Rabu, November 14, 2012

Masalah


        Seperti halnya para orang-orang sukses yang pernah kubaca saya juga sering mengalami kendala. Semua masalah yang terjadi merupakan hal yang wajar. Kata kakak saya: “Orang dewasa adalah orang yang bisa menikmati semua masalahnya”. Saya pikir ini sangat logis dan sangat  progresif bagi siapa saja yang sedang dalam masa transisi menuju dewasa. Di manapun seseorang tinggal, takkan pernah bisa lepas dari masalah. Karena saya termasuk dari orang-orang yang masih dalam masa transisi dan sekarang lagi galau gara-gara yang namanya “masalah”, maka saya ingin berpikir lebih lanjut mengenai masalah.
          Masalah bukanlah masalah. Saya berusaha memunculkan kalimat ini dalam benak saya. Kata masalah yang kedua adalah kata yang searti dengan kebanyakan persepsi orang-orang yakni kesenjangan antara kenyataan dan harapan yang tentunya selalu menjengkelkan dan membuat frustasi. Sedangkan kata yang pertama adalah kata denotasi, yang memilki arti sebenarnya, yakni kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Itu saja. Masalah tidak menjengkelkan dan tidak pula selalu membuat stress. Kejengkelan akan masalah muncul dari dalam diri si penerima masalah itu tadi, bukan dari masalah itu sendiri. Jadi bisa dikatakan kalau masalah itu sangat tidak menyenangkan jika orang tersebut berpikiran bahwa hal tersebut memang tidak menyenangkan. Seperti gule kambing yang terkadang dianggap tidak enak oleh beberapa orang tapi banyak juga yang menganggapnya enak. Tergantung ia suka daging kambing atau tidak. Namun faktanya, menanggapi masalah sebagai hal yang tidak menyenangkan atau menjengkelkan sama sekali tidak memberikan jalan keluar. Lalu dimana jalan keluarnya? Jalan keluarnya jangan anggap masalah sebagai masalah tapi anggaplah sebagai teman
          “Anggap masalah sebagai teman” seperti kata Lenka “Trouble is a friend”. Penyanyi unik ini seprti punya kantong ajaib lalu kemudian ia mengambil sebuah kotak hitam bertuliskan putih “Trouble is a friend”. Dan sayapun terbelalak terkejut seraya kaget setengah mati. Kok ada orang aneh kaya gini. Lalu tak lama kemudian ia melesat terbang dan meninggalkan bekas senyum raja di wajahnya dengan sangat pede(tambah aneh).  Sayapun duduk dan kembali pada pose berpikir aristoteles. Saya merenung sejenak mengenai kalimat tersebut. Ternyata benar. Jika masalah itu seperti teman maka kita tidak perlu mempermasalahkan masalah.  Teman itu selalu ada di mana saja, jarang ada orang yang tidak punya teman. Jarang ada orang yang tidak memiliki masalah. Teman kadang menyenangkan kadang juga menjengkelkan. Tapi mereka selalu bisa selalu diandalkan. Bahkan sering juga teman membantu dan memotivasi kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Dengan menganggap masalah sebagai teman, ini membantu untuk meyakini bahwa masalah bukanlah masalah.
           Masalah itu ujian dan ujian itu juga masalah. Pernahkah anda main game dan kemudian anda larut dalam game tersebut. Pemain anda terus mengalahkan banyak musuh lalu setelah melewati banyak rintangan, musuh, misi-misi anda merasakan bahwa pemain anda semakin kuat karena anda tidak menyadari bahwa pemain anda telah naik level. Dan pada level tersebut anda merasakan kemudahan dalam mengalahkan musuh musuh yang levelnya lebih rendah. Semua musuh, rintangan, misi-misi tersebut adalah masalah. Yang mana dengan melewati masalah tersebut anda mendapatkan cukup banyak pengalaman dan menjadi orang yang lebih hebat (naik level). Kemudian anda akan menyadari bahwa anda sekarang bisa melakukan beberapa hal dengan lebih mudah. Itu jika anda mampu melewati masalah tersebut. Masalah menjadikan seseorang menjadi lebih hebat dari sebelum melewati masalah tersebut. Begitu juga dengan ujian. Ujian di sekolah merupakan sarana nyata untuk naik level bagi siswa. Setelah seorang siswa lulus dari ujian maka ia dinyatakan naik tingkat. Semakin banyak ujian yang ia tempuh maka  levelnya akan semakin tinggi dan ia menjadi seseorang yang lebih baik. Coba tengok, bagaimana jika seorang doctor mengerjakan soal SMA. Jangankan mengerjakan, membuat saja ia mampu. Sedangkan dalam kehidupan nyata, yang ada bukan ujian tapi masalah.  Jika anda menghadapi masalah, ingatlah bahwa setelah anda melewati masalah tersebut maka anda akan menjadi seseorang yang lebih baik. Apa masalah anda?



