Selasa, Juni 19, 2012

Seni dalam merokok


                Rokok, ya itulah yang akan kita perbincangkan pada kesempatan kali ini. Sebungkus kertas berisi tembakau kering yang disulut ujungnya untuk menikmati asap yang dihisap di ujung satunya. Intinya  menikmati asap. Asap ini sungguh nakal dan menjengkelkan. Ia kerap mengganggu orang-orang. Siapa saja yang mendekat pasti ia ganggu. Namun tidak seperti nakal yang lain. Di samping nakal ia juga menyenangkan. Namun, Sewaktu kata “Rokok” disebut,  pasti yang mengiringi tidak lain adalah persepsi-persepsi yang negatif. Seperti halnya pengamen di bus yang kerap mengganggu para penumpang yang sedang asik nutupin hidung(cewek biasanya), mereka sering dianggap pengganggu. Namun terkadang menyenangkan jika kita mau menyelam lebih dalam ke dunia mereka. Tidak hanya menjengkelkan tapi juga menyenangkan. Tidak hanya punya sisi negative tapi juga punya sisi positif. Ini yang kusebut dengan seni. Rokok punya seni dan itulah minuman kita pada acara kali ini. Seni dalam merokok.
                Sering kita memperhatikan tingkah laku masyarakat kita dalam berbelanja. Rakyat lebih memilih menghabiskan uangnya untuk membeli produk luar. Produk luar punya prestise tersendiri di mata masyarakat. Siapa yang punya produk luar pasti terlihat wah! Semakin jauh  barang tersebut diperoleh, semakin wah ia. Wahh! “Lihat jenk, ku baru beli tas impor lo, made in Korea gitu!” jenk satunya menyahut cepat”masa sich!!”99x, tapi yang lain gak mau kalah “Oalah Korea to! Biasa jenk itu mah! Punyaku lo dari Etiopiaa!!.......??. Sangat bangga dan sangat gila! Apa barang impor mesti berkualitas? Apa produk lokal tidak lebih baik? Banyak produk lokal yang lebih berkualitas dan tidak kalah saing. Mereka lebih murah dan lebih khas. Dengan membelinya berarti membantu diri sendiri, sesama dan juga Negara. Kita mesti pernah memikirkan hal ini namun teori berbeda dengan praktek. Tahu yang benar tapi tetap memilih yang buruk, itulah saya! Eh? Lha trus apa hubungannya dengan rokok? Sangat erat. Rokok, adalah satu-satunya produk buatan lokal yang laris manis dibeli oleh rakyat kita. Dalam sisi yang berbeda, rokok telah membangun Negara, mengangkat kemiskinan. Andai semua mau membeli produk lokal dengan semangat membara layaknya perokok yang membeli rokok, bukankah hebat! Menghisap rokok berarti merugikan diri sendiri karena penyakitnya namun menguntungkan yang lain karena manfaat jangka panjangnya. Oleh karena itu saya berpikir bahwa para perokok berat adalah orang-orang yang punya tenggang rasa dan  rasa empati yang tinggi. Lho? Iya, karena mereka sengaja membuat diri  mereka kecanduan agar saat  berada dalam kondisi ekonomi yang seperti apapun mereka bisa tetap meluangkan uang hasil jerih payah untuk membeli rokok. Tidak lain dan tidak bukan hanya untuk membahagiakan orang lain. Walaupun diri mereka sendiri sedang dalam badai krisis. Walau perut mereka harus terus dililit rasa lapar. Sangat mengharukan!
                Saya menulis ini bukan bermaksud membela atau mendukung para kaum ahli hisab tapi saya hanya ingin membela diri saya sendiri. Ya diri saya sendiri. Setiap rasa nggumun teman yang melihat saya sedang merokok mulai membuat saya merasa muak. Saya hanya bisa mengatakan kalau saya ini bukan perokok berat namun hanya “bisa merokok”. Ini karena saya menganggap rokok sebagai sebuah kebutuhan tidak hanya dari satu aspek tapi berbagai aspek. Sekelumit cerita. Bukan bermaksud sombong tapi hanya sedikit membesarkan kepala, saya memang anak pandai dari sekian anak yang pandai. Namun bagi kaum pandai, membaur dengan kaum nakal merupakan suatu problem tersendiri. Dua kubu ini selalu berada di dalam sisi yang saling berseberangan. Ini disebabkan adanya persepsi bahwa mereka itu berbeda. Perilaku psikologis demikian menyebabkan kurangnya pemerataan ilmu. Ilmu yang ia miliki hanya berkutat dalam pikirannya. Padahal ia diharapkan mampu mengajak teman dan orang di sekitarnya untuk maju bersamanya. Bayangkan ketika seorang bukan perokok merokok tiba-tiba berkumpul dengan teman-teman lain yang tentunya perokok berat. Pasti bingung. Mau ngapain bingung temannya juga bingung mau ngajak ngomong apa. Ada rasa canggung di sini.  