Cukup lama sudah aku menulis puisi walau hanya
terposting di dinding fb. Ku menengok karya orang-orang besar dan nampak
karyaku tak pernah sama, sedikitpun tak sebanding. Kubaca, kulansir kembali
buku-buku sastra, ternyata sastra tak semudah dikira. Menelusuri jejak-jejak
mereka yang sudah punya muka dan lagi ternyata jalannya begitu terjal. Selama
ini aku hanya menulis, mengetik tepatnya, untuk membuktikan eksistensi diri.
Menata kata-kata sedemikian rupa meski tahu keindahan bukan dari segi fisik
saja. Berusaha membuat orang terpukau. Seperti
anak kecil yang mencari perhatian orang tuanya. Namun ini cocok sekali dengan
apa yang para filosof katakan. Ilmu pengetahuan itu menjalar, semakin kau tahu
semakin kau ingin tahu lagi lebih dalam. Jalan awal yang hanya untuk mencari
perhatian kini beralih mencari pemahaman.
Ada masalah. Dikatakan bahwa menggambarkan atau
mengimajinasikan fakta empirik ke dalam bahasa merupakan awal dari proses
kreatif sastra. Proses imajinasi itu sama sekali tak tergambar dalam benakku.
Aku hanya menulis itu saja. Karena hal ini kutahu bahwa apa yang mereka tulis
memang bukan rangkaian kata semata namun juga perasaan yang bermain. Mereka merasakan
hidup seperti berlayar di lautan lalu mereka menulisnya. Mereka merasa ditinggal
kekasih seperti sendirian di kapal tua di pelabuhan mereka menulisnya. Fakta empirik
itulah yang membuatku resah. Selama ini ku tak pernah mendapati rasa metafor
seperti itu. Jika aku tidak memilikinya lalu bagaimana aku memulai proses
kreatifku. Jika memang itu semua benar, berarti sastra itu egois. Hanya kaumnya
yang mampu menggandrunginya. Tiada tempat untuk orang sepertiku. Ini seperti
sastra itu bukan soal tekad tapi soal bakat. Sepertinya ku harus enyah dari
panggung ini.