mau ke pasar mas kok pakai sandal!" Lalu dia dimarahi habis-habisan.

Dia sewot bukan main kemudian cerita ke temen-temen yang hingga akhirnya terbentuklah jam'iyyah rasan-rasan ngarep warung. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak saya dari kejadian ini.
Pertama, mengapa mahasiswa tersebut bisa sampai memakai sandal ke kampus?
Kedua, apakah menyalahkan dan memarahi mahasiswanya adalah tindakan yang tepat?

Untuk menjawab pertanyaan pertama bisa ditinjau dari kronologi pemikiran dari mahasiswa itu sendiri. Saya membuat asumsi bahwa jelas penyebab utama ia memakai sandal adalah sisi subjektif dari dirinya sendiri, baik itu karena malas, karena ego (maklum kadang mahasiswa juga masih labil dan berusaha eksis dengan berani menentang peraturan) dan yang kedua karena memang ia dari jurusan syariah yang tidak sedisiplin jurusan tarbiyah (kadang ada dosen yang membolehkan sandal di kelasnya). Dari alasan pertama yakni sisi subjektif, ini kembali pada kelemahan pihak pendidik sendiri karena mementingkan ego dari pada peraturan itu bukanlah ajaran di perkuliahan bahkan merupakan sesuatu yang ditentang jadi jika itu terjadi maka bukan tidak lain adalah karena pihak pendidik yang kurang mampu dalam menanamkan nilai-nilai ini terhadap mahasiswanya. "Ya tidak bisa menyalahkan pendidik sepenuhnya dong! kan faktor yang mempengaruhi psikologi siswa tidak hanya berasal dari perkuliahan" Ya benar tidak hanya dari perkuliahan tapi inilah beratnya tugas  menjadi seorang pendidik. Misal Ada peserta didik yang punya masalah di luar (seperti bekerja) sehingga tidak mampu menyelesaikan jadwal perkuliahan ataupun sekolah dengan benar apakah pendidik hanya diam saja. Tentu tidak. Kalau ia memang pendidik alias guru maka sudah seharusnya ia turut campur tangan namun jika ia menjadi pendidik hanya untuk bekerja ya itu beda lagi (mending ga sah jadi pendidik). Nah berhubung murid mbangkang karena ketidakmampuan pendidik sendiri saya rasa ini jelas bisa menjadi jawaban pertanyaan kedua: Sudah tepatkah jika ia menyalahkan mahasiswanya?

Mengenai menyalahkan dalam pendidikan itu merupakan pilihan terakhir dari beberapa solusi menghadapi kelakuan peserta didik. Karena menyalahkan dapat memicu ego dari murid sendiri. Daripada itu menyalahkan jarang bisa memberi solusi. Contohlah kata-kata di atas tadi "mau ke pasar atau mau bimbingan?" pertanyaan sindiran itu sama sekali tidak memberi jalan solusi. Apakah dengan disalahkan ia akan sadar? Kemungkinan besar justru malah ia jadi jengkel dan tambah susah diatur. Bukankah lebih baik jika ditegur dengan tegas dan diingatkan akan peraturan yang ada dan konsekuensi jika berani melanggarnya baik konsekuensi umum ataupun konsekuensi terhadap diri pribadi murid. Contoh: 

"Kenapa pakai sandal?! Sudah pernah dengar peraturan tidak boleh pakai sandal di kampus? Kenapa masih melanggar? Tahu tidak kalau dengan melanggar ini tidak hanya merugikan diri kamu sendiri tapi juga orang lain? Kalau kamu pakai sandal di sini pertama jelas kamu tidak akan dilayani. Kemudian, berani memakai sandal di sini berarti kamu memberi contoh yang tidak baik pada adik kelas. Kalau besok ada adik kelas mu yang berani pakai sandal itu juga karena ulahmu yang berani melanggar peraturan tadi. Kalau senior patuh sepenuhnya pada peraturan, insy tidak ada adik kelas yang berani melanggar peraturan. Dari melanggar peraturan satu kamu sudah memicu yang lain untuk melanggar peraturan yang lain. Membenahi sesuatu itu dimulai dari diri sendiri. Jika kamu ingin merubah kampus ini jadi lebih baik maka rubah diri kamu terlebih dahulu agar bisa menjadi contoh yang baik. Kalau kamu besok ingin jadi lebih baik, ingin jadi orang sukses maka saya anjurkan rubah kebiasaan-kebiasaan jelekmu karena orang-orang sukses itu adalah orang-orang yang selalu belajar dan memperbaiki dirinya sendiri. Jadi besok saya tidak mau melihat kamu pakai sandal lagi Paham! Ingat mulai dari diri sendiri"

Ini sekedar contoh namun anda tentu bisa menyampaikannya dengan lebih baik. Siapapun kebanyakan lebih peka terhadap apa yang menyangkut dengan dirinya sendiri jadi mengancam itu perlu menyangkutkan ancaman yang bisa menimpa murid itu sendiri agar ia lebih peka dengan apa yang disampaikan.