Rokok,
ya itulah yang akan kita perbincangkan pada kesempatan kali ini. Sebungkus
kertas berisi tembakau kering yang disulut ujungnya untuk menikmati asap yang
dihisap di ujung satunya. Intinya
menikmati asap. Asap ini sungguh nakal dan menjengkelkan. Ia kerap
mengganggu orang-orang. Siapa saja yang mendekat pasti ia ganggu. Namun tidak
seperti nakal yang lain. Di samping nakal ia juga menyenangkan. Namun, Sewaktu
kata “Rokok” disebut, pasti yang
mengiringi tidak lain adalah persepsi-persepsi yang negatif. Seperti halnya
pengamen di bus yang kerap mengganggu para penumpang yang sedang asik nutupin
hidung(cewek biasanya), mereka sering dianggap pengganggu. Namun terkadang
menyenangkan jika kita mau menyelam lebih dalam ke dunia mereka. Tidak hanya
menjengkelkan tapi juga menyenangkan. Tidak hanya punya sisi negative tapi juga
punya sisi positif. Ini yang kusebut dengan seni. Rokok punya seni dan itulah
minuman kita pada acara kali ini. Seni dalam merokok.
Sering
kita memperhatikan tingkah laku masyarakat kita dalam berbelanja. Rakyat lebih
memilih menghabiskan uangnya untuk membeli produk luar. Produk luar punya
prestise tersendiri di mata masyarakat. Siapa yang punya produk luar pasti
terlihat wah! Semakin jauh barang
tersebut diperoleh, semakin wah ia. Wahh! “Lihat jenk, ku baru beli tas impor
lo, made in Korea gitu!” jenk satunya menyahut cepat”masa sich!!”99x, tapi yang
lain gak mau kalah “Oalah Korea to! Biasa jenk itu mah! Punyaku lo dari
Etiopiaa!!.......??. Sangat bangga dan sangat gila! Apa barang impor mesti
berkualitas? Apa produk lokal tidak lebih baik? Banyak produk lokal yang lebih berkualitas
dan tidak kalah saing. Mereka lebih murah dan lebih khas. Dengan membelinya
berarti membantu diri sendiri, sesama dan juga Negara. Kita mesti pernah memikirkan
hal ini namun teori berbeda dengan praktek. Tahu yang benar tapi tetap memilih
yang buruk, itulah saya! Eh? Lha trus apa hubungannya dengan rokok? Sangat
erat. Rokok, adalah satu-satunya produk buatan lokal yang laris manis dibeli
oleh rakyat kita. Dalam sisi yang berbeda, rokok telah membangun Negara,
mengangkat kemiskinan. Andai semua mau membeli produk lokal dengan semangat
membara layaknya perokok yang membeli rokok, bukankah hebat! Menghisap rokok
berarti merugikan diri sendiri karena penyakitnya namun menguntungkan yang lain
karena manfaat jangka panjangnya. Oleh karena itu saya berpikir bahwa para
perokok berat adalah orang-orang yang punya tenggang rasa dan rasa empati yang tinggi. Lho? Iya, karena
mereka sengaja membuat diri mereka kecanduan
agar saat berada dalam kondisi ekonomi
yang seperti apapun mereka bisa tetap meluangkan uang hasil jerih payah untuk membeli
rokok. Tidak lain dan tidak bukan hanya untuk membahagiakan orang lain.
Walaupun diri mereka sendiri sedang dalam badai krisis. Walau perut mereka harus
terus dililit rasa lapar. Sangat mengharukan!
Saya
menulis ini bukan bermaksud membela atau mendukung para kaum ahli hisab tapi
saya hanya ingin membela diri saya sendiri. Ya diri saya sendiri. Setiap rasa
nggumun teman yang melihat saya sedang merokok mulai membuat saya merasa muak.
Saya hanya bisa mengatakan kalau saya ini bukan perokok berat namun hanya “bisa
merokok”. Ini karena saya menganggap rokok sebagai sebuah kebutuhan tidak hanya
dari satu aspek tapi berbagai aspek. Sekelumit cerita. Bukan bermaksud sombong
tapi hanya sedikit membesarkan kepala, saya memang anak pandai dari sekian anak
yang pandai. Namun bagi kaum pandai, membaur dengan kaum nakal merupakan suatu
problem tersendiri. Dua kubu ini selalu berada di dalam sisi yang saling
berseberangan. Ini disebabkan adanya persepsi bahwa mereka itu berbeda. Perilaku
psikologis demikian menyebabkan kurangnya pemerataan ilmu. Ilmu yang ia miliki
hanya berkutat dalam pikirannya. Padahal ia diharapkan mampu mengajak teman dan
orang di sekitarnya untuk maju bersamanya. Bayangkan ketika seorang bukan
perokok merokok tiba-tiba berkumpul dengan teman-teman lain yang tentunya
perokok berat. Pasti bingung. Mau ngapain bingung temannya juga bingung mau
ngajak ngomong apa. Ada rasa canggung di sini.
Alhasil, niat untuk berbaur dan saling berbagi gagal. Nah, saatnya rokok
beraksi!. Dalam psikologi, ketika seseorang mempunyai suatu kesamaan dengan
yang lain maka akan terjadi kecocokan, istilah kita “Klop!”. Dan alat peng”Klop”
itu adalah rokok. Teman saya “R” juga begitu. Begitu dia tahu bahwa saya juga
perokok(walau sebenarnya hanya sekedar bisa) sikapnya berubah. Suasana berubah.
Ada sisi keterbukaan darinya yang kulihat melalui celah gelagatnya. Terpujilah
rokok, ia mau bercerita bahkan sampai hal pribadi. Kami terus berbagi dan
saling membantu masalah. Dia tahu dunia saya dan saya juga dunianya tanpa
ditutupi sehelai keraguanpun. Bahkan esoknya ia mau mengunjungi saya lagi.
Rokok, di samping berbahaya namun bisa menjadi senjata ampuh dalam
bersosialisasi. Orang yang punya “bakat“ merokok sudah tidak perlu lagi
khawatir untuk bergaul dengan siapa saja. Orang kaya, orang miskin, orang
susah, orang sukses, perokok, bukan perokok bukan masalah. Rokok ternyata bisa
menjadi sarana dakwah dan mengayomi sesama. Inilah seni merokok!
Perbincangan
perihal rokok tidaklah bisa lepas dari penyakit penyakit yang mungkin ia unggah
dalam tubuh penghisabnya. Ancaman yang tertulis di kemasan merupakan ancaman
yang nyata dan benar adanya. Wah bahaya donk? Ya iyalah!. Seperti yang saya
utarakan sejak awal, merokok merugikan diri sendiri. Namun jika anda memahami
apa yang saya pikirkan terhadap rokok, anda akan memahami bahwa penyakit yang
ditimbulkan bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan manfaat yang ia berikan.
Bahkan lagi seperti yang saya katakan sejak awal bahwa rokok punya seni dan
justru dalam penyakit itulah seni yang paling dalam tersimpan. Tapi apa
hubungan penyakit dengan seni? Merokok bisa membuat kita tenggelam namun jika
kita pandai kita bisa meraih mutiara sebelum nafas terakhir berhembus. Para
sufisme berpandangan bahwa semakin berat penderitaan cobaan yang mendera hidup
seseorang maka semakin tinggi derajatnya di sisi tuhan. اشدَ
البلاء على الأنبياء فالأولياء فالأمثال فالأمثال
Tingkatan cobaan yang paling berat
dialami oleh para nabi kemudian para wali kemudian yang lebih rendah dang yang
lebih rendah lagi. Tapi mengapa cobaan menjadi standarisasi derajat
seseorang? Karena hanya dengan cobanlah dapat diketahui tingkatan kesabaran
seseorang. Allah menilai seberapa jauh kita bersabar menghadapi cobaannya.
Bagaimana cobaan tersebut semakin menjauhkan kita dariNya ata semakin
mendekatkan kita kepadaNya. Pernah suatu
ketika nabi dikunjungi oleh seorang perempuan yang mengidap penyakit parah
kemudian ia meminta Nabi untuk menyembuhkannya. Namun apa jawab Rasul? “Jika
engkau meminta kesembuhan maka niscaya Allah menyembuhkanmu namun jika kau mau
bersabar menghadapinya maka Sebenarnya Surga tengah menantimu” Lalu ia beranjak
pergi memilih untuk bersabar. Kembali ke rokok, bukan bermaksud mencari
penyakit tapi merokok memang sebuah kebutuhan dengan alasan-alasan yang telah
saya ulas sebelumnya. Toh memang jika nanti saya terkena penyakit atau mendapat
cobaan akibat rokok tersebut ya Alhamdulillah. Berarti saya mendapat
kesempatan masuk surga. Dengan menjadi “ahli hisab” kita bisa menjadi ahli
surga bighoiri hisab. Lumayan kan dapat tiket masuk surga seharga batang
rokok.
Bahaya
rokok memang jelas jika dilihat sekilas. Merusak badan diri sendiri dan
menganggu orang lain. Saya tidak bermaksud mendukung adanya rokok. Saya hanya
ingin nmenghilangkan adanya persepsi buruk yang sudah melekat dalam termin
rokok. Tidak setiap perokok itu berhak menyandang predikat jelek. Bahkan rokok
ternyata punya unsur seni dan seni mempunyai arti yang dalam. Oleh karena itu
untuk mengetahui seni dalam merokok kita perlu menggali lebih dalam. Dengan
merokok kita tidak hanya mengganggu orang sekitar tapi juga membantu mengangkat
kemiskinan di negri tercinta. Merokok juga bisa menjadi media sosialisasi yang
ampuh tur menyenangkan. Membeli rokok berarti membeli tiket surge jika dimulai
dengan niat yang benar. Beranikah anda merokok?

