Tatapannya terpaku kuat pada lembaran di atas meja. Ia mulai meluruskan
kakinya melewati kaki-kaki meja. Sembari sesekali mengerutkan keningnya ia
mulai melantangkan bacaannya. Sangat lantang hingga terdengar melewati
kamar-kamar yang hanya disekat kayu triplek tersebut. Dengan sedikit bumbu di
sana-sini ditambah beberapa cuil intonasi ia berhasil menaruh semua mata di
sudut ruangan mengarah padanya. Tampak kalau mereka juga memegang lembaran yang
sama. Suasana ujian. Pemuda kriting tersebut tak menyadari atmosfir sekitarnya
yang sudah mulai memanas dan terus membaca dengan keras mengiringi angin yang
berhembus melewati sela-sela jendela. Ya angin berhembus. Tampak pria di sampingnya
mulai bergeming dari tempat duduknya. Ia melihat si kriting dengan tatapan
sinis namun tak ada respon.
“Kang!” sontak suasanapun
menjadi sunyi.
“Nggeh” jawab si kriting
lirih.
“Jo jenggong ae!” sunyi
dan semua melanjutkan kesibukannya masing-masing
Tentu kita pernah
menjumpai suasana seperti ini. Walaupun tidak sama persis tapi minimal ada
situasi di mana anda bersama seseorang yang membaca dengan keras karena memang
itu yang akan kita bahas. Membaca keras atau lantang. Ini bukan persoalan
mengenai benar atau salah. Tapi ini merupakan bagaimana kita menjadi pembaca
yang lebih baik yang tidak hanya sekedar
menggonggongkan tulisan.
Pastilah kalian bisa
mengingat sewaktu kalian baru mulai belajar membaca. Gurulah yang menuntun kita
selama belajar membaca. Ingatkah kalian apa yang dilakukan guru untuk mengajari
kita membaca? Ya, menirukan dan membaca dengan suara keras.metode ini digunakan
hampir oleh semua guru dalam mengajari cara membaca. Namun sayangnya banyak
yang masih membawa metode ini walaupun mereka sudah tidak dalam masa membaca. Inilah
titik sumber permasalahan. Inilah di mana ketika suatu metode berubah menjadi
kebiasaan. Apa yang dipelajari semenjak
masa kecil sangatlah sulit melupakannya, itu kata Bapak psikologi. Namun apa
ini salah? Let’s see!
Menggonggongkan tulisan
dapat mengurangi efektivitas daya baca kita. Efektif, kinerja optimal hasil
maksimal. Tidak hanya membuat kita lamban dalam membaca namun juga menurunkan
kemampuan kita dalam memahami seksama makna kandungan dari teks. Cukup, singkat
padat jelas.
Lalu bagaimanakah cara
membaca yang baik? Selama ini kita memahami membaca sebagai ungkapan untuk
mengucapkan bacaan. Ini istilah kita dulu sewaktu masih kecil. Membaca berarti
berusaha menangkap makna bacaan. Bukan mengucapkan teks bukan pula memahami
teks. Mengucapkan teks berarti hanya sekedar nyomel. Memahami teks berarti
mengetahui covernya saja. Padahal tujuan utama kita membaca adalah memahami
makan, pesan yang tersirat di balaik kata-kata. Jika anda memahami teks berarti
anda cukup meninjau satu atau dua kata. Tapi di balik itu anda tidak akan
mendapatkan makna di baliknya. Kita akan mendapatkan pesan utama ketika kita
sudah selesai membaca keseluruhan teks. Hal ini sesuai dengan teori kognitif,
bahwa pemahaman atau insight itu diperoleh ketika sudah terkumpul bagian-bagian
yang mencukupi. Seperti halnya rasi bintang, kita tak akan mengetahui apa rasi
tersebut jika salah satu bagiannya tak nampak.
Membaca juga usaha
untuk mengaitkan. Mengaitkan makna teks dengan segala pengetahuan yang relevan
yang kita miliki. Coba baca satu kalimat saja dari bahasa yunani atau dari
bacaan bidang-bidang yang bukan bidang anda. Bisakah anda memahaminya? Tentu tidak.
Karena anda tak memiliki pengetahuan tentang bacaan tersebut. Semakin pengetahuan
anda luas maka semakin mudah anda memahami makna teks tersebut. Oleh karena itu
membca tidak akan bisa lepas kaitannya denga pengetahuan yang kita miliki.
Pemahaman kita
terhadap “membaca” sangat berpengaruh pada cara baca kita. Di sinilah
pentingnya pengetahuan tentang definisi. Dengan memahami pengertian kita bisa
menempatkan sesuatu pada tempatnya. Membaca bukan hanya sekedar menggongkan
teks yang sangat menjengkelkan. Membaca itu berusaha memahami makna yang
terselubung di balik teks dengan mengerahkan segala pengetahuan yamg kita
dimiliki. Saya tahu anda pembaca yang hebat yang telah mengarungi lautan
samudra buku. Maka dari itu jangan sampai mensalah artikan membaca key!

