Sabtu, Januari 25, 2014

MIMPI DAN APRESIASI

       Tadi saya bikin status begini: "Sastra ga lebih seperti main game, nonton film, jalan-jalan. Wajar jadi nikmati saja" Lalu ada yang komen: "Sebagai penikmat mungkin saja anda bilang seperti itu. Saya secara pribadi sebagai penulis menganggap seperti main game tapi saya sendiri yang membuat karakter dan ceritanya, seperti meracik kopi dengan biji kopi sedunia dan... (lupa)". Ya maksud saya sih bukan merendahkan bang. Tapi ya bisa juga dibilang merendahkan tapi dalam konteks sosial. Merendahkan sedikit agar semua mampu meraihnya.

        Saya risih ketika tidak ada yang komen dan risih ketika ada teman yang bilang itu karena statusmu keduwuren. Saya hidup dan tinggal di desa berkumpul bersama mereka yang lelah akan pendidikan. Terlalu lama desa menjauh dari pendidikan muncul anggapan pendidikan sesuatu yang sulit diraih dan begitu juga hal-hal yang berkaitan dengannya. Sastra, bahasa Inggris, kata-kata ilmiah berubah menjadi sederetan tabu yang menjamur dalam benak masyarakat. Tak terbendung dan mencuatlah "keduwuren wong kuwi", "Halah-halah sinau barang!", "Byuh atek woconane ngunu wi" seakan-akan mengatakan: "Hal itu. Aku tidak mampu dan tak akan pernah mampu". Bukankah miris mengetahui sanak saudara kita sendiri berkata seperti itu. Memberi kesempatan pada keputus-asaan untuk menutup mimpi-mimpi mereka. Lebih jauh lagi banyak dari mereka yang berusaha menggapai pendidikan cuma untuk mendapatkan "wah" dari mereka yang tidak "wah". Belajar untuk mendapat nilai dan dinilai pintar, menulis untuk mendapat appresiasi basi, berkarya demi penghargaan murahan.Belajar untuk mendapat ilmu, menulis untuk berbagi rasa dan berkarya untuk memberi manfaat sesama, bukankah itu yang selalu diajarkan Nabi kita.

       Belajar bahasa Inggris bukan untuk kelihatan "wah". Puisi tidak untuk dianggap puitis. Belajar bahasa untuk memperlebar jangkauan kapasitas wawasan. Puisi untuk dinikmati bersama keindahannya. Penghargaan dan appresiasi "wah" bukanlah hadiah emas berkilau yang patut dipuja-puja melainkan cuma dampak hukum sebab-akibat fana dan mereka yang tulus berbagi dan membantu sesama sudah wajar dan layak untuk mendapatkannya. Sudah cukup kiranya bagi ia yang tulus bersungguh-sungguh melihat lain bisa tersenyum karena hasil kerja kerasnya. Steve Job pernah mengungkapkan, "lakukan dan tekunilah yang kau suka maka uang akan datang dengan sendirinya". Menekuni hobi dan berusaha menggunakannya untuk dimanfaatkan pada semua dan siapakah yang tidak berterima kasih pada yang telah membantunya? Semoga Ia selalu memberi jalan bagi mereka yang tulus dan ikhlas

Minggu, Januari 12, 2014

Lakukan yang terbaik Sobat!


     Hari ini teman saya bertanya perihal mengenai skripsi dan berhubung objek kajian kami tidak terlalu berbeda ia mengajak saya tuk bekerja sama dengan berbagi referensi. Lalu saya jawab dengan mudah: "Ya pikir-pikir lah, referensiku kan dah banyak ngapain bagi-bagi referensi? ha ha" tawaku lepas pertanda ku enggan. Namun sebenarnya ini bukan perihal mau atau tidak mau. Bukan bermaksud pelit bukan bermaksud sombong namun jika ditelaah lagi jika memang kami benar-benar saling membantu, ia membantu saya dan saya membantunya, apa yang kami peroleh? Itu yang saya maksud. 
 

