
Kenapa bangsa
barat begitu maju? Kenapa mereka
begitu dituhankan? Bukannya kita hanya kalah start? Tentu saya yakin kalau kita
juga bisa lebih maju dari mereka atau ini Cuma pemikiranku saja yang mirip lentera
di antara pekatnya surya. Sia-sia. Apa yang mereka miliki selalu menjadi trendi
bagi masyarakat sini sedangkan karya kawan sendiri tidak pernah begitu berarti,
tetap saja terlantar dianggap hina dan keji. Berceloteh ria kita menggrangsang
apa-apa yang mereka tawarkan, tertawa ria , saling berbangga-bangga memakan apa
yang mereka makan. Sayangnya anak kecil tidak pernah mengerti apa sebenarnya
yang mereka makan. Apakah itu bermanfaat atau tidak baginya itu urusan
belakangan. Yang penting mereka merasa senang dan puas itulah prioritas
terdepan. Untungnya mereka masih punya orang tua yang mau memperhatikan dan
mengawasi apa-apa yang mereka kerjakan dan habiskan. Nah kalau kita? Sudah besar
tapi belum dewasa. Bayi gerang yang tak tahu apa yang mereka makan dan tak
pernah mau tahu karena memang sudah terlanjur gerang dan pikun.
Kekurangan bangsa ini adalah tidak pernah mau tahu
mengenai apa yang kita konsumsi. Menjadi konsumen memang kodrat tapi sudah
seharusnya dan sewajarnya kita memilah apa yang hendak dikonsumsi. Hewan saja
tau soal ini. Lihat, apa binatang pernah mati keracunan? Kalaupun ada itu
jarang sekali. Padahal mereka hidup di hutan rimba dengan beragam makanan mulai
dari yang baik hingga yang berbahaya. Jika mereka memakan tanpa memilah pasti
mereka sudah punah. Ada makanan yang cocok dan ada pula yang tidak cocok. Jika makan yang cocok akan sehat dan jika makan
yang tidak cocok akan sakit. Simpel kan! Sayangnya bangsa kita belum pandai
memilah. Apa yang bangsa lain tawarkan pada kita selalu diterima dengan mudah. Padahal
kita dan mereka jelas beda. Apa yang mereka pakai belum tentu sesuai dengan
kita. Apa yang mereka makan belum tentu sesuai dengan kita. Apa yang mereka
konsumsi belum tentu cocok dengan kita. Trend budaya luar begitu mudahnya
disiarkan di media massa kita. Teknologi luar, hape, laptop, netbook, tab dan
tetek bengeknya semudah air yang mengalir di hilir sungai. Bahkan cara
berpakaianpun sek kober ditiru!Saya tidak bermaksud mengusulkan pengadaan pasal
mengenai hal tersebut tapi sesuatu selalu memiliki sisi baik dan negatif
tergantung dari sisi mana kita memandang. Oleh karena itu mari berpikir luas. Selama
ini teknologi yang masuk belum di gunakan secara maksimal, hanya sisi negatif
yang digunakan sampai-sampai warnet mendapat citra buruk di mata masyarakat. Padahal
teknologi secanggih komputer, internet, tab sudah barang jelas mempunyai sisi
positif yang lebar. Jadi semua bergantung bagaimana inisiatif kita dalam
menggunakan sisi tersebut dan membatasi sisi yang lainnya. Salah satu contoh
tindakan pembatasan tersebut adalah keputusan menteri konunikasi Juli kemarin
mengenai pembatasan sms gratis dari operator seluler. Saya pikir tindakan ini
merupaka upaya pembatasan dari sisi negatif media seluler tapi sayangnya
hasilnya tidak terlalu terlihat dengan kata lain kurang efektif. Tapi ini sudah
bagus untuk permulaan. Seharusnya pemerintah lebih berani lagi melakukan
upaya-upaya seperti ini dan tidak hanya dalam beberapa sektor tapi kesemuanya
guna menyaring sisi-sisi negatif yang ditinggalkan oleh produk-produk bangsa
luar. Dan untuk ini pemerintah kelihatannya perlu jaring yang cukup besar.