Kamis, Oktober 04, 2012

Bahasa dan Sastra



Bukankah membaca karya sastra sangat menyenangkan? Senang di sini punya makna yang relatif bagi tiap-tiap penikmatnya. Boleh dibilang saya penikmat sastra namun sayangnya belum cukuplah bila disebut sebagai seorang sastrawan. Hanya sekedar menikmati. Namun menikmati belum lengkap rasanya kalau belum mampu menganalisa. Di sinilah di mana ketika analisis sastra menjadi hal penting bagi para penikmat sastra.

            Sastra adalah karya seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Berbeda sekali dengan seni musik ataupun seni lukis yang mana bahan mediumnya masih bersifat netral. Coba bandingkan, musik menggunakan suara yang masih bersifat mentah. Demikian pula lukis yang hanya terdiri dari sekumpulan warna yang juga mentah. Mentah yang saya maksud di sini adalah tidak bermakna atau membutuhkan seperangkat aturan yang bisa memberi makna yang disebut dengan konvensi. Keduanya diramu sedemikian rupa dengan konvensi-konvensi tertentu sehingga menciptakan sebuah karya yang bermakna, karya seni. Namun sastra sama sekali tidak menggunakan bahan mentah. Bahasa bukan barang mentah. Bahasa sudah mempunyai konvensi-konvensi tersendiri yang membuatnya bermakna, karena tanpa konvensi tersebut bahasa takkan bermakna. Jadi sastra berbeda dengan seni yang lain karena menggunakan bahan yang sudah bermakna. Keterangan di atas menjadikan sastra menempati second order semiotics (semiotik tingkat dua).
Berbicara analisis sastra takkan bisa lepas dari istilah semiotik, ilmu tentang tanda. Karena sastra takkan bisa mempunyai makna mendalam tanpa tanda. Seperti yang saya katakan tadi, bahwa sastra itu menggunakan bahasa yang sudah punya konvensi tersendiri sebagai bahan. Kemudian untuk merubah bahasa menjadi sastra dibutuhkan konvensi-konvensi lagi. Jadi setelah digali kemudian digali lagi. Ini yang saya sebut dengan makna mendalam dalam sastra. Tidak heran jika makna dalam bahasa(first order semiotics) disebut dengan “meaning” sedangkan dalam sastra disebut “significance”.
Gimana? Sudah cerahkah anda? Semoga ini bisa bermanfaat bagi anda para penikmat sastra.