       Berpikir panjang sebelum mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang dipunya guna mendapat keputusan yang lebih baik tentulah penting. Hasil jangka pendek dan jangka panjang perlu diperhatikan.Jika saya memberitahu bahwa saya setuju untuk berbagi referensi tentu dia, saya tidak terkecuali, akan merasa lebih tenang dalam artian mengandalkan pada orang lain daripada dirinya sendiri. Alhasil ia tidak menjadi serius dalam mencari referensi dan tidak serius dalam mengerjakan skripsinya. Ini hanya perbedaan antara kata-kata dan tindakan. Sudah pasti nanti saya akan membagi referensi denganya, tiada yang sulit dari hal itu lagian saya mendapat tambahan referensi darinya pula. Tapi kata-kata ibarat pedang. Dengan menolak secara kata-kata, bukan secara tindakan, kami berdua bisa mendapat hasil yang lebih baik, kami berdua lebih serius dalam mengerjakan skripsi karena tidak mengandalkan satu sama lain pula kami nantinya akan mendapat referensi lebih dengan berbagi referensi. Lalu bagaimana jika dia nantinya berpikir negatif terhadap saya? (Karena menolak tadi). Ya tidak masalah. Sekarang pilih hasil yang baik atau cuma dianggap sebagai orang baik? Kalau saya lebih pilih hasil yang lebih baik masa bodoh dengan persepsi orang terhadap saya. 


       Saya menyebut ini sebagai makna sebenarnya dari shodaqoh sirri. Shodaqoh sirri tidak hanya berupa menginfakkan harta secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang lain. Namun usaha kita dalam membantu orang lain tanpa membuat mereka menyadari bahwa kita telah membantu mereka juga merupakan shodaqoh sirri. Mereka menganggap pelit, sombong, mereka mengejek dan menggosipkan kita namun sebenarnya kitalah yang selama ini menolong mereka. Keren kan? Sangat keren memang! Ada cerita seorang teman dari teman yang punya adik sepupu yang ingin masuk pondok yang sama dengan dirinya. Namun ketika adiknya baru masuk pondok beberapa bulan ia keluar dari pondok tersebut. Sejak itu ia sangat jarang bertemu ataupun menjenguk adiknya di pondok. Orang tua adiknya tersebut , paman dan bibi si pemuda, lantas mulai menggerutu ketika tahu dia yang tidak mau memperhatikan anak mereka yang susah payah di pesantren. Pemuda tersebut sebenarnya bukannya tidak mau memperhatikan adiknya tapi ia mengerti bahwa ia harus melakukan hal tersebut. Adiknya harus bisa mandiri di pondok tanpa mengandalkan siapapun. Karena justru dari rasa takut karena menyadari bahwa dirinya itu sendirian dan tidak ada yang membantu, ia bisa merasakan susah senangnya di pesantren. Bagaimana rasanya kehabisan uang, bagaimana rasanya lapar, bagaimana rasanya belajar sendirian dan juga bagaimana ketika semua kesusahan itu terasa menyenangkan jika dilalui bersama-sama dengan teman-temannya di sampingnya. Dengan begitu si pemuda berharap bahwa adiknya bisa merasakan apa yang ia rasakan dulu, merasakan inti dari mondok di pesantren dan merasakan dengan betul bahwa mondok merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Tidak masalah orang lain berkata apa yang pemuda itu ingin hanyalah senyum dari adiknya nanti ketika keluar dari pesantren.


        Tidak perlu mempermasalahkan persepsi orang lain terhadap kita. You cannot please everyone, begitu kata mereka yang berpengalaman. Selama kita tahu itu yang terbaik maka lakukanlah. Biar orang berkata apa yang terpenting ada Satu yang selalu mengetahui apa-apa yang kita lakukan dan balasan dariNya adalah yang terbaik dari yang terbaik, yang paling diharapkan dari yang diharapkan. Belajar, belajar dan belajar!

Sabtu, Januari 11, 2014

Dapat apa dari kuliah?