Alhasil, niat untuk berbaur dan saling berbagi gagal. Nah, saatnya rokok beraksi!. Dalam psikologi, ketika seseorang mempunyai suatu kesamaan dengan yang lain maka akan terjadi kecocokan, istilah kita “Klop!”. Dan alat peng”Klop” itu adalah rokok. Teman saya “R” juga begitu. Begitu dia tahu bahwa saya juga perokok(walau sebenarnya hanya sekedar bisa) sikapnya berubah. Suasana berubah. Ada sisi keterbukaan darinya yang kulihat melalui celah gelagatnya. Terpujilah rokok, ia mau bercerita bahkan sampai hal pribadi. Kami terus berbagi dan saling membantu masalah. Dia tahu dunia saya dan saya juga dunianya tanpa ditutupi sehelai keraguanpun. Bahkan esoknya ia mau mengunjungi saya lagi. Rokok, di samping berbahaya namun bisa menjadi senjata ampuh dalam bersosialisasi. Orang yang punya “bakat“ merokok sudah tidak perlu lagi khawatir untuk bergaul dengan siapa saja. Orang kaya, orang miskin, orang susah, orang sukses, perokok, bukan perokok bukan masalah. Rokok ternyata bisa menjadi sarana dakwah dan mengayomi sesama. Inilah seni merokok!
                Perbincangan perihal rokok tidaklah bisa lepas dari penyakit penyakit yang mungkin ia unggah dalam tubuh penghisabnya. Ancaman yang tertulis di kemasan merupakan ancaman yang nyata dan benar adanya. Wah bahaya donk? Ya iyalah!. Seperti yang saya utarakan sejak awal, merokok merugikan diri sendiri. Namun jika anda memahami apa yang saya pikirkan terhadap rokok, anda akan memahami bahwa penyakit yang ditimbulkan bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan manfaat yang ia berikan. Bahkan lagi seperti yang saya katakan sejak awal bahwa rokok punya seni dan justru dalam penyakit itulah seni yang paling dalam tersimpan. Tapi apa hubungan penyakit dengan seni? Merokok bisa membuat kita tenggelam namun jika kita pandai kita bisa meraih mutiara sebelum nafas terakhir berhembus. Para sufisme berpandangan bahwa semakin berat penderitaan cobaan yang mendera hidup seseorang maka semakin tinggi derajatnya di sisi tuhan. اشدَ البلاء على الأنبياء فالأولياء فالأمثال فالأمثال     Tingkatan cobaan yang paling berat dialami oleh para nabi kemudian para wali kemudian yang lebih rendah dang yang lebih rendah lagi. Tapi mengapa cobaan menjadi standarisasi derajat seseorang? Karena hanya dengan cobanlah dapat diketahui tingkatan kesabaran seseorang. Allah menilai seberapa jauh kita bersabar menghadapi cobaannya. Bagaimana cobaan tersebut semakin menjauhkan kita dariNya ata semakin mendekatkan kita kepadaNya.  Pernah suatu ketika nabi dikunjungi oleh seorang perempuan yang mengidap penyakit parah kemudian ia meminta Nabi untuk menyembuhkannya. Namun apa jawab Rasul? “Jika engkau meminta kesembuhan maka niscaya Allah menyembuhkanmu namun jika kau mau bersabar menghadapinya maka Sebenarnya Surga tengah menantimu” Lalu ia beranjak pergi memilih untuk bersabar. Kembali ke rokok, bukan bermaksud mencari penyakit tapi merokok memang sebuah kebutuhan dengan alasan-alasan yang telah saya ulas sebelumnya. Toh memang jika nanti saya terkena penyakit atau mendapat cobaan akibat rokok tersebut ya Alhamdulillah. Berarti saya mendapat kesempatan masuk surga. Dengan menjadi “ahli hisab” kita bisa menjadi ahli surga bighoiri hisab. Lumayan kan dapat tiket masuk surga seharga batang rokok.
                Bahaya rokok memang jelas jika dilihat sekilas. Merusak badan diri sendiri dan menganggu orang lain. Saya tidak bermaksud mendukung adanya rokok. Saya hanya ingin nmenghilangkan adanya persepsi buruk yang sudah melekat dalam termin rokok. Tidak setiap perokok itu berhak menyandang predikat jelek. Bahkan rokok ternyata punya unsur seni dan seni mempunyai arti yang dalam. Oleh karena itu untuk mengetahui seni dalam merokok kita perlu menggali lebih dalam. Dengan merokok kita tidak hanya mengganggu orang sekitar tapi juga membantu mengangkat kemiskinan di negri tercinta. Merokok juga bisa menjadi media sosialisasi yang ampuh tur menyenangkan. Membeli rokok berarti membeli tiket surge jika dimulai dengan niat yang benar. Beranikah anda merokok?

