UAS. Tahun ini UASku tak begitu lancar bahkan boleh dikata sangat parah
dari suatu sisi. Berulang kali ku tak ikut mata kuliah. Tak terhitung aku
menelantarkan tugas. Terlebih lagi ku pernah dikeluarkan dari kelas. Mungkin pernah
terbesit di benak mereka, mengapa si penerima beasiswa malah jadi seperti ini. Berubah
total dalam selang waktu yang singkat. Perubahan yang drastis! Itu yang
menimpaku. Aku mulai kehilangan respect di muka teman-teman. Tapi apa ini
sebuah kegagalan? Ataukah sebuah kehancuran? Dulu mereka segan padaku tapi
sekarang mereka menertawakanku. Ibarat emas yang jatuh ke kubangan. Seorang
akan hina untuk mengambilnya. Tapi kamu tahu, itu tetap emas. Emas yang berbaju
kotoran. Tapi mereka tak mau mengambilnya. Tak mau tahu bagaimana ia bisa jatuh
kekubangan. Tak mau untuk menyentuhnya. Yang mereka tahu ia sudah menjadi
kotoran dan kotoran itu menjijikkan.
Kau pikir aku bodoh. Aku
tak berbuat tanpa alasan. Aku tau apa yang kuperbuat. I do because i want. Si Emas
memang sengaja masuk ke kubangan, agar ia tahu rasanya jadi kotoran. Ia muak
dipuji dan ia muak berada dalam kotak empuk berselimut kain sutra. Berangkat dari
lumpur yang berlumurkan hinaan, ia mengerti segala pujian dulu hanya ditujukan
pada kain sutranya bukan dirinya. Tapi ia belum menemukan siapa yang
benar-benar mau memujinya. Wah dramatis bangeetts! Haha.
Gak sedramatis itu
kisahku aku Cuma mendramatisir. Ya kasihan juga mereka, hanya tahu apa yang
kuperbuat tapi gak tahu apa di baliknya. Hanya menilai dari cover bukan isinya.
Tapi emang sih mayoritas orang sekarang begitu semua. Jadi ya maklum aja. Kembali
ke bahasan. Aku memang ninggalin kuliahku untuk mencoba mencari sesuatu. Sesuatu
yang banyak dilupakan orang-orang. Jati diri. Wuh! Kaya di filem filem. Aku hanya
mencoba untuk berbuat tanpa terikat sesuatu. Sekali lagi, berbuat tanpa terikat
sesuatu. Sering dari kita terlalu terikat dengan banyak hal ketika
berbuat. Memaksa diri membeli barang
karena sudah terlanjur masuk toko, alias malu padahal begitu di rumah gak tahu
barangnya buat apa. Kalau aku sudah biar gak usah beli aja, gitu aja kok repot.
Beli baju mahal agar kelihatan wah dan mendapat pujian. Tapi lihat kenyataannya
tak ada orang yang benar-benar memuji karena bajumu kalaupun ada itu bukan
memuji, itu menjilat! Belajar hanya saat UAS karena terikat dengan nilai. Ku mencoba
untuk melupakan nilai. Ku berusaha belajar karena memang aku butuh dan ingin
bukan karena nilai ataupun gelar.
“Barang siapa
berhijrah untuk sesuatu, maka sesuatu itulah yang akan ia dapatkan” ingat kan
pesan Nabi? Ku mencari ilmu untuk mendapatkan ilmu. Jika samean cari gelar dan
nilai ya terserah. Nilaiku jelek hina saja ga papa ku gak perduli. Yang penting
aku dapat ilmu. Biar aku keliatan bodoh atau lain sebagainya. Biar aku
diomongin segala macam aku cuek. Biar mereka tertawa. Tapi siapa yang
sebenarnya tertawa? Aku gak tertawa aku hanya kasihan melihat mereka yang terpancang oleh hal-hal yang mereka tak
ketahui. Kalau dalam sponsor rokok “Escape from the ordinary” paham kan. Itu yang
aku lakukan. Aku mencoba keluar dari belenggu masyarakat dan keberaturan yang
menyesatkan. Aku berbeda, oleh karena itu apa yang kuperbuat juga berbeda. Aku tak
mau terikat oleh sesuatu karena itu menyesatkanku. Aku mau menjadi diriku
sendiri. Tanpa terikat dengan rasa malu, nilai, gelar, harta, pujian, hinaan,
cemoohan, wanita, fashion, ataupun orang lain. Escape from the ordinary then be
the true of yourself key!