       
        Suatu hari, ketika saya berada di kedai kopi (singkatnya: warung), ada seorang adik kelas saya dari  masa Aliyah dulu. Saya heran dan kaget  sewaktu melihatnya membawa laptop dan nampak enjoy dalam mengoperasikannya. Padahal dulu saya masih ingat betul kalau ini anak Gaptek banget, jangankan mengoperasikan, ketika hendak menyalakan atau mematikan saja ia selalu bertanya pada temannya. Jika diajak bicara persoalan teknologi ia selalu diam dan berkata; “Aku ni gak tahu apa-apa mas soal gituan, jadi jangan Tanya deh. Malah tambah bingung nanti” sambil tersenyum kecil, merendah. Tak lama berselang datang seorang teman. Sembari mengeluarkan laptop ia mulai mengajak berbicara. Saya pun masih mengamati pembicaraan dua arah yang berlangsung tersebut dan saya yakin pembicaraan mereka berdua pasti tidak lepas dari apa yang mereka bawa, laptop.

        Berkumpul bersama teman sebaya mengerjakan dan membahas sesuatu bersama adalah hal terpenting yang terkandung dalam unsur perkuliahan. Karena dengan itu kita dapat selalu saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Seorang yang tidak tahu A namun ketika berkumpul bersama mereka yang tahu mengenai A berubah menjadi tahu A. Ini adalah proses pembelajaran kita di luar kelas. Kita, dalam arti mahasiswa kuliah yang, walaupun ada dari kita yang merasa tidak mendapat apa-apa dari apa yang kita pelajari sehari-hari di kelas. Sebenarnya tanpa kita sadari kita telah mendapatkan banyak hal dari luar kelas. Mungkin cerita tadi hanya sebatas pengoperasian laptop dan mungkin juga pembicaraan tersebut membahas masalah yang kurang krusial seperti main game, film baru, lagu terupdate, tapi justru itulah intinya. Walaupun sepele namun perihal sepele tersebut berhasil membawa kita ke arah yang lebih baik, dari tidak tahu menjadi tahu dan saling berbagi ilmu pengetahuan. Sekarang coba pikir, institusi mana yang tidak mengharuskan kemahiran dalam operasi komputer? Virtually no one! Hampir tidak ada! Semua lapangan pekerjaan di era ini mengharuskan kita mahir dalam menggunakan komputer. Kalaupun ada yang tidak mengharuskan setidaknya orang yang menguasai komputer lebih unggul daripada mereka yang tidak. Belum lagi adanya organisasi dan forum-forum di dunia perkuliahan. Tentu dengannya, jika kita mau mengikuti dan mengambil manfaat darinya, kita punya kesempatan untuk mendapat pengalaman lebih dan lebih. Di sebuah kedai kopi saja kita bisa mendapat ilmu yang sangat bermanfaat apalagi di UKM STAIN, di forum-forum diskusi, tentu lebih lagi apa-apa yang bisa diperoleh.

      Kita kelak tidak mungkin menjadi orang yang sama. Tidaklah logis jika semua wisudawan jurusan tarbiyah nanti kesemuanya menjadi seorang yang berprofesi sebagai pendidik. Karena pada dasarnya mereka semua memang berbeda. Untuk itu kita perlu memburu kompetensi-kompetensi lain yang dapat menunjang karir kita nanti. Kondisi ini, di mana pemuda sebaya dapat berkumpul dan sharing bersama, hanya terdapat di dunia perkuliahan. Sewaktu kita terjun kembali ke masyarakat kelak belum tentu bisa mendapat kesempatan yang sama. Jangan siakan kesempatan ini. Walaupun tidak mahir dalam mengambil pelajaran di kelas tapi setidaknya kita harus mampu mengambil pelajaran lain di luar kelas. Belajar, belajar, belajar!

____L3

Membaca?? Ada caranya




      Punya masalah dengan membaca? Sering bosan atau mengantuk sewaktu membaca? (atau bahkan ketiduran) Itu wajar! Karena membaca bukan hal yang bisa dipaksakan. Coba lihat. Bukankah makan sayur itu penting? tapi apa kita mau makan sayur mentah-mentah? Tentu tidak. Kita masak terlebih dahulu sang Sayur baru kemudian bisa dikonsumsi. Bahkan tidak sedikit juga yang hanya mau makan sayur jika dimasak dicampur dengan yang lain seperti sayur dalam mie ayam atau yang lainnya. Membaca, atau aktivitas lain yang tidak kalian suka juga kurang lebih seperti itu. Ada dari mereka yang betah membaca hanya pada saat sepi, ada juga yang suka membaca sambil mendengarkan musik, bahkan ada juga yang lebih suka membaca ebook lewat notebook daripada buku asli. Membaca harus dimodifikasi dan disesuaikan dengan selera agar kita bisa betah melakukannya. Dan yang bisa menjawab selera tersebut ya... hanya diri individu kita masing-masing.

       Budaya membaca mempunyai banyak faktor yang mempengaruhi. Tempat, waktu, objek yang dibaca, tipe bacaan, semua punya bisa berpengaruh. Jika terus saja mengantuk jika membaca di kamar maka coba tempat yang lain; di taman, di teras, di kelas, atau bisa juga di warung. Kalau malam hari terasa berat untuk membaca coba di waktu sore jika masih tidak enak coba ketika habis makan atau waktu yang lain. Bagi perokok coba membaca dengan ditemani secangkir kopi dan rokok. Sebenarnya simpel, cukup sandingkan membaca dengan waktu, tempat, atau hal lain yang kita sukai.

       Berbagai karakter membaca timbul dari karakter tiap manusia yang berbeda-beda. Jujur saya tidak bisa jika disuruh membaca suatu buku dari awal hingga akhir sampai lunas. Saya lebih cenderung meloncat ke bagian yang menarik lalu menyebar ke bagian yang lainnya. Ada yang bilang ini merupakan tipe mambaca chef yang suka memilah-milah sesuai dengan selera. Ada juga tipe arkeolog yang suka membaca dengan perlahan dan teliti dari awal hingga akhir. Dan ada juga yang cukup lucu yakni tipe pembalap yang suka membaca cepat tanpa memperhatikan rambu-rambu(yang penting selesai mbuh paham mbuh ora). Tiada yang salah dengan cara membaca tersebut. Jika masing-masing dari kita mau mencari insy kita bisa menemukan cara yang tepat untuk membaca.

       Membacalah dari hal yang kecil dan kalian sukai. Ada cerita dari temannya teman saya  yang dulu hanya suka membaca komik dan tidak yang lain. Kemudian suatu ketika dia membaca suatu komik yang didalamnya sering membahas gangguan kejiwaan atau bisa disebut masalah psikologi. Dari sana ia mulai tertarik dengan psikologi dan sering melakukan browsing-browsing. Dan secara tidak sengaja ketika berkunjung ke bookfair ia menemukan sebuah buku mengenai psikologi dan langsung saja ia beli (wong jenenge seneng!). Dalam buku psikologi tersebut, ia menemukan seorang tokoh yang kutipan-kutipan kalimatnya fenomenal. Ternyata tokoh tersebut adalah seorang ahli linguistik (Ahli bahasa). Dengan menulusuri background tokoh tersebut ia menemukan sebuah garivitasi yang secara menarik, menariknya ke dalam dunia linguistik. Berawal dari hal tersebut ia mulai menyukai kuliah karena ternyata ia juga adalah seorang mahasiswa jurusan bahasa. Memang begitulah ilmu pengetahuan: semakin kita mengerti semakin kita haus untuk lebih mengerti dan itu akan terus merambat selama ia mau untuk terus belajar. Jangan mulai membaca dari hal yang tidak disukai karena itu hanya akan membuat kita semakin membenci membaca.

      Gimana? Maukah Anda sekarang membaca? sudah tau caranya to? Hilangkan persepsi buruk mengenai membaca. Pikirkan saja mengenai sayur tadi dan mulailah memasak. Jika punya anak besok ajari dia cara membaca yang benar. Lengkapi kebutuhan membacanya. Kasih meja khusus membaca, belikan buku-buku yang bisa menarik perhatiannya, tidak masalah walaupun itu cuma komik tapi dari komik arahkan ia untuk tertarik membaca yang lain. Membaca itu mudah asal kita tahu cara membaca dan mau untuk terus belajar.

Learn, learn and Learn