
Sibir mulai menyalakan computer pcnya. Tanpa ia sadari tangannya bergerak sendiri. Mungkin menulis bisa sedikit pencerahan pada hatinya yang gundah saat ini. 2 bulan sudah ia mengurusi pondok asuh ini. Pondok asuh, atau lebih banyak dikenal panti asuhan. Namun kata panti asuhan agak terdengar sedikit menggelitik di telinga lagian Ibu pengasuh juga pernah bilang kalau kata pondok asuh lebih pas ketimbang Panti Asuan eh asuhan. Tangannya Cuma terdiam ketika windows melewati booting dan mulai menampakan tampilan halaman desktop. CIA, tulisan besar beserta logo yang tampak di desktop seakan menhipnotisnya. Ia lupa apa yang hendak ia lakukan. lalu ia sedikit menengok ke samping layar monitor. Ada sebuah buku terkapar dengan halaman sampulnya yang tidak begitu tertutup dengan benar tapi ia masih bisa sedikit membaca judul depannya: EYL. Otaknya berfungsi seketika seperti saklar tersambung dengan listrik seakan memberi aliran energi. Sebenarnya Sibir lagi bingung memikirkan anak asuhnya. Beribu pertanyaan mengendap di kedalaman otaknya yang dalam seperti segumpal kotoran yang sangat menggangu dan ketika disapu debunya malah ke mana-mana. Sangat menjengkelkan.
Sibir tidak begitu bisa mengingat dengan benar alasan apa yang membuat ia bisa sampai di Ponas (pondok asuh) ini. Ia hanya ingat 6 bulan yang lalu ia keluar dari pondok pesantren lalu diajak teman membantu sebuah percetakan yang ia urusi, mengingat Sibir memang punya sedikit bakat dalam mengolah gambar di komputer. Sibir belajar banyak dunia cetak-menyetak dari situ dan ia sangat mensyukurinya. Ia berkata dalam hati bahwa ia akan membuat percetakan yang besar di kampong halamannya nanti dan ia kasih nama SIBIR ADVERTISING. Ia tertawa terbahak-bahak. Tak berlangsung lama tawanya pun terhenti. Ia kembali memikirkan tentang karirnya di Ponas ini. Sekarang kiprahnya sebagai pengurus lelaki satu-satunya yang menangani secara langsung para anak asuh seakan berada di ambang pintu. Telinganya berkali-kali mendengar bahwa atasan tidak begitu senang dengan cara yang ia terapkan; ada yang bilang Sibir terlalu keras dan ada yang bilang ia terlalu malas. Ya kalau malas itu memang tidak bisa dipungkiri tapi kalau keras, mungkin sedikit tergantung siapa yang diajak omong. Banyak yang harus dibenahi, Sibir menarik nafas dalam-dalam. Monitor tua itu semakin menyiksa penglihatannya. Ia berkedip berkali-kali. Diambilnya sebatang rokok dan bergegas keluar dari kamar. Kamarnya panas dan berantakan. Ini juga sepertinya harus dibenahi, masak bapak pengurus kamarnya kaya kapal pecah begini, pikirnya lirih dalam hati. Di balik pintu hanya terlihat halaman yang dikelilingi kamar-kamar dan juga teras depan yang dipisahkan dari halaman oleh garasi. Garasi atau seharusnya disebut ruang tamu karena dilihat dari segi manapun ruang ini terlihat lebih cocok jadi ruang tamu. Dari depan pintu kamarnya Sibir bisa mendengar suara TV. Ia bisa membayangkan mungkin sebagian dari anak-anak ada yang masih terjaga melihat TV dan mungkin ada juga yang sudah kembali ke kamar karena kelamaan nunggu acara TV kesayangannya atau lebih parah lagi kelamaan nunggu tapi ternyata hari ini bukan waktu show dari acara TV tersebut hehe. Pikiran Sibir melayang ke mana-mana.
Malam ini begitu pekat. Kaki-kakinya yang berbalut sandal jepit mengantarkannya ke depan teras. Di sini sangat sepi dan tenang, pikirnya lagi. Ia memandangi langit yang hitam malam itu dan bersyukur lagi karena masih bisa berada di tempat itu. Walaupun di sana ia menanggung beban yang berat sebagi pengasuh bagi anak-anak yatim piatu tapi Sibir tetap bersyukur karena masih bisa menanggung amanah besar dari tuhan. Ia hanya berpikir bahwa sesuatu yang besar tentu juga berat untuk memikulnya. Apa yang ia hadapi di sana adalah sebuah anugrah, sebuah kesempatan yang jarang dan sulit didapatkan. Apa pahala yang lebih besar ketimbang mengasuh anak kecil yang kekurangan kasih sayang? Di setiap doanya ia hanya meminta satu hal; agar diberi istri yang cantik eh agar ia dapat tetap berada di tempat itu bersama para anak-anak untuk waktu yang lebih lama. Masih banyak yang harus dibenahi. Wah ga sadar udah bedapat beberapa paragraf. Waktunya tidur ^___^