Jumat, September 07, 2012

Jaring Raksasa











Kenapa bangsa barat begitu maju? Kenapa mereka begitu dituhankan? Bukannya kita hanya kalah start? Tentu saya yakin kalau kita juga bisa lebih maju dari mereka atau ini Cuma pemikiranku saja yang mirip lentera di antara pekatnya surya. Sia-sia. Apa yang mereka miliki selalu menjadi trendi bagi masyarakat sini sedangkan karya kawan sendiri tidak pernah begitu berarti, tetap saja terlantar dianggap hina dan keji. Berceloteh ria kita menggrangsang apa-apa yang mereka tawarkan, tertawa ria , saling berbangga-bangga memakan apa yang mereka makan. Sayangnya anak kecil tidak pernah mengerti apa sebenarnya yang mereka makan. Apakah itu bermanfaat atau tidak baginya itu urusan belakangan. Yang penting mereka merasa senang dan puas itulah prioritas terdepan. Untungnya mereka masih punya orang tua yang mau memperhatikan dan mengawasi apa-apa yang mereka kerjakan dan habiskan. Nah kalau kita? Sudah besar tapi belum dewasa. Bayi gerang yang tak tahu apa yang mereka makan dan tak pernah mau tahu karena memang sudah terlanjur gerang dan pikun.
Kekurangan bangsa ini adalah tidak pernah mau tahu mengenai apa yang kita konsumsi. Menjadi konsumen memang kodrat tapi sudah seharusnya dan sewajarnya kita memilah apa yang hendak dikonsumsi. Hewan saja tau soal ini. Lihat, apa binatang pernah mati keracunan? Kalaupun ada itu jarang sekali. Padahal mereka hidup di hutan rimba dengan beragam makanan mulai dari yang baik hingga yang berbahaya. Jika mereka memakan tanpa memilah pasti mereka sudah punah. Ada makanan yang cocok dan ada pula yang tidak cocok. Jika  makan yang cocok akan sehat dan jika makan yang tidak cocok akan sakit. Simpel kan! Sayangnya bangsa kita belum pandai memilah. Apa yang bangsa lain tawarkan pada kita selalu diterima dengan mudah. Padahal kita dan mereka jelas beda. Apa yang mereka pakai belum tentu sesuai dengan kita. Apa yang mereka makan belum tentu sesuai dengan kita. Apa yang mereka konsumsi belum tentu cocok dengan kita. Trend budaya luar begitu mudahnya disiarkan di media massa kita. Teknologi luar, hape, laptop, netbook, tab dan tetek bengeknya semudah air yang mengalir di hilir sungai. Bahkan cara berpakaianpun sek kober ditiru!Saya tidak bermaksud mengusulkan pengadaan pasal mengenai hal tersebut tapi sesuatu selalu memiliki sisi baik dan negatif tergantung dari sisi mana kita memandang. Oleh karena itu mari berpikir luas. Selama ini teknologi yang masuk belum di gunakan secara maksimal, hanya sisi negatif yang digunakan sampai-sampai warnet mendapat citra buruk di mata masyarakat. Padahal teknologi secanggih komputer, internet, tab sudah barang jelas mempunyai sisi positif yang lebar. Jadi semua bergantung bagaimana inisiatif kita dalam menggunakan sisi tersebut dan membatasi sisi yang lainnya. Salah satu contoh tindakan pembatasan tersebut adalah keputusan menteri konunikasi Juli kemarin mengenai pembatasan sms gratis dari operator seluler. Saya pikir tindakan ini merupaka upaya pembatasan dari sisi negatif media seluler tapi sayangnya hasilnya tidak terlalu terlihat dengan kata lain kurang efektif. Tapi ini sudah bagus untuk permulaan. Seharusnya pemerintah lebih berani lagi melakukan upaya-upaya seperti ini dan tidak hanya dalam beberapa sektor tapi kesemuanya guna menyaring sisi-sisi negatif yang ditinggalkan oleh produk-produk bangsa luar. Dan untuk ini pemerintah kelihatannya perlu jaring yang cukup besar.










Tidak hanya itu, salah satu yang paling mencolok adalah dunia entertainment kita. Di TV orang hebat selalu disandingkan dengan hal-hal yang berbau barat sedangkan orang kita sendiri yang berbau adat jawa selalu saja disandarkan pada hal-hal yabg buruk, miskin, merana, menderita, kelaparan, kesusahan dan sebagainya. Ini secara tidak langsung telah mendoktrin masyarakat kita untuk memandang rendah tanah kita sendiri. Tanah kita telah dianggap hina oleh pemilik tanahnya sendiri. Orang-orang selalu saja merasa risih jika mencium hal-hal tersebut. Kalau gak percaya coba kamu pakai sarung dan kopyah ke alun-alun pasti banyak yang muji nanti (ha ha). Tapi, apa yang salah dengan sarung dan kopyah? Dulu orang-orang selalu makai ini kemana-mana. Tidak sadarkah kalian bahwa apa yang kalian pakai telah membodohi kalian. Celana levis, jeans, kaos ketat ditambah lagi celana pensil yang membuatku merasa jijik tiap kali melihatnya, semua itu bukan warisan leluhur tapi budaya luar yang masuk dengan mudah dan meracuni setiap pemikiran para pemakainya. Sekali lagi, apa yang mereka pakai belum tentu sesuai dengan kita. Dan untuk yang satu ini, jaring kita harus diperlebar hingga ukuran ekstra.
Nah kalau tadi adalah yang mencolok sekarang ini adalah yang samar yang paling jarang disadari. Pernahkah anda melihat para da’i berjenggot tebal berpakaian serba putih dan memakai sorban? Tentu pernah dan saya yakin kalau anda berpikiran kalau dia adalah muslim yang hebat karena dia dari arab. Tapi bagaimana dengan ustad kita  yang pake songkok kemana-mana? Apa dengan pakaian seperti itu berarti mereka bukan Islam yang hebat? Ini yang salah dengan kita. Islam selalu disandarkan pada hal-hal yang berbau Arab. Padahal tidak seperti itu. Islam itu luas cuman karena memang awal berkembangnya adalah di bangsa arab ditambah lagi Nabi juga berasal dari Arab jadi kelihatan dari Arab. Da’i tadi adalah Islam versi arab dan Ustad tadi adalah Islam versi kita. Ya jangan kaget jika penampilannya seperti itu. Itu adalah hasil fusi dari Islam dengan jawa jadi jangan dipermasalahk bahkan menurutku justru itu yang khas. Lagi pula apalah arti penampilan. Saya sangat bangga dan kagum pada ulama Indonesia terdahulu yang bisa mengkonversi Islam menjadi sesuai dengan Jawa hingga seperti sekarang. Ini yang kusebut dengan penyaringan mutakhir. Mereka benar-benar telah berhasil menjaring budaya dari arab dan menjadikan Islam yang sesuai dengan Indonesia. Salah satu produknya adalah pesantren, barzanji, tahlilan, yasinan, istighosah, dzikrul ghofilin, adat silaturrahim pada hari raya, kue-kue seperti apem, berkat, dan istilah-istilah lainnya yang masih banyak. Namun sekarang, banyak yang tidak mengetahui hal ini bahkan dengan ketidaktahuan mereka, mereka berani menyalahkan.kebanyakan dari mereka adalah mereka yang masih terdoktrin bahwa islam itu adalah Arab. Pesanku jika anda bertemu dengan mereka yang berani menyalahkan seperti ini adalah tanyakan padanya; pintar mana antara dia dengan ulama Islam Indonesia terdahulu? Cukup itu saja selanjutnya doakan dia agar cepat mengerti dan khusnul khotimah. Banyak sekali zaman sekarang orang-orang seperti itu. Dan untuk ini kita butuh jaring yang lebih spesifik.
Jadi intinya, guna menyaring hal-hal yang telah mengotori bangsa kita dan juga menyaring bahaya-bahaya yang dimungkinkan bisa menjangkit maka diperlukanlah jaring raksasa. Banyak cara jika kita mau berpikir. Mungkin pemerintah bisa mendirikan suatu badan yang khusus mengatur dan mengelola hal tersebut atau ........(belum punya ide). Yang jelas dengan hal tersebut kita bisa membuat jaring yang cukup besar untuk menjaring semua masalah ini. Intinya jaring raksasa.

