Jumat, September 07, 2012

Jaring Raksasa











Kenapa bangsa barat begitu maju? Kenapa mereka begitu dituhankan? Bukannya kita hanya kalah start? Tentu saya yakin kalau kita juga bisa lebih maju dari mereka atau ini Cuma pemikiranku saja yang mirip lentera di antara pekatnya surya. Sia-sia. Apa yang mereka miliki selalu menjadi trendi bagi masyarakat sini sedangkan karya kawan sendiri tidak pernah begitu berarti, tetap saja terlantar dianggap hina dan keji. Berceloteh ria kita menggrangsang apa-apa yang mereka tawarkan, tertawa ria , saling berbangga-bangga memakan apa yang mereka makan. Sayangnya anak kecil tidak pernah mengerti apa sebenarnya yang mereka makan. Apakah itu bermanfaat atau tidak baginya itu urusan belakangan. Yang penting mereka merasa senang dan puas itulah prioritas terdepan. Untungnya mereka masih punya orang tua yang mau memperhatikan dan mengawasi apa-apa yang mereka kerjakan dan habiskan. Nah kalau kita? Sudah besar tapi belum dewasa. Bayi gerang yang tak tahu apa yang mereka makan dan tak pernah mau tahu karena memang sudah terlanjur gerang dan pikun.
Kekurangan bangsa ini adalah tidak pernah mau tahu mengenai apa yang kita konsumsi. Menjadi konsumen memang kodrat tapi sudah seharusnya dan sewajarnya kita memilah apa yang hendak dikonsumsi. Hewan saja tau soal ini. Lihat, apa binatang pernah mati keracunan? Kalaupun ada itu jarang sekali. Padahal mereka hidup di hutan rimba dengan beragam makanan mulai dari yang baik hingga yang berbahaya. Jika mereka memakan tanpa memilah pasti mereka sudah punah. Ada makanan yang cocok dan ada pula yang tidak cocok. Jika  makan yang cocok akan sehat dan jika makan yang tidak cocok akan sakit. Simpel kan! Sayangnya bangsa kita belum pandai memilah. Apa yang bangsa lain tawarkan pada kita selalu diterima dengan mudah. Padahal kita dan mereka jelas beda. Apa yang mereka pakai belum tentu sesuai dengan kita. Apa yang mereka makan belum tentu sesuai dengan kita. Apa yang mereka konsumsi belum tentu cocok dengan kita. Trend budaya luar begitu mudahnya disiarkan di media massa kita. Teknologi luar, hape, laptop, netbook, tab dan tetek bengeknya semudah air yang mengalir di hilir sungai. Bahkan cara berpakaianpun sek kober ditiru!Saya tidak bermaksud mengusulkan pengadaan pasal mengenai hal tersebut tapi sesuatu selalu memiliki sisi baik dan negatif tergantung dari sisi mana kita memandang. Oleh karena itu mari berpikir luas. Selama ini teknologi yang masuk belum di gunakan secara maksimal, hanya sisi negatif yang digunakan sampai-sampai warnet mendapat citra buruk di mata masyarakat. Padahal teknologi secanggih komputer, internet, tab sudah barang jelas mempunyai sisi positif yang lebar. Jadi semua bergantung bagaimana inisiatif kita dalam menggunakan sisi tersebut dan membatasi sisi yang lainnya. Salah satu contoh tindakan pembatasan tersebut adalah keputusan menteri konunikasi Juli kemarin mengenai pembatasan sms gratis dari operator seluler. Saya pikir tindakan ini merupaka upaya pembatasan dari sisi negatif media seluler tapi sayangnya hasilnya tidak terlalu terlihat dengan kata lain kurang efektif. Tapi ini sudah bagus untuk permulaan. Seharusnya pemerintah lebih berani lagi melakukan upaya-upaya seperti ini dan tidak hanya dalam beberapa sektor tapi kesemuanya guna menyaring sisi-sisi negatif yang ditinggalkan oleh produk-produk bangsa luar. Dan untuk ini pemerintah kelihatannya perlu jaring yang cukup besar.










