Senin, Maret 18, 2013

MENTAL ORANG KAYA

   
          Pria itu nampak lelah. Matanya yang sayu menerawang suasana sekitar, seperti seorang buruh yang sudah lelah dengan pekerjaannya. Namun penampilannya tidak berkata demikian. Dasi yang menjulur di bawah lehernya membawa cerita tersendiri bagi lelaki separuh baya sepertinya.  Tangannya masih memegang erat kemudi yang melingkar di hadapannya. Panas yang sangat membasahi permukaan wajahnya. Ya ia tampak semakin capek. Sudah berulang kali istrinya menyuruh untuk membawa air minum ketika di jalan. Namun pria itu hanya bisa mengingat kata-kata istrinya itu di saat haus seperti ini. Roda-roda di sisi jalan sebelahnya berputar kencang seiring dengan mobil yang melalu lalang. Namun mobil avanza yang sudah ia jadikan teman sehari-hari  itu tak bergeming sedikitpun. Begitu juga truk besar di belakangnya. Ia pernah mendengar dari temannya kalau mobilnya itu digosipkan hasil dari menipu. Ada juga yang bilang dari hasil korupsi. Ibu-ibu benar-benar banyak omongnya, hanya itu pikirnya dalam hati setiap kali istrinya menggerutu akan gosip tersebut. Padahal pejabat saja bukan, bagaimana bisa korupsi.  Mereka berpikir begitu karena mereka tidak tahu. Yang penting kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk melakukan yang terbaik. Biarlah orang kata apa semua sudah ada yang menilai. Namun wajah istrinya masih saja sewot. Pria itu hanya tersenyum lalu mencium keningnya dan keduannyapun tertawa kecil. Saat-saat manis tersebut membuatnya tersenyum sendiri di tengah jalan raya. Berbalik seratus delapan puluh derajat dari keadaanya saat ini yang terjebak macet. Rupa-rupanya ada bus mini yang mogok di tengah jalan raya. Terlihat dari kejauhan penumpangnya pada turun. Ada yang duduk-duduk namun ada juga yang melambai-lambaikan tangannya untuk mencari bus lain. Bus itu mulai bergerak perlahan namun sangat pelan. Nampak ada 2 orang yang berusaha mendorong bus itu ke tepi jalan agar jalanan bisa mengalir. Mengetahui hal tersebut sontak ia membuka pintu mobilnya dan bergegas membantu  mendorong bus. Tak lama,  jalanan sudah kembali lancar dan si pria kembali menjalani kehidupannya.

Apa yang anda pikirkan dari cerita di atas? Gosip, orang kaya, atau malah-malah ibu-ibu kaya yang suka gosip? Itu hanya gambaran dalam pikiran saya ketika melihat jalanan yang macet di teriknya siang. Yang saya sorot di sini adalah pria tersebut. Saya memandangnya sebagai orang yang berstatus “kaya” karena dia sudah punya mobil. Karena memang  masyarakat biasa menyebut seseorang yang sudah punya mobil tu dengan sebutan orang kaya. Lalu apakah orang kaya itu bermasalah? Jawabnya iya. Orang miskin tidak sedikit yang punya pikiran jelek pada orang kaya. Bagaimanapun keadaannya orang kaya selalu disandarkan dengan gosip-gosip yang tidak baik. Tingkah laku dan gerak gerik mereka selalu diawasi. Qurban sedikit, muncul gosip. Jarang berkunjung ke tetangga tetangganya menggerutu. Lupa tidak ngisi kotak amal masjid orang pada bisik-bisik. Ini merupakan kesenjangan antar orang biasa terhadap orang kaya yang kerap terjadi di khalayak masyarakat. Orang yang kurang mampu banyak yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri. Kenapa mereka bisa kaya sedangkan saya tidak. Padahal sudah coba berbagai usaha bisnis tapi tetap saja berbelit hutang. Kenapa tetangga sebelah yang baru punya percetakan saja bisa punya rumah dan mobil mewah seperti itu. Pasti hasil togel atau malah hasil judi kelas atas! Nah, lalu siapakah yang salah sebenarnya. Mari kita klarifikasi bersama.
                Orang kaya menjadi kaya karena pola pikir mereka sendiri. Orang miskin menjadi miskin karena pola pikir mereka sendiri. Orang kaya punya mental kaya dan orang miskin punya mental miskin. Ini adalah teori yang benar adanya. Di sini saya tidak mencangkupkan orang yang kaya dari hasil menyimpang karena mereka tidak perlu diperbincangkan. Perilaku menyimpang itu dibenahi bukan dibicarakan. Cobat lihat kembali apa yang dilakukan pria yang saya ceritakan di atas dalam menghadapi situasi. Ia sangat profesional. Ia melihat ada masalah lalu mencari solusi. Dia tidak hanya melihat seperti orang lain disekitarnya namun juga ikut bertindak. INI MENTAL ORANG KAYA. Saya punya sedikit pengalaman hidup di dua dunia yang berbeda. Di keluargaku sendiri yang kata orang-orang kaya dan di keluarga temanku di mana ku sekarang masih ikut membantu usaha percetakannya yang mana bisa dibilang agak lebih rendah jika dibandingkan dengan keluarga saya. Sebut saja keluargaku A dan keluarga satunya B. Keluarga B mayoritas orangnya perokok baik anak maupun bapaknya kecuali ibu tentunya. Di keluargaku Cuma aku yang merokok meskipun sekarang sudah sangat jarang, hanya merokok jika ditawari. Lalu keluarga B orang-orangnya sangat murah hati dalam artian sering membelanjakan uangnya demi kepentingan orang lain. Contoh anaknya yang sering menraktir di warung demi mengadakan rapat IPNU yang menurutku tidak harus sampai segitunya karena melihat kantongnya yang tidak cukup tebal, bayar sendiri-sendiri menurutku lebih baik. Lalu mereka dalam kacamataku terlihat lebih santai dalam mengeluarkan uang. Air minumnya air galon refill. Lalu sering membelikan hadiah untuk orang lain ketika hari pentingnya ketika ultah atau pernikahan. Dan ada juga keponakannya yang suka belanja barang barang bermerk, jaket cressida j-fleece yang satunya saja bisa 200ribu. Sedangkan jaket saya jaket 60ribuan yang satunya memang juga cressida tapi dulu belinya waktu diskon 50% walaupun sebenarnya menurut saya bukan diskon karena lehernya agak sobek. Ibu saya juga tidak pernah beli air minum, ia memasak air dengan tungku tua di belakang rumah menggunakan sisa kayu yang terbengkalai. Sewaktu  saya tanya kenapa gak beli air refill saja malah diceramahi. Orangtua saya juga tidak pernah merayakan yang namanya ulang tahun. Seingat saya Cuma khataman qur’an saya yang dulu pernah diadakan selametan itupun saya tidak dapat apa-apa. Keluarga B mengganti oli motor di bengkel sedangkan ayah saya beli oli sendiri lalu diganti sendiri. Itu beberapa hal yang saya ketahui dan tentunya masih banyak pula yang tidak  saya ketahui. Memang Cuma hal-hal yang sepele dan kebanyakan kata saya di atas karena itu memang dari hasil dari pengamatan saya. Orang yang bermental kaya mampu menahan keinginannya dari hal-hal yang dirasa tidak perlu. Pengeluaran diatur sebaik mungkin. Mereka hemat dan berpikiran luas. Walaupun Cuma sedikit mereka percaya akan menjadi banyak suatu saat nanti.
                Selain dari segi keuangan orang kaya juga punya kemauan untuk kerja keras dan tidak menyianyiakan waktu. Orang kaya cerminan dari orang sukses (mayoritas walau memang ada juga yang tidak) dan sukses itu tidak bisa diraih tanpa kerja keras. Saya sering mendengar prinsip orang tiong hoa di Indonesia “Semakin banyak yang kau curahkan semakin banyak pula yang engkau peroleh”. Curahkan di sini tidak lain tidak bukan adalah usaha yang mereka keluarkan. Semakin keras usaha mereka semakin besar pula hasilnya. Kalau di Islam Man jadda wajada. Tidak mungkin orang-orang tiong hoa bisa menjadi kaya dengan sendirinya. Semua karena model pendidikan mereka yang turun temurun mengajarkan disiplin dan kerja keras. Ambil contoh orang Jepang, anak-anak di Jepang dididik harus membawa seluruh peralatan sekolahnya sendiri. Kalau anda mencoba cari gambar anak kecil yang masih tk dari Jepang di Google pasti mereka terlihat menyangklongi tas yang besar di punggungnya. Ini adalah bentuk ajaran kerja keras. Tidak heran kalau mereka bisa semaju itu.  Kalau orang kaya itu pekerja keras berarti Indonesia miskin karena orangnya malas-malas? Belum tentu, masih banyak faktor untuk menjadi miskin. Baca di artikel saya berikutnya. Yang penting misi kita sekarang adalah menghentikan prasangka-prasangka buruk terhadap para orang kaya dan mulai membenahi diri sendiri. OK. See ya.
Categories: