Jumat, Januari 18, 2013

Proses kreatif sastra


                Cukup lama sudah aku menulis puisi walau hanya terposting di dinding fb. Ku menengok karya orang-orang besar dan nampak karyaku tak pernah sama, sedikitpun tak sebanding. Kubaca, kulansir kembali buku-buku sastra, ternyata sastra tak semudah dikira. Menelusuri jejak-jejak mereka yang sudah punya muka dan lagi ternyata jalannya begitu terjal. Selama ini aku hanya menulis, mengetik tepatnya, untuk membuktikan eksistensi diri. Menata kata-kata sedemikian rupa meski tahu keindahan bukan dari segi fisik saja.  Berusaha membuat orang terpukau. Seperti anak kecil yang mencari perhatian orang tuanya. Namun ini cocok sekali dengan apa yang para filosof katakan. Ilmu pengetahuan itu menjalar, semakin kau tahu semakin kau ingin tahu lagi lebih dalam. Jalan awal yang hanya untuk mencari perhatian kini beralih mencari pemahaman.
Ada masalah. Dikatakan bahwa menggambarkan atau mengimajinasikan fakta empirik ke dalam bahasa merupakan awal dari proses kreatif sastra. Proses imajinasi itu sama sekali tak tergambar dalam benakku. Aku hanya menulis itu saja. Karena hal ini kutahu bahwa apa yang mereka tulis memang bukan rangkaian kata semata namun juga perasaan yang bermain. Mereka merasakan hidup seperti berlayar di lautan lalu mereka menulisnya. Mereka merasa ditinggal kekasih seperti sendirian di kapal tua di pelabuhan mereka menulisnya. Fakta empirik itulah yang membuatku resah. Selama ini ku tak pernah mendapati rasa metafor seperti itu. Jika aku tidak memilikinya lalu bagaimana aku memulai proses kreatifku. Jika memang itu semua benar, berarti sastra itu egois. Hanya kaumnya yang mampu menggandrunginya. Tiada tempat untuk orang sepertiku. Ini seperti sastra itu bukan soal tekad tapi soal bakat. Sepertinya ku harus enyah dari panggung ini.