Bukankah membaca karya sastra sangat menyenangkan? Senang di sini punya
makna yang relatif bagi tiap-tiap penikmatnya. Boleh dibilang saya penikmat
sastra namun sayangnya belum cukuplah bila disebut sebagai seorang sastrawan. Hanya
sekedar menikmati. Namun menikmati belum lengkap rasanya kalau belum mampu
menganalisa. Di sinilah di mana ketika analisis sastra menjadi hal penting bagi
para penikmat sastra.
Sastra adalah karya seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Berbeda sekali dengan seni musik ataupun seni lukis yang mana bahan mediumnya masih bersifat netral. Coba bandingkan, musik menggunakan suara yang masih bersifat mentah. Demikian pula lukis yang hanya terdiri dari sekumpulan warna yang juga mentah. Mentah yang saya maksud di sini adalah tidak bermakna atau membutuhkan seperangkat aturan yang bisa memberi makna yang disebut dengan konvensi. Keduanya diramu sedemikian rupa dengan konvensi-konvensi tertentu sehingga menciptakan sebuah karya yang bermakna, karya seni. Namun sastra sama sekali tidak menggunakan bahan mentah. Bahasa bukan barang mentah. Bahasa sudah mempunyai konvensi-konvensi tersendiri yang membuatnya bermakna, karena tanpa konvensi tersebut bahasa takkan bermakna. Jadi sastra berbeda dengan seni yang lain karena menggunakan bahan yang sudah bermakna. Keterangan di atas menjadikan sastra menempati second order semiotics (semiotik tingkat dua).
Berbicara analisis sastra takkan bisa lepas dari istilah semiotik, ilmu
tentang tanda. Karena sastra takkan bisa mempunyai makna mendalam tanpa tanda. Seperti
yang saya katakan tadi, bahwa sastra itu menggunakan bahasa yang sudah punya
konvensi tersendiri sebagai bahan. Kemudian untuk merubah bahasa menjadi sastra
dibutuhkan konvensi-konvensi lagi. Jadi setelah digali kemudian digali lagi. Ini
yang saya sebut dengan makna mendalam dalam sastra. Tidak heran jika makna
dalam bahasa(first order semiotics) disebut dengan “meaning” sedangkan dalam
sastra disebut “significance”.
Gimana? Sudah cerahkah anda? Semoga ini bisa bermanfaat bagi anda para
penikmat sastra.
