Tadi saya bikin status begini: "Sastra ga lebih seperti main game, nonton film, jalan-jalan. Wajar jadi nikmati saja" Lalu ada yang komen: "Sebagai penikmat mungkin saja anda bilang seperti itu. Saya secara pribadi sebagai penulis menganggap seperti main game tapi saya sendiri yang membuat karakter dan ceritanya, seperti meracik kopi dengan biji kopi sedunia dan... (lupa)". Ya maksud saya sih bukan merendahkan bang. Tapi ya bisa juga dibilang merendahkan tapi dalam konteks sosial. Merendahkan sedikit agar semua mampu meraihnya.
Saya risih ketika tidak ada yang komen dan risih ketika ada teman yang bilang itu karena statusmu keduwuren. Saya hidup dan tinggal di desa berkumpul bersama mereka yang lelah akan pendidikan. Terlalu lama desa menjauh dari pendidikan muncul anggapan pendidikan sesuatu yang sulit diraih dan begitu juga hal-hal yang berkaitan dengannya. Sastra, bahasa Inggris, kata-kata ilmiah berubah menjadi sederetan tabu yang menjamur dalam benak masyarakat. Tak terbendung dan mencuatlah "keduwuren wong kuwi", "Halah-halah sinau barang!", "Byuh atek woconane ngunu wi" seakan-akan mengatakan: "Hal itu. Aku tidak mampu dan tak akan pernah mampu". Bukankah miris mengetahui sanak saudara kita sendiri berkata seperti itu. Memberi kesempatan pada keputus-asaan untuk menutup mimpi-mimpi mereka. Lebih jauh lagi banyak dari mereka yang berusaha menggapai pendidikan cuma untuk mendapatkan "wah" dari mereka yang tidak "wah". Belajar untuk mendapat nilai dan dinilai pintar, menulis untuk mendapat appresiasi basi, berkarya demi penghargaan murahan.Belajar untuk mendapat ilmu, menulis untuk berbagi rasa dan berkarya untuk memberi manfaat sesama, bukankah itu yang selalu diajarkan Nabi kita.
Belajar bahasa Inggris bukan untuk kelihatan "wah". Puisi tidak untuk dianggap puitis. Belajar bahasa untuk memperlebar jangkauan kapasitas wawasan. Puisi untuk dinikmati bersama keindahannya. Penghargaan dan appresiasi "wah" bukanlah hadiah emas berkilau yang patut dipuja-puja melainkan cuma dampak hukum sebab-akibat fana dan mereka yang tulus berbagi dan membantu sesama sudah wajar dan layak untuk mendapatkannya. Sudah cukup kiranya bagi ia yang tulus bersungguh-sungguh melihat lain bisa tersenyum karena hasil kerja kerasnya. Steve Job pernah mengungkapkan, "lakukan dan tekunilah yang kau suka maka uang akan datang dengan sendirinya". Menekuni hobi dan berusaha menggunakannya untuk dimanfaatkan pada semua dan siapakah yang tidak berterima kasih pada yang telah membantunya? Semoga Ia selalu memberi jalan bagi mereka yang tulus dan ikhlas


