Apa yang anda pikirkan dari cerita di atas? Gosip,
orang kaya, atau malah-malah ibu-ibu kaya yang suka gosip? Itu hanya gambaran
dalam pikiran saya ketika melihat jalanan yang macet di teriknya siang. Yang
saya sorot di sini adalah pria tersebut. Saya memandangnya sebagai orang yang
berstatus “kaya” karena dia sudah punya mobil. Karena memang masyarakat biasa menyebut seseorang yang sudah
punya mobil tu dengan sebutan orang kaya. Lalu apakah orang kaya itu
bermasalah? Jawabnya iya. Orang miskin tidak sedikit yang punya pikiran jelek
pada orang kaya. Bagaimanapun keadaannya orang kaya selalu disandarkan dengan
gosip-gosip yang tidak baik. Tingkah laku dan gerak gerik mereka selalu
diawasi. Qurban sedikit, muncul gosip. Jarang berkunjung ke tetangga
tetangganya menggerutu. Lupa tidak ngisi kotak amal masjid orang pada
bisik-bisik. Ini merupakan kesenjangan antar orang biasa terhadap orang kaya
yang kerap terjadi di khalayak masyarakat. Orang yang kurang mampu banyak yang
tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri. Kenapa mereka bisa kaya sedangkan
saya tidak. Padahal sudah coba berbagai usaha bisnis tapi tetap saja berbelit
hutang. Kenapa tetangga sebelah yang baru punya percetakan saja bisa punya
rumah dan mobil mewah seperti itu. Pasti hasil togel atau malah hasil judi
kelas atas! Nah, lalu siapakah yang salah sebenarnya. Mari kita klarifikasi
bersama.
Orang kaya menjadi
kaya karena pola pikir mereka sendiri. Orang miskin menjadi miskin karena pola
pikir mereka sendiri. Orang kaya punya mental kaya dan orang miskin punya
mental miskin. Ini adalah teori yang benar adanya. Di sini saya tidak mencangkupkan
orang yang kaya dari hasil menyimpang karena mereka tidak perlu
diperbincangkan. Perilaku menyimpang itu dibenahi bukan dibicarakan. Cobat
lihat kembali apa yang dilakukan pria yang saya ceritakan di atas dalam
menghadapi situasi. Ia sangat profesional. Ia melihat ada masalah lalu mencari
solusi. Dia tidak hanya melihat seperti orang lain disekitarnya namun juga ikut
bertindak. INI MENTAL ORANG KAYA. Saya punya sedikit pengalaman hidup di dua
dunia yang berbeda. Di keluargaku sendiri yang kata orang-orang kaya dan di
keluarga temanku di mana ku sekarang masih ikut membantu usaha percetakannya
yang mana bisa dibilang agak lebih rendah jika dibandingkan dengan keluarga
saya. Sebut saja keluargaku A dan keluarga satunya B. Keluarga B mayoritas
orangnya perokok baik anak maupun bapaknya kecuali ibu tentunya. Di keluargaku Cuma
aku yang merokok meskipun sekarang sudah sangat jarang, hanya merokok jika
ditawari. Lalu keluarga B orang-orangnya sangat murah hati dalam artian sering
membelanjakan uangnya demi kepentingan orang lain. Contoh anaknya yang sering
menraktir di warung demi mengadakan rapat IPNU yang menurutku tidak harus
sampai segitunya karena melihat kantongnya yang tidak cukup tebal, bayar
sendiri-sendiri menurutku lebih baik. Lalu mereka dalam kacamataku terlihat
lebih santai dalam mengeluarkan uang. Air minumnya air galon refill. Lalu
sering membelikan hadiah untuk orang lain ketika hari pentingnya ketika ultah
atau pernikahan. Dan ada juga keponakannya yang suka belanja barang barang
bermerk, jaket cressida j-fleece yang satunya saja bisa 200ribu. Sedangkan
jaket saya jaket 60ribuan yang satunya memang juga cressida tapi dulu belinya
waktu diskon 50% walaupun sebenarnya menurut saya bukan diskon karena lehernya
agak sobek. Ibu saya juga tidak pernah beli air minum, ia memasak air dengan
tungku tua di belakang rumah menggunakan sisa kayu yang terbengkalai.
Sewaktu saya tanya kenapa gak beli air
refill saja malah diceramahi. Orangtua saya juga tidak pernah merayakan yang
namanya ulang tahun. Seingat saya Cuma khataman qur’an saya yang dulu pernah
diadakan selametan itupun saya tidak dapat apa-apa. Keluarga B mengganti oli motor
di bengkel sedangkan ayah saya beli oli sendiri lalu diganti sendiri. Itu
beberapa hal yang saya ketahui dan tentunya masih banyak pula yang tidak saya ketahui. Memang Cuma hal-hal yang sepele
dan kebanyakan kata saya di atas karena itu memang dari hasil dari pengamatan
saya. Orang yang bermental kaya mampu menahan keinginannya dari hal-hal yang dirasa
tidak perlu. Pengeluaran diatur sebaik mungkin. Mereka hemat dan berpikiran
luas. Walaupun Cuma sedikit mereka percaya akan menjadi banyak suatu saat nanti.
Selain dari segi
keuangan orang kaya juga punya kemauan untuk kerja keras dan tidak menyianyiakan
waktu. Orang kaya cerminan dari orang sukses (mayoritas walau memang ada juga
yang tidak) dan sukses itu tidak bisa diraih tanpa kerja keras. Saya sering
mendengar prinsip orang tiong hoa di Indonesia “Semakin banyak yang kau
curahkan semakin banyak pula yang engkau peroleh”. Curahkan di sini tidak lain
tidak bukan adalah usaha yang mereka keluarkan. Semakin keras usaha mereka
semakin besar pula hasilnya. Kalau di Islam Man jadda wajada. Tidak mungkin
orang-orang tiong hoa bisa menjadi kaya dengan sendirinya. Semua karena model
pendidikan mereka yang turun temurun mengajarkan disiplin dan kerja keras.
Ambil contoh orang Jepang, anak-anak di Jepang dididik harus membawa seluruh
peralatan sekolahnya sendiri. Kalau anda mencoba cari gambar anak kecil yang
masih tk dari Jepang di Google pasti mereka terlihat menyangklongi tas yang
besar di punggungnya. Ini adalah bentuk ajaran kerja keras. Tidak heran kalau
mereka bisa semaju itu. Kalau orang kaya
itu pekerja keras berarti Indonesia miskin karena orangnya malas-malas? Belum
tentu, masih banyak faktor untuk menjadi miskin. Baca di artikel saya berikutnya.
Yang penting misi kita sekarang adalah menghentikan prasangka-prasangka buruk
terhadap para orang kaya dan mulai membenahi diri sendiri. OK. See ya.