Selasa, Juli 03, 2012

Jo Jenggong Ae Kang!


          Tatapannya terpaku kuat pada lembaran di atas meja. Ia mulai meluruskan kakinya melewati kaki-kaki meja. Sembari sesekali mengerutkan keningnya ia mulai melantangkan bacaannya. Sangat lantang hingga terdengar melewati kamar-kamar yang hanya disekat kayu triplek tersebut. Dengan sedikit bumbu di sana-sini ditambah beberapa cuil intonasi ia berhasil menaruh semua mata di sudut ruangan mengarah padanya. Tampak kalau mereka juga memegang lembaran yang sama. Suasana ujian. Pemuda kriting tersebut tak menyadari atmosfir sekitarnya yang sudah mulai memanas dan terus membaca dengan keras mengiringi angin yang berhembus melewati sela-sela jendela. Ya angin berhembus. Tampak pria di sampingnya mulai bergeming dari tempat duduknya. Ia melihat si kriting dengan tatapan sinis namun tak ada respon.
“Kang!” sontak suasanapun menjadi sunyi.
“Nggeh” jawab si kriting lirih.
“Jo jenggong ae!” sunyi dan semua melanjutkan kesibukannya masing-masing
                Tentu kita pernah menjumpai suasana seperti ini. Walaupun tidak sama persis tapi minimal ada situasi di mana anda bersama seseorang yang membaca dengan keras karena memang itu yang akan kita bahas. Membaca keras atau lantang. Ini bukan persoalan mengenai benar atau salah. Tapi ini merupakan bagaimana kita menjadi pembaca yang lebih baik yang tidak hanya sekedar  menggonggongkan tulisan.
                Pastilah kalian bisa mengingat sewaktu kalian baru mulai belajar membaca. Gurulah yang menuntun kita selama belajar membaca. Ingatkah kalian apa yang dilakukan guru untuk mengajari kita membaca? Ya, menirukan dan membaca dengan suara keras.metode ini digunakan hampir oleh semua guru dalam mengajari cara membaca. Namun sayangnya banyak yang masih membawa metode ini walaupun mereka sudah tidak dalam masa membaca. Inilah titik sumber permasalahan. Inilah di mana ketika suatu metode berubah menjadi kebiasaan.  Apa yang dipelajari semenjak masa kecil sangatlah sulit melupakannya, itu kata Bapak psikologi. Namun apa ini salah? Let’s see!
                Menggonggongkan tulisan dapat mengurangi efektivitas daya baca kita. Efektif, kinerja optimal hasil maksimal. Tidak hanya membuat kita lamban dalam membaca namun juga menurunkan kemampuan kita dalam memahami seksama makna kandungan dari teks. Cukup, singkat padat jelas.
                Lalu bagaimanakah cara membaca yang baik? Selama ini kita memahami membaca sebagai ungkapan untuk mengucapkan bacaan. Ini istilah kita dulu sewaktu masih kecil. Membaca berarti berusaha menangkap makna bacaan.   Bukan mengucapkan teks bukan pula memahami teks. Mengucapkan teks berarti hanya sekedar nyomel. Memahami teks berarti mengetahui covernya saja. Padahal tujuan utama kita membaca adalah memahami makan, pesan yang tersirat di balaik kata-kata. Jika anda memahami teks berarti anda cukup meninjau satu atau dua kata. Tapi di balik itu anda tidak akan mendapatkan makna di baliknya. Kita akan mendapatkan pesan utama ketika kita sudah selesai membaca keseluruhan teks. Hal ini sesuai dengan teori kognitif, bahwa pemahaman atau insight itu diperoleh ketika sudah terkumpul bagian-bagian yang mencukupi. Seperti halnya rasi bintang, kita tak akan mengetahui apa rasi tersebut jika salah satu bagiannya tak nampak.
                Membaca juga usaha untuk mengaitkan. Mengaitkan makna teks dengan segala pengetahuan yang relevan yang kita miliki. Coba baca satu kalimat saja dari bahasa yunani atau dari bacaan bidang-bidang yang bukan bidang anda. Bisakah anda memahaminya? Tentu tidak. Karena anda tak memiliki pengetahuan tentang bacaan tersebut. Semakin pengetahuan anda luas maka semakin mudah anda memahami makna teks tersebut. Oleh karena itu membca tidak akan bisa lepas kaitannya denga pengetahuan yang kita miliki.
                Pemahaman kita terhadap “membaca” sangat berpengaruh pada cara baca kita. Di sinilah pentingnya pengetahuan tentang definisi. Dengan memahami pengertian kita bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Membaca bukan hanya sekedar menggongkan teks yang sangat menjengkelkan. Membaca itu berusaha memahami makna yang terselubung di balik teks dengan mengerahkan segala pengetahuan yamg kita dimiliki. Saya tahu anda pembaca yang hebat yang telah mengarungi lautan samudra buku. Maka dari itu jangan sampai mensalah artikan membaca key!