Rabu, Agustus 29, 2012

Lebaranku 2012


                Lebaran, riayan, riadin, bodo, trus apa lagi? Ya mungkin Cuma itu. Sepenggal kata yang berarti merujuk pada suatu event besar. Ku tak begitu tahu apa makna sebenarnya di balik hari besar umat Islam ini. Yang kutahu ketika di hari itu ku bisa dapat pakaian baru walau gak Cuma hari itu kupake pakaian baru, dapet uang saku walau gak semua mau ngasih apalagi dah segede ini, bisa silaturrohim sama orang-orang yang gak jarang gak tahu siapa aku. “oh Muwafiq to” tebaknya dengan sangat yakin“ senes, niku mas kulo” jawabku santai tanpa ekspresi sedikitpun “Flattt!”. Bicara soal masku, dia orang yang luar biasa, jarang yang lupa dengannya. Pulane, setiap ada yang lupa siapa aku langsung saja kujawab “adine Muwafiq” pasti langsung nyambung.  Cukup soal masku, kembali ke topik. Intinya akan kuceritakan bagaimana kumengisi lebaran tahun ini
Day one
Hari pertama tahun ini cukup berbeda dari tahun sebelumnya karena mak Nyik(mbahku) sudah pindah ke rumahku. Otomatis bukan aku yang mendatangi mereka tapi mereka yang mendatangiku karena yang paling tua sedang bersamaku saat ini. Tapi tradisi memaksaku beranjak dari dalam rumah. Dulu mas yang memulai tradisi silaturrohim ke tetangga dan guru-guru bersama misanan-misanan but cos mas dah di Mesir aku yang ngelanjutin. Daku pun menyusul mereka, mulai dari Mas Faishol karena dia sahabat dekatku sejak kecil umurnya lebih tua setahun dari aku pulane gak pernah aku manggil mas, lalu Mas Nafi’, nie yang paling tua yang udah ngempet nikah tapi alhamdulillah udah pernah gagal satu kali dan sayangnya sudah dapet rencana ma orang sumatra sekarang, juga adeknya Mas Ulil n Madhon yang menurutku keduanya sangat lugu. Perlu diketahui ketiga bersaudara ini adalah Hafidz jadi walaupun gak tamat SMA jangan diremehkan. Kemudian Mas Mail, nie teman sejawat Masku tapi nie orang agak sulit dihubungi jadi sulit untuk mengajaknya mungkin itu karena ia punya latar pendidikan yang lumayan berbeda dari yang lain biasanya Cuma masku yang bisa ngajak. Jadi lo dihitung satu, dua, tiga, empat, lima ya lima orang ini yang bareng-bareng menyisir perumahan sekitar guna silaturrohim.
Day two and three
Hari kedua masih bersama lima orang tadi tapi sasaran pada hari itu adalah Guru-guru RA dan MI. Kebetulan kami dulu sekolah di sekolah yang sama. Seperti yang saya katakan tadi, masku adalah orang yang mempelopori kegiatan silaturrohim ini gak tau idenya dari mana jadi kami terus berusaha istiqomah untuk melakukannya setiap tahun. Jarang lo yang ingat ma guru RA-nya jadi kami anggap ini sebagai sebuah anugrah. Senang rasanya melihat guru-guru senang melihat muridnya senang dan ingat silaturrohim dengan guru lamanya. “ki lo le muride bukmu seng sek ileng karo gurune” seru ibu paruh baya tersebut pada anaknya yang mencoba menelaah siapa orang-orang gondrong di depannya dengan mulut yang gak bisa tertutup. Tapi ntah kenapa walau tiap tahun datang tapi masih juga sering lupa nama-nama mereka. Alhamd bu ida, bu um, bu nur duo, bu ...., pak sapi’i, pak majadi, pak yunus semua masih sehat mungkin profesi sebagai guru telah menjadikan mereka awet muda ha ha. Tapi hari itu yang paling berkesan adalah ketika di rumah pak Umar. Ia selalu memberikan pencerahan pada kami. Kemarin ia berpesan secara tersirat pada kami bahwa sekolah di sini dan di luar sama saja yang penting bagaimana kita berjuang. Kalau masalah di sini saja belum selesai ngapain mencari masalah di luar. Itu sangat mengena padaku yang jujur waktu-waktu ini ku sangat galau pengen sekolah di luar. Kemudia juga sindirannya soal maksiat yang sdlama ini belum bisa kuhilangkan dari kebiasaan, hehe dia menyindirnya dengan ceritanya yang luar biasa padahal aku tak bercerita sedikitpun hahaha alhamd.
