"Usia 30 tahun ialah puncak masa kejayaan seseorang, karena pada usia tersebut bergabung dua unsur penting fisik yang kuat dan pengalaman yang matang". Demikianlah Pak Dahlan Iskan bertutur dalam sebuah seminar di Surabaya kemarin.
Sebuah motivasi bagi saya untuk mendongkrak mobil jurusan mimpi. Menyulut api semangat tuk terus berjuang. Karena itu saya sangat berterima kasih pada Pak Iskan yang sudi berbagi pengalamannya walau awalnya justru ia kuanggap tak lebihnya dari Pak tua peyot yang sedang menikmati kursi emasnya. Tapi nyata sekali bahwa presentasinya telah meruntuhkan persepsi bodoh tersebut. Apa yang pak tua ini sampaikan begitu mengena dengan realita konteks yang ada. Dengan gaya bicara yang lugas dan kasual membuat tiap tutur sabdanya kian deras mengalir di relung batin tiap pendengar. Sangat fantastis!
Pada kesempatan kali ini saya mengajak berbincang sedikit mengenai apa yang disebut dengan kesuksesan. Saya memang bukan anak yang paham betul apa yang disebut dengan kesuksesan karena memang jika dihitung mungkin lebih banyak gagalnya daripada suksesnya. Tapi saya hanya mencoba merenung, dan berbicara beberapa pokok persoalan yang terbangun dari apa apa yang yang telah disampaikan Pak Dahlan. Dan itu sudah nampak sejak awal paparan ini. Bagaimana kita mencapai puncak kesuksesan? ini hal pertama yang harus kita jawab bersama. Dalam hal ini, tidaklah cukup jika hanya memandang dari segi berjalannya usia saja. Tapi faktor yang mempengaruhi kesuksesan tersebut juga memerlukan telaah yang lebih dalam. Lalu apakah faktor tersebut? benar, Fisik yang kuat dan pengalaman yang mumpuni. Seorang pemuda yang fisiknya jreng mentereng kuat bekerja hingga berjam jam mentelengi pekerjaan tanpa makan tanpa minum di tengah pekatnya malam, terus tanpa mengenal istilah lelah sangatlah hebat tapi bodohnya gak ketulungan. Mengapa? Karena kerja tanpa diiringi pengalaman yang mumpuni sudah barang jelas hanya akan menghasilkan kegagalan demi kegagalan. Tapi tidak apa apa jangan berkecil hati. Bagi kamu kamu yang selama ini termasuk pemuda ganas tak berotak seperti itu ingat! masih ada masa depan. Bukankah kegagalan merupakan awal dari keberhasilan? Di sisi lain, orang tua renta bin peyot pastilah memiliki segudang pengalaman yang bejibun. Tapi tetap saja kurang mengena. Tiap kali batinnya berhasrat tuk bekerja fisiknya terus saja merengek dan meronta ronta. Jangankan untuk bekerja, wong gak tidur semalam saja udah masuk angin. Apalagi mau kerja keras banting tulang siang malam tanpa makan! bisa remuk tuh tulang.
Namun tidak demikian halnya denga usia 30 tahun. Pada usia tersebut tingkat pengalaman dam kekuatan fisik serupa dalam keseimbangan. Balance. Punya pengalaman yang matang dan fisik yang kuat. Bekerja sampai puas dengan hasil yang memuaskan pula. Terserah mau diapakan pengalaman itu, kondisi badan selalu siap untuk berperang. Tapi, ada tapinya ini. Itu hanya diperuntubagi mereka mereka yang benar benar mau berjuang selama masa transisi, sebelum usia 30. Berjuang menggali potensi diri dan mengumpulkan pengalaman sebanyak mungkin. Tapi itu terserah, itu hanyalah opsi. Bukankah hidup adalah pilihan? Pemerintah kita tentu sudah mengerti akan hal ini. Oleh karena itu dimunculkan berbagai tingkatan jenjang pendidikan sebagai wadah pendadaran sampai kita siap dan mampu menjadi "Kelas perubah sejarah Indonesia"
Sudah Siapkah anda?