Senin, Juli 02, 2012

UAS Parah



          UAS. Tahun ini UASku tak begitu lancar bahkan boleh dikata sangat parah dari suatu sisi. Berulang kali ku tak ikut mata kuliah. Tak terhitung aku menelantarkan tugas. Terlebih lagi ku pernah dikeluarkan dari kelas. Mungkin pernah terbesit di benak mereka, mengapa si penerima beasiswa malah jadi seperti ini. Berubah total dalam selang waktu yang singkat. Perubahan yang drastis! Itu yang menimpaku. Aku mulai kehilangan respect di muka teman-teman. Tapi apa ini sebuah kegagalan? Ataukah sebuah kehancuran? Dulu mereka segan padaku tapi sekarang mereka menertawakanku. Ibarat emas yang jatuh ke kubangan. Seorang akan hina untuk mengambilnya. Tapi kamu tahu, itu tetap emas. Emas yang berbaju kotoran. Tapi mereka tak mau mengambilnya. Tak mau tahu bagaimana ia bisa jatuh kekubangan. Tak mau untuk menyentuhnya. Yang mereka tahu ia sudah menjadi kotoran dan kotoran itu menjijikkan.
                Kau pikir aku bodoh. Aku tak berbuat tanpa alasan. Aku tau apa yang kuperbuat. I do because i want. Si Emas memang sengaja masuk ke kubangan, agar ia tahu rasanya jadi kotoran. Ia muak dipuji dan ia muak berada dalam kotak empuk berselimut kain sutra. Berangkat dari lumpur yang berlumurkan hinaan, ia mengerti segala pujian dulu hanya ditujukan pada kain sutranya bukan dirinya. Tapi ia belum menemukan siapa yang benar-benar mau memujinya. Wah dramatis bangeetts! Haha.
                Gak sedramatis itu kisahku aku Cuma mendramatisir. Ya kasihan juga mereka, hanya tahu apa yang kuperbuat tapi gak tahu apa di baliknya. Hanya menilai dari cover bukan isinya. Tapi emang sih mayoritas orang sekarang begitu semua. Jadi ya maklum aja. Kembali ke bahasan. Aku memang ninggalin kuliahku untuk mencoba mencari sesuatu. Sesuatu yang banyak dilupakan orang-orang. Jati diri. Wuh! Kaya di filem filem. Aku hanya mencoba untuk berbuat tanpa terikat sesuatu. Sekali lagi, berbuat tanpa terikat sesuatu. Sering dari kita terlalu terikat dengan banyak hal ketika berbuat.  Memaksa diri membeli barang karena sudah terlanjur masuk toko, alias malu padahal begitu di rumah gak tahu barangnya buat apa. Kalau aku sudah biar gak usah beli aja, gitu aja kok repot. Beli baju mahal agar kelihatan wah dan mendapat pujian. Tapi lihat kenyataannya tak ada orang yang benar-benar memuji karena bajumu kalaupun ada itu bukan memuji, itu menjilat! Belajar hanya saat UAS karena terikat dengan nilai. Ku mencoba untuk melupakan nilai. Ku berusaha belajar karena memang aku butuh dan ingin bukan karena nilai ataupun gelar.
                “Barang siapa berhijrah untuk sesuatu, maka sesuatu itulah yang akan ia dapatkan” ingat kan pesan Nabi? Ku mencari ilmu untuk mendapatkan ilmu. Jika samean cari gelar dan nilai ya terserah. Nilaiku jelek hina saja ga papa ku gak perduli. Yang penting aku dapat ilmu. Biar aku keliatan bodoh atau lain sebagainya. Biar aku diomongin segala macam aku cuek. Biar mereka tertawa. Tapi siapa yang sebenarnya tertawa? Aku gak tertawa aku hanya kasihan melihat mereka yang  terpancang oleh hal-hal yang mereka tak ketahui. Kalau dalam sponsor rokok “Escape from the ordinary” paham kan. Itu yang aku lakukan. Aku mencoba keluar dari belenggu masyarakat dan keberaturan yang menyesatkan. Aku berbeda, oleh karena itu apa yang kuperbuat juga berbeda. Aku tak mau terikat oleh sesuatu karena itu menyesatkanku. Aku mau menjadi diriku sendiri. Tanpa terikat dengan rasa malu, nilai, gelar, harta, pujian, hinaan, cemoohan, wanita, fashion, ataupun orang lain. Escape from the ordinary then be the true of yourself key!