Tidak hanya itu, salah satu yang paling mencolok
adalah dunia entertainment kita. Di TV orang hebat selalu disandingkan dengan
hal-hal yang berbau barat sedangkan orang kita sendiri yang berbau adat jawa
selalu saja disandarkan pada hal-hal yabg buruk, miskin, merana, menderita,
kelaparan, kesusahan dan sebagainya. Ini secara tidak langsung telah mendoktrin
masyarakat kita untuk memandang rendah tanah kita sendiri. Tanah kita telah
dianggap hina oleh pemilik tanahnya sendiri. Orang-orang selalu saja merasa
risih jika mencium hal-hal tersebut. Kalau gak percaya coba kamu pakai sarung
dan kopyah ke alun-alun pasti banyak yang muji nanti (ha ha). Tapi, apa yang
salah dengan sarung dan kopyah? Dulu orang-orang selalu makai ini kemana-mana. Tidak
sadarkah kalian bahwa apa yang kalian pakai telah membodohi kalian. Celana levis,
jeans, kaos ketat ditambah lagi celana pensil yang membuatku merasa jijik tiap
kali melihatnya, semua itu bukan warisan leluhur tapi budaya luar yang masuk
dengan mudah dan meracuni setiap pemikiran para pemakainya. Sekali lagi, apa
yang mereka pakai belum tentu sesuai dengan kita. Dan untuk yang satu ini,
jaring kita harus diperlebar hingga ukuran ekstra.
Nah kalau tadi adalah yang mencolok sekarang ini
adalah yang samar yang paling jarang disadari. Pernahkah anda melihat para da’i
berjenggot tebal berpakaian serba putih dan memakai sorban? Tentu pernah dan
saya yakin kalau anda berpikiran kalau dia adalah muslim yang hebat karena dia
dari arab. Tapi bagaimana dengan ustad kita yang pake songkok kemana-mana? Apa dengan
pakaian seperti itu berarti mereka bukan Islam yang hebat? Ini yang salah
dengan kita. Islam selalu disandarkan pada hal-hal yang berbau Arab. Padahal tidak
seperti itu. Islam itu luas cuman karena memang awal berkembangnya adalah di
bangsa arab ditambah lagi Nabi juga berasal dari Arab jadi kelihatan dari Arab.
Da’i tadi adalah Islam versi arab dan Ustad tadi adalah Islam versi kita. Ya jangan
kaget jika penampilannya seperti itu. Itu adalah hasil fusi dari Islam dengan
jawa jadi jangan dipermasalahk bahkan menurutku justru itu yang khas. Lagi pula
apalah arti penampilan. Saya sangat bangga dan kagum pada ulama Indonesia
terdahulu yang bisa mengkonversi Islam menjadi sesuai dengan Jawa hingga
seperti sekarang. Ini yang kusebut dengan penyaringan mutakhir. Mereka benar-benar
telah berhasil menjaring budaya dari arab dan menjadikan Islam yang sesuai
dengan Indonesia. Salah satu produknya adalah pesantren, barzanji, tahlilan,
yasinan, istighosah, dzikrul ghofilin, adat silaturrahim pada hari raya, kue-kue
seperti apem, berkat, dan istilah-istilah lainnya yang masih banyak. Namun sekarang,
banyak yang tidak mengetahui hal ini bahkan dengan ketidaktahuan mereka, mereka
berani menyalahkan.kebanyakan dari mereka adalah mereka yang masih terdoktrin
bahwa islam itu adalah Arab. Pesanku jika anda bertemu dengan mereka yang
berani menyalahkan seperti ini adalah tanyakan padanya; pintar mana antara dia
dengan ulama Islam Indonesia terdahulu? Cukup itu saja selanjutnya doakan dia
agar cepat mengerti dan khusnul khotimah. Banyak sekali zaman sekarang
orang-orang seperti itu. Dan untuk ini kita butuh jaring yang lebih spesifik.
Jadi intinya, guna menyaring hal-hal yang telah
mengotori bangsa kita dan juga menyaring bahaya-bahaya yang dimungkinkan bisa
menjangkit maka diperlukanlah jaring raksasa. Banyak cara jika kita mau
berpikir. Mungkin pemerintah bisa mendirikan suatu badan yang khusus mengatur
dan mengelola hal tersebut atau ........(belum punya ide). Yang jelas dengan
hal tersebut kita bisa membuat jaring yang cukup besar untuk menjaring semua
masalah ini. Intinya jaring raksasa.