Tidak hanya itu, salah satu yang paling mencolok adalah dunia entertainment kita. Di TV orang hebat selalu disandingkan dengan hal-hal yang berbau barat sedangkan orang kita sendiri yang berbau adat jawa selalu saja disandarkan pada hal-hal yabg buruk, miskin, merana, menderita, kelaparan, kesusahan dan sebagainya. Ini secara tidak langsung telah mendoktrin masyarakat kita untuk memandang rendah tanah kita sendiri. Tanah kita telah dianggap hina oleh pemilik tanahnya sendiri. Orang-orang selalu saja merasa risih jika mencium hal-hal tersebut. Kalau gak percaya coba kamu pakai sarung dan kopyah ke alun-alun pasti banyak yang muji nanti (ha ha). Tapi, apa yang salah dengan sarung dan kopyah? Dulu orang-orang selalu makai ini kemana-mana. Tidak sadarkah kalian bahwa apa yang kalian pakai telah membodohi kalian. Celana levis, jeans, kaos ketat ditambah lagi celana pensil yang membuatku merasa jijik tiap kali melihatnya, semua itu bukan warisan leluhur tapi budaya luar yang masuk dengan mudah dan meracuni setiap pemikiran para pemakainya. Sekali lagi, apa yang mereka pakai belum tentu sesuai dengan kita. Dan untuk yang satu ini, jaring kita harus diperlebar hingga ukuran ekstra.
Nah kalau tadi adalah yang mencolok sekarang ini adalah yang samar yang paling jarang disadari. Pernahkah anda melihat para da’i berjenggot tebal berpakaian serba putih dan memakai sorban? Tentu pernah dan saya yakin kalau anda berpikiran kalau dia adalah muslim yang hebat karena dia dari arab. Tapi bagaimana dengan ustad kita  yang pake songkok kemana-mana? Apa dengan pakaian seperti itu berarti mereka bukan Islam yang hebat? Ini yang salah dengan kita. Islam selalu disandarkan pada hal-hal yang berbau Arab. Padahal tidak seperti itu. Islam itu luas cuman karena memang awal berkembangnya adalah di bangsa arab ditambah lagi Nabi juga berasal dari Arab jadi kelihatan dari Arab. Da’i tadi adalah Islam versi arab dan Ustad tadi adalah Islam versi kita. Ya jangan kaget jika penampilannya seperti itu. Itu adalah hasil fusi dari Islam dengan jawa jadi jangan dipermasalahk bahkan menurutku justru itu yang khas. Lagi pula apalah arti penampilan. Saya sangat bangga dan kagum pada ulama Indonesia terdahulu yang bisa mengkonversi Islam menjadi sesuai dengan Jawa hingga seperti sekarang. Ini yang kusebut dengan penyaringan mutakhir. Mereka benar-benar telah berhasil menjaring budaya dari arab dan menjadikan Islam yang sesuai dengan Indonesia. Salah satu produknya adalah pesantren, barzanji, tahlilan, yasinan, istighosah, dzikrul ghofilin, adat silaturrahim pada hari raya, kue-kue seperti apem, berkat, dan istilah-istilah lainnya yang masih banyak. Namun sekarang, banyak yang tidak mengetahui hal ini bahkan dengan ketidaktahuan mereka, mereka berani menyalahkan.kebanyakan dari mereka adalah mereka yang masih terdoktrin bahwa islam itu adalah Arab. Pesanku jika anda bertemu dengan mereka yang berani menyalahkan seperti ini adalah tanyakan padanya; pintar mana antara dia dengan ulama Islam Indonesia terdahulu? Cukup itu saja selanjutnya doakan dia agar cepat mengerti dan khusnul khotimah. Banyak sekali zaman sekarang orang-orang seperti itu. Dan untuk ini kita butuh jaring yang lebih spesifik.
Jadi intinya, guna menyaring hal-hal yang telah mengotori bangsa kita dan juga menyaring bahaya-bahaya yang dimungkinkan bisa menjangkit maka diperlukanlah jaring raksasa. Banyak cara jika kita mau berpikir. Mungkin pemerintah bisa mendirikan suatu badan yang khusus mengatur dan mengelola hal tersebut atau ........(belum punya ide). Yang jelas dengan hal tersebut kita bisa membuat jaring yang cukup besar untuk menjaring semua masalah ini. Intinya jaring raksasa.