Day four
Nah ni hari ku agak apes. Awalnya kumau ngajak Danis temen MTs untuk Silaturrohim ke Guru-guru MTs. Tapi karena dia orangnya kreatif jadi ia punya inisiatif ngajak teman lain Ferra namanya, cukup cantik sih sekarang kuliah di UIN Jakarta tafsir hadits. Lalu Ferra ngajak Aulia yang kebetulan masih punya hubungan keluarga ma aku, yang ini lebih cantik lagi sayangnya dia kuliah di UNBRAW lo ga salah jadi ku gak bisa jamin. Terus keduanya ngajak Riski, yang ini geulis banged hehe jadi naksir tapi kayanya dia gak tertarik sama aku pake celana pula jadinya ya kucuekin aja. Nah di sinilah terbentuk muara karena ternyata mereka semua itu satu sekolah yakni MAU sedangkan aku beda sendiri dan di hari kami mau berkunjung ke Guru-guru ternyata pas bareng sama Kunjungan mereka dan aku baru tahu saat semua dah ngumpul dan nyusul Riski wah kog jadi gini!! Terpaksa aku ya ngikut saja. Yah ga papa pikirku walau aku gak kenal sama sekali sama guru-guru mereka. Jadinya sampai sore kami  muter-muter. Kenapa aku kok mau? Pikirku Cuma satu waktu itu. Budal. Ku gak tahu kaya apa nanti tapi kuyakin  ada manfaat tersendiri. Yah sukur berkat itu aku jadi sedikit tahu jalanan di Jombang karena jujur ku bukan tipe yang suka jalan-jalan. Selain itu ku juga baru tahu kalo guru-guru mereka rumahnya jauh-jauh, muter setengah Jombang. Da yang Tunggorono, Megaluh, Denanyar semua jauh.
Day five and six
Karena hari sebelumnya gagal hari ini baru mulai silaturrohim ke guru MTs. Tapi hari ini beda karena gak ngajak temen-temen Cuma dua orang aku ro Danis walaupun awalnya sempet khawatir jika mereka punya pikiran kalau kami kapok ngajak mereka tapi sudahlah jangan terlalu dipikirkan mending dua orang cowo semua yar gak ribet. Tujuan pertama bu Yana yang sukses dengan counternya. Dari situ ku baru tahu kalau bu Yana aslinya dari Ponorogo Slahung  tapi sejak kecil sudah pindah ke Jombang dan menetap di sana sampai menikah. Next Pak khoiri dan istrinya bu rahayu tapi kebetulan Pak Khoiri lagi ada pengajian jadi gak bisa ketemu. Jadi ingat dulu pak khoiri adalah guru yang uakrab sama muridnya sampai-sampai di kelas masih sempet pijet-pijetan. Dan guru-guru laenx. Capek kalau njelasin semuanya. Oh ya  lupa hari ini juga jadwal datangnya poro sedulur Surabaya dan Malang. Para pebisnis itu mereka. Banyak yang sukses dari bisnisnya. Terutama Cak udin dengan pabrik sandalnya dan cak Ta’in sang raja pulsa Indonesia. Lebaran ini ku banyak belajar dari mereka tentang bisnis walaupun mereka bukan sarjana tapi kuakui mereka hebat dalam bisnis. Memang benar kata mereka bahwa dunia perkuliahan dengan dunia kerja merupakan dua hal yang sangat berbeda.
Day seven
Ini hari ku mudik ke keluarga Ibu di Kediri, kota yang kuakui akan kecantikan gadis-gadisnya hahay.
Ya demikianlah hari lebaranku. Biasa saja. Mungkin akan lebih menarik jika aku pandai menuliskannya. Cukup bingung karena ku gak pernah nulis narasi seperti ini yah kutulis seadanya sambil ketawa ngliatin OVJ hoho. See ya!

Selasa, Juli 03, 2012

Jo Jenggong Ae Kang!


          Tatapannya terpaku kuat pada lembaran di atas meja. Ia mulai meluruskan kakinya melewati kaki-kaki meja. Sembari sesekali mengerutkan keningnya ia mulai melantangkan bacaannya. Sangat lantang hingga terdengar melewati kamar-kamar yang hanya disekat kayu triplek tersebut. Dengan sedikit bumbu di sana-sini ditambah beberapa cuil intonasi ia berhasil menaruh semua mata di sudut ruangan mengarah padanya. Tampak kalau mereka juga memegang lembaran yang sama. Suasana ujian. Pemuda kriting tersebut tak menyadari atmosfir sekitarnya yang sudah mulai memanas dan terus membaca dengan keras mengiringi angin yang berhembus melewati sela-sela jendela. Ya angin berhembus. Tampak pria di sampingnya mulai bergeming dari tempat duduknya. Ia melihat si kriting dengan tatapan sinis namun tak ada respon.
“Kang!” sontak suasanapun menjadi sunyi.
“Nggeh” jawab si kriting lirih.
“Jo jenggong ae!” sunyi dan semua melanjutkan kesibukannya masing-masing
                Tentu kita pernah menjumpai suasana seperti ini. Walaupun tidak sama persis tapi minimal ada situasi di mana anda bersama seseorang yang membaca dengan keras karena memang itu yang akan kita bahas. Membaca keras atau lantang. Ini bukan persoalan mengenai benar atau salah. Tapi ini merupakan bagaimana kita menjadi pembaca yang lebih baik yang tidak hanya sekedar  menggonggongkan tulisan.
                Pastilah kalian bisa mengingat sewaktu kalian baru mulai belajar membaca. Gurulah yang menuntun kita selama belajar membaca. Ingatkah kalian apa yang dilakukan guru untuk mengajari kita membaca? Ya, menirukan dan membaca dengan suara keras.metode ini digunakan hampir oleh semua guru dalam mengajari cara membaca. Namun sayangnya banyak yang masih membawa metode ini walaupun mereka sudah tidak dalam masa membaca. Inilah titik sumber permasalahan. Inilah di mana ketika suatu metode berubah menjadi kebiasaan.  Apa yang dipelajari semenjak masa kecil sangatlah sulit melupakannya, itu kata Bapak psikologi. Namun apa ini salah? Let’s see!
                Menggonggongkan tulisan dapat mengurangi efektivitas daya baca kita. Efektif, kinerja optimal hasil maksimal. Tidak hanya membuat kita lamban dalam membaca namun juga menurunkan kemampuan kita dalam memahami seksama makna kandungan dari teks. Cukup, singkat padat jelas.
                Lalu bagaimanakah cara membaca yang baik? Selama ini kita memahami membaca sebagai ungkapan untuk mengucapkan bacaan. Ini istilah kita dulu sewaktu masih kecil. Membaca berarti berusaha menangkap makna bacaan.   Bukan mengucapkan teks bukan pula memahami teks. Mengucapkan teks berarti hanya sekedar nyomel. Memahami teks berarti mengetahui covernya saja. Padahal tujuan utama kita membaca adalah memahami makan, pesan yang tersirat di balaik kata-kata. Jika anda memahami teks berarti anda cukup meninjau satu atau dua kata. Tapi di balik itu anda tidak akan mendapatkan makna di baliknya. Kita akan mendapatkan pesan utama ketika kita sudah selesai membaca keseluruhan teks. Hal ini sesuai dengan teori kognitif, bahwa pemahaman atau insight itu diperoleh ketika sudah terkumpul bagian-bagian yang mencukupi. Seperti halnya rasi bintang, kita tak akan mengetahui apa rasi tersebut jika salah satu bagiannya tak nampak.
                Membaca juga usaha untuk mengaitkan. Mengaitkan makna teks dengan segala pengetahuan yang relevan yang kita miliki. Coba baca satu kalimat saja dari bahasa yunani atau dari bacaan bidang-bidang yang bukan bidang anda. Bisakah anda memahaminya? Tentu tidak. Karena anda tak memiliki pengetahuan tentang bacaan tersebut. Semakin pengetahuan anda luas maka semakin mudah anda memahami makna teks tersebut. Oleh karena itu membca tidak akan bisa lepas kaitannya denga pengetahuan yang kita miliki.
                Pemahaman kita terhadap “membaca” sangat berpengaruh pada cara baca kita. Di sinilah pentingnya pengetahuan tentang definisi. Dengan memahami pengertian kita bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Membaca bukan hanya sekedar menggongkan teks yang sangat menjengkelkan. Membaca itu berusaha memahami makna yang terselubung di balik teks dengan mengerahkan segala pengetahuan yamg kita dimiliki. Saya tahu anda pembaca yang hebat yang telah mengarungi lautan samudra buku. Maka dari itu jangan sampai mensalah artikan membaca key!