Senin, Juni 11, 2012

Sukses = 30 tahun

          
 "Usia 30 tahun ialah puncak masa kejayaan seseorang, karena pada usia tersebut  bergabung dua unsur penting fisik yang kuat dan pengalaman yang matang". Demikianlah Pak Dahlan Iskan bertutur dalam sebuah seminar di Surabaya kemarin.
            Sebuah motivasi bagi saya untuk mendongkrak mobil jurusan mimpi. Menyulut api semangat tuk terus berjuang. Karena itu saya sangat berterima kasih pada Pak Iskan yang sudi berbagi pengalamannya walau awalnya justru ia kuanggap tak lebihnya dari Pak tua peyot yang sedang menikmati kursi emasnya. Tapi nyata sekali bahwa presentasinya telah  meruntuhkan persepsi bodoh tersebut. Apa yang pak tua ini sampaikan begitu mengena dengan realita konteks yang ada. Dengan gaya bicara yang lugas dan kasual membuat tiap tutur sabdanya kian deras mengalir di relung batin tiap pendengar. Sangat fantastis!
            Pada kesempatan kali ini saya mengajak berbincang sedikit mengenai apa yang disebut dengan kesuksesan. Saya memang bukan anak yang paham betul apa yang disebut dengan kesuksesan karena memang jika dihitung mungkin lebih banyak gagalnya daripada suksesnya. Tapi saya hanya mencoba merenung, dan berbicara beberapa pokok persoalan yang terbangun dari apa apa yang yang telah disampaikan Pak Dahlan. Dan itu sudah nampak sejak awal paparan ini. Bagaimana kita mencapai puncak kesuksesan? ini hal pertama yang harus kita jawab bersama. Dalam hal ini, tidaklah cukup jika hanya memandang dari segi berjalannya usia saja. Tapi faktor yang mempengaruhi kesuksesan tersebut juga memerlukan telaah yang lebih dalam. Lalu apakah faktor tersebut? benar, Fisik yang kuat dan pengalaman yang mumpuni.  Seorang pemuda yang fisiknya jreng mentereng kuat bekerja hingga berjam jam mentelengi pekerjaan tanpa makan tanpa minum di tengah pekatnya malam, terus tanpa mengenal istilah lelah sangatlah hebat tapi bodohnya gak ketulungan. Mengapa? Karena kerja tanpa diiringi pengalaman yang mumpuni sudah barang jelas hanya akan menghasilkan kegagalan demi kegagalan. Tapi tidak apa apa jangan berkecil hati. Bagi kamu kamu yang selama ini termasuk pemuda ganas tak berotak seperti itu ingat! masih ada masa depan. Bukankah kegagalan merupakan awal dari keberhasilan? Di sisi lain, orang tua renta bin peyot pastilah memiliki segudang pengalaman yang bejibun. Tapi tetap saja kurang  mengena. Tiap kali batinnya berhasrat tuk bekerja fisiknya terus saja merengek dan meronta ronta. Jangankan untuk bekerja, wong gak tidur semalam saja udah masuk angin. Apalagi mau kerja keras banting tulang siang malam tanpa makan! bisa remuk tuh tulang.
             Namun tidak demikian halnya denga usia 30 tahun. Pada usia tersebut tingkat pengalaman dam kekuatan fisik serupa dalam keseimbangan. Balance. Punya pengalaman yang matang dan fisik yang kuat. Bekerja sampai puas dengan hasil yang memuaskan pula. Terserah mau diapakan pengalaman itu, kondisi badan selalu siap untuk berperang. Tapi, ada tapinya ini. Itu hanya diperuntubagi mereka mereka yang benar benar mau berjuang selama masa transisi, sebelum usia 30. Berjuang menggali potensi diri dan mengumpulkan pengalaman sebanyak mungkin. Tapi itu terserah, itu hanyalah opsi. Bukankah hidup adalah pilihan? Pemerintah kita tentu sudah mengerti akan hal ini. Oleh karena itu dimunculkan berbagai tingkatan jenjang pendidikan sebagai wadah pendadaran sampai kita siap dan mampu menjadi "Kelas perubah sejarah Indonesia"
Sudah Siapkah anda?