Senin, Juli 02, 2012

UAS Parah



          UAS. Tahun ini UASku tak begitu lancar bahkan boleh dikata sangat parah dari suatu sisi. Berulang kali ku tak ikut mata kuliah. Tak terhitung aku menelantarkan tugas. Terlebih lagi ku pernah dikeluarkan dari kelas. Mungkin pernah terbesit di benak mereka, mengapa si penerima beasiswa malah jadi seperti ini. Berubah total dalam selang waktu yang singkat. Perubahan yang drastis! Itu yang menimpaku. Aku mulai kehilangan respect di muka teman-teman. Tapi apa ini sebuah kegagalan? Ataukah sebuah kehancuran? Dulu mereka segan padaku tapi sekarang mereka menertawakanku. Ibarat emas yang jatuh ke kubangan. Seorang akan hina untuk mengambilnya. Tapi kamu tahu, itu tetap emas. Emas yang berbaju kotoran. Tapi mereka tak mau mengambilnya. Tak mau tahu bagaimana ia bisa jatuh kekubangan. Tak mau untuk menyentuhnya. Yang mereka tahu ia sudah menjadi kotoran dan kotoran itu menjijikkan.
                Kau pikir aku bodoh. Aku tak berbuat tanpa alasan. Aku tau apa yang kuperbuat. I do because i want. Si Emas memang sengaja masuk ke kubangan, agar ia tahu rasanya jadi kotoran. Ia muak dipuji dan ia muak berada dalam kotak empuk berselimut kain sutra. Berangkat dari lumpur yang berlumurkan hinaan, ia mengerti segala pujian dulu hanya ditujukan pada kain sutranya bukan dirinya. Tapi ia belum menemukan siapa yang benar-benar mau memujinya. Wah dramatis bangeetts! Haha.
                Gak sedramatis itu kisahku aku Cuma mendramatisir. Ya kasihan juga mereka, hanya tahu apa yang kuperbuat tapi gak tahu apa di baliknya. Hanya menilai dari cover bukan isinya. Tapi emang sih mayoritas orang sekarang begitu semua. Jadi ya maklum aja. Kembali ke bahasan. Aku memang ninggalin kuliahku untuk mencoba mencari sesuatu. Sesuatu yang banyak dilupakan orang-orang. Jati diri. Wuh! Kaya di filem filem. Aku hanya mencoba untuk berbuat tanpa terikat sesuatu. Sekali lagi, berbuat tanpa terikat sesuatu. Sering dari kita terlalu terikat dengan banyak hal ketika berbuat.  Memaksa diri membeli barang karena sudah terlanjur masuk toko, alias malu padahal begitu di rumah gak tahu barangnya buat apa. Kalau aku sudah biar gak usah beli aja, gitu aja kok repot. Beli baju mahal agar kelihatan wah dan mendapat pujian. Tapi lihat kenyataannya tak ada orang yang benar-benar memuji karena bajumu kalaupun ada itu bukan memuji, itu menjilat! Belajar hanya saat UAS karena terikat dengan nilai. Ku mencoba untuk melupakan nilai. Ku berusaha belajar karena memang aku butuh dan ingin bukan karena nilai ataupun gelar.
                “Barang siapa berhijrah untuk sesuatu, maka sesuatu itulah yang akan ia dapatkan” ingat kan pesan Nabi? Ku mencari ilmu untuk mendapatkan ilmu. Jika samean cari gelar dan nilai ya terserah. Nilaiku jelek hina saja ga papa ku gak perduli. Yang penting aku dapat ilmu. Biar aku keliatan bodoh atau lain sebagainya. Biar aku diomongin segala macam aku cuek. Biar mereka tertawa. Tapi siapa yang sebenarnya tertawa? Aku gak tertawa aku hanya kasihan melihat mereka yang  terpancang oleh hal-hal yang mereka tak ketahui. Kalau dalam sponsor rokok “Escape from the ordinary” paham kan. Itu yang aku lakukan. Aku mencoba keluar dari belenggu masyarakat dan keberaturan yang menyesatkan. Aku berbeda, oleh karena itu apa yang kuperbuat juga berbeda. Aku tak mau terikat oleh sesuatu karena itu menyesatkanku. Aku mau menjadi diriku sendiri. Tanpa terikat dengan rasa malu, nilai, gelar, harta, pujian, hinaan, cemoohan, wanita, fashion, ataupun orang lain. Escape from the ordinary then be the true of yourself key!